Kadam, Petani Waluh Bati-Bati Berjuang Mencapai Hasil

  • 12 Jan 2025 12:05 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Tanah Laut: Namanya Kadam, pria asal Banyuwangi Jawa Timur ini telah 25 tahun lebih menjadi warga Kalimantan Selatan. Tepatnya tinggal di Desa Nusa Indah Kecamatan Bati-Bati kabupaten Tanah Laut.

Kesehariannya Kadam sibuk mengolah lahan seluas 3 hektar miliknya dengan beragam tanaman. Salah satunya adalah tanaman labu kuning atau yang lebih dikenal masyarakat setempat dengan sebutan waluh.

"Di lahan yang saya kelola bersama anak dan istri ini ada berbagai macam tanaman, termasuk singkong, kacang panjang dan lombok. Tapi khusus tanaman waluh ini saya tanam setengah hektar, ada sekitar 600 pohon," kata pak Kadam mengawali kisahnya kepada RRI, Sabtu (11/1/2025).

Menurutnya, menanam waluh dengan usia panen 3 bulan itu dilakukan secara berkelanjutan setiap tahun. Dengan keahlian dan pengalaman yang dimiliki, Kadam lebih memilih menanam labu kuning jenis hibrida, sementara pupuknya memanfaatkan kotoran sapi miliknya yang telah dikeringkan terlebih dulu.

"Dari awal sampai sekarang saya menggunakan kotoran sapi sebagai pupuk. Secara tidak langsung ini juga bisa menekan biaya. Tapi harus dikeringkan dulu kurang lebih seminggu, kalau tidak tanaman bisa mati." Jelas, pak Kadam, menerangkan

Kadan mengungkapkan, tantangan memang seringkali tersembunyi dibalik keberhasilan bertani. Selain harus menghadapi ketidakpastian cuaca yang mempengaruhi hasil panen, petani waluh juga dihadapkan persoalan harga yang fluktuatif.

"Jika cuaca terlalu panas maka buahnya tidak terlalu besar. Selain itu pada saat hasil panen melimpah namun harga dipasar turun," ujarnya, sambil sesekali membuang daun kering tanaman waluhnya.

Dibalik tantangan yang ia hadapi sebagai petani waluh, Kadam menemukan kepuasan tersendiri terhadap pekerjaannya. Baginya bertani bukan sekedar mata pencaharian, tapi juga hobi dan bentuk cintanya kepada alam.

"Bertani juga sebagai tradisi yang telah diwarisi secara turun temurun. Kalau tidak ada petani maka tidak ada pangan, sebagaimana prinsip bertani yang diyakininya yakni 'nani niku sak itik-itik ngeratani." kata Kadam, sambil tersenyum.

Diakhir kisahnya Kadam mengungkapkan jika waluh hasil panennya dibeli oleh pedagang dari Pasar Ulin dan Sungai Tabuk. Bahkan pembelinya juga dari Pontianak dengan harga bervariasi mulai Rp9 ribu hingga Rp10 ribu per biji tergantung besar dan kecil ukuran buahnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....