Evolusi Pakaian Kerja dari Formal ke Fleksibel
- 24 Jan 2025 22:47 WIB
- Banjarmasin
KBRN, Banjarmasin: Pakaian kerja telah mengalami transformasi besar selama beberapa dekade terakhir. Hal ini disampaikan oleh Naufal Lisna Reisya, owner LINS, dalam acara Ngobras dengan 'Evolusi Pakaian Kerja', di RRI Pro1 Banjarmasin.
“Pada periode 1960-an hingga 1980-an, budaya pop dan gerakan sosial mulai memengaruhi gaya pakaian kerja,” kata Eca, panggilan akrab Naufal Lisna Reisya, Jumat (24/1/2025).
Eca menjelaskan bahwa pada abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20, pakaian kerja cenderung sangat formal, mencerminkan profesionalisme dan hierarki organisasi. Pria mengenakan setelan jas tiga potong, dasi, dan sepatu kulit, sementara wanita memakai gaun panjang atau setelan blazer yang lebih konservatif.

Naufal Lisna Reisya (kanan) saat acara Ngobras di RRI Pro1 Banjarmasin, Jumat (24/1/2025). (Foto: Tangkapan Layar Youtube RRI Pro1 Banjarmasin)
"Kemudian pakaian semi-formal seperti blazer tanpa dasi muncul, dan wanita mulai mengenakan celana di tempat kerja, dipengaruhi oleh gelombang feminisme yang berkembang saat itu," ujarnya.
Di era digital sekarang, menurut Eca perubahan yang lebih besar terjadi dengan munculnya gaya kerja yang lebih santai dan fleksibel. Perusahaan teknologi seperti Google dan Facebook memperkenalkan budaya kerja yang lebih kasual.
Eca juga menyampaikan bahwa pakaian kerja akan datang semakin fokus pada fungsi dan kenyamanan dengan penggunaan bahan teknologi tinggi dan desain yang multifungsi. Tren keberlanjutan juga semakin mencolok, dengan pilihan material ramah lingkungan, menciptakan gaya “hybrid” (campuran) yang menggabungkan formal dan kasual untuk mencocokkan budaya kerja yang lebih fleksibel.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....