Bernadya Curahkan Ketakutan tentang Cinta di Album “Semoga Hanya di Mimpi”
- 24 Jun 2026 18:24 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Bernadya merilis album penuh kedua berjudul “Semoga Hanya di Mimpi” pada 24 Juni 2026 melalui Juni Records.
- Album ini mengangkat tema ketakutan akan kebahagiaan (cherophobia) dan kecemasan dalam hubungan serta kehidupan pribadi.
- Pengerjaan album melibatkan sejumlah kolaborator baru, termasuk Enrico Octaviano, Dennis Ferdinand, Vega Antares, dan Baskara Putra.
- Secara musikal, album ini terinspirasi warna musik Indonesia era awal 2000-an dengan dominasi instrumen organik dan sentuhan elektronik.
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Penyanyi dan penulis lagu Bernadya resmi merilis album keduanya berjudul “Semoga Hanya di Mimpi” pada 24 Juni 2026 melalui Juni Records. Karya terbaru ini hadir setelah kesuksesan album debut “Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan” yang turut mengantarkannya meraih tiga penghargaan AMI Awards 2024.
Dalam album terbarunya, Bernadya mengangkat berbagai ketakutan yang muncul dalam hubungan dan kehidupan pribadi. Perasaan tersebut kemudian diterjemahkan menjadi rangkaian lagu yang menggambarkan kecemasan di balik kebahagiaan yang sedang dijalani.
Bernadya mengaku album ini lahir dari kondisi hidup yang sebenarnya berjalan normal dan baik-baik saja. Namun, di tengah ketenangan tersebut, ia justru dihantui rasa waswas bahwa sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi.
“Album ini banyak bercerita tentang cherophobia. Ketakutan akan kebahagiaan karena takut di balik kebahagiaan itu ada sesuatu yang buruk,” ujar Bernadya dalam rilis Juni Records.
Proses pengerjaan album ini melibatkan sejumlah produser dan penulis lagu baru, di antaranya Enrico Octaviano, Dennis Ferdinand, Vega Antares, serta Baskara Putra yang turut berkontribusi dalam penulisan lagu “Laut yang Tenang”. Kehadiran para kolaborator tersebut memberikan warna baru dalam proses kreatif Bernadya.

Selain itu, Rendy Pandugo dan Petra Sihombing yang telah lama bekerja bersama Bernadya kembali terlibat dalam album ini. Keduanya membantu menggarap sejumlah lagu dengan pendekatan musikal yang tetap selaras dengan identitas Bernadya.
Secara musikal, “Semoga Hanya di Mimpi” banyak terinspirasi oleh musik Indonesia era awal 2000-an dengan dominasi instrumen organik yang dipadukan sentuhan elektronik. Bernadya mengaku referensi tersebut muncul dari ketertarikannya terhadap warna musik yang populer pada periode tersebut.
Album “Semoga Hanya di Mimpi” kini sudah tersedia di berbagai platform streaming digital seperti Spotify, Apple Music, dan YouTube Music. Format fisik berupa kaset dan CD juga akan segera dirilis untuk para pendengar yang ingin mengoleksi karya terbarunya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....