Jembatan Barito dalam Nada: Potret Keindahan dan Rindu dari Tanah Banjar
- 02 Apr 2026 13:45 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Di tengah bentangan Sungai Barito yang luas dan berarus tenang, berdiri megah sebuah ikon yang tak hanya menghubungkan dua daratan, tetapi juga menyatukan rasa bangga masyarakat Banua. Jembatan Barito bukan sekadar infrastruktur, ia adalah simbol, kenangan, dan kini, inspirasi musikal yang hidup dalam lagu daerah Banjar.
Salah satu karya yang mengabadikan pesona tersebut adalah lagu “Di Jambatan Barito”, ciptaan Khairiadi Asa dan dinyanyikan oleh Peter Lantu. Lagu ini hadir sebagai bagian dari geliat musik Banjar modern yang tetap berpijak pada akar budaya lokal, namun mampu menyentuh rasa generasi masa kini.
“Lagu Di Jambatan Barito ini saya ciptakan sekitar pertengahan tahun 2021. Lagu ini terilhami dengan keindahan, keunikan jembatan Barito dan sekitarnya, untuk musiknya digarap apik oleh Hendra Cipta,” ucap Khairiadi asa. Kamis, 2 April 2026.
Dalam alunan musiknya, “Di Jambatan Barito” menurut Khairiadi Asa, tidak hanya memotret keindahan fisik jembatan yang membentang di atas sungai, tetapi juga menghadirkan suasana batin masyarakat yang lekat dengan kehidupan sungai. Ada rasa rindu, kebanggaan, hingga romantisme yang terselip dalam setiap baitnya. Jembatan menjadi metafora tentang pertemuan, perjalanan, bahkan harapan.
Bagi Khairiadi Asa, lagu ini lahir dari kedekatan emosional dengan ruang yang akrab dalam kehidupan masyarakat Banjar. Khususnya lanskap di sekitar jembatan.
“Jembatan Barito itu bukan hanya bangunan, tapi bagian dari kehidupan urang Banua. Di situ ada cerita, ada kenangan, bahkan ada rasa rindu yang sulit dijelaskan. Itu yang saya coba tuangkan dalam lagu ini,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa inspirasi lagu ini datang dari keindahan alam yang menyatu dengan struktur jembatan itu sendiri. “Lagu ini terilhami dengan keindahan, keunikan Jembatan Barito dan sekitarnya. Jadi di lokasi jembatan Barito ini sangat menarik alamnya. Hijaunya Pulau Bakut dan sekumpulan bekantan menjadi daya tarik” ucap Khairadi.

Pulau kecil yang berada di tengah bentangan sungai itu, Pulau Bakut, memang menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap Jembatan Barito. Sekaligus memperkuat daya tarik visual dan nilai ekologis kawasan tersebut.
Dengan perpaduan lirik yang puitis dan interpretasi vokal yang mendalam, lagu ini tidak hanya menjadi karya seni, tetapi juga medium pelestarian budaya. Di tengah derasnya arus musik populer, kehadiran lagu-lagu daerah seperti “Di Jambatan Barito” menjadi pengingat akan identitas bahwa di antara modernitas, masih ada ruang untuk cerita-cerita lokal yang sarat makna.
Bagi masyarakat Kalimantan Selatan, Jembatan Barito bukan hanya jalur penghubung. Ia adalah saksi perjalanan waktu dari kehidupan sungai yang sederhana hingga perkembangan kota yang kian pesat. Melalui lagu ini, kisah itu terus hidup, dinyanyikan, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pada akhirnya, “Jembatan Barito” bukan hanya tentang sebuah tempat, melainkan tentang rasa memiliki. Tentang bagaimana sebuah ruang bisa menjelma menjadi kenangan, dan bagaimana musik mampu mengabadikannya dalam nada yang tak lekang oleh waktu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....