“Uma Abah”: Doa Anak Banjar Sepanjang Zaman
- 14 Feb 2026 18:09 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID,Banjarmasin – "Hari panas manggantang. Tangah hari manggantang panasnya manggantang. Rasa rakai tulang iga sampai ka pinggang." Begitulah bait awal lagu “Uma Abah” karya maestro lagu Banjar, Anang Ardiansyah. Liriknya terdengar sederhana, namun mengguncang perasaan.
Ia tidak sekadar menyanyikan tentang panasnya siang atau derasnya hujan. Tetapi tentang perjuangan orang tua yang tak pernah berhenti demi anak-anaknya.
Dalam bait-bait itu, tergambar kehidupan masyarakat Banjar yang akrab dengan sungai, jukung, dan terik matahari. Uma tetap berdiri di bawah panas yang menyengat, sementara abah mendayung jukung di tengah arus deras, basah kedinginan, tanpa kepastian hasil. Tidak ada keluhan. Tidak ada penyesalan. Yang ada hanya tekad: mancariakan rajaki demi anak-anaknya.
Lagu ini adalah potret nyata pengorbanan orang tua. Panas manggantang dan guntur kilat basambung bukan hanya gambaran cuaca, tetapi simbol kerasnya kehidupan. Namun sehebat apa pun badai, cinta orang tua selalu lebih besar daripada rasa lelahnya.
Ratu-ai dan Raja-ai
Dalam liriknya, anak menyebut, “Uma ratu-ai, Abah raja-ai.” Sebuah ungkapan yang dalam maknanya. Orang tua dimuliakan setinggi-tingginya. Mereka bukan sekadar sosok yang melahirkan dan membesarkan, tetapi pemimpin dalam kehidupan anak-anaknya. Ratu dan raja dalam kerajaan kecil bernama keluarga.
Lagu ini mencapai puncak emosinya ketika sang anak berkata: “Uma mun bulih sakit uma ku gantiakan, Lawan sagala pahalaku. Abah mun bulih paluh abah ku gantiakan Lawan sagala amal ku.”
Betapa tulusnya doa itu. Seorang anak ingin menggantikan sakit dan lelah orang tuanya dengan seluruh pahala dan amal yang ia miliki. Ini bukan sekadar syair, melainkan jeritan hati yang penuh bakti.
Doa yang Menggetarkan Jiwa
Di bagian akhir lagu, terselip doa yang begitu dalam, “Rabbighfirli wa li wa lidayya…” Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku. Di sinilah lagu “Uma Abah” menjelma menjadi munajat. Ia bukan hanya karya seni, tetapi juga pengingat spiritual. Bahwa sekuat apa pun kita berdiri hari ini, ada doa uma di sepertiga malam, ada keringat abah yang jatuh di siang hari.
Sering kali, ketika kita telah dewasa, sibuk dengan pekerjaan dan urusan dunia, kita lupa menelpon, lupa memeluk, bahkan lupa mengucapkan terima kasih. Padahal dahulu, saat kita kecil, setiap tangis kita adalah panggilan darurat bagi mereka.
Pengingat Sepanjang Hayat
Karya Anang Ardiansyah ini bukan sekadar lagu daerah. Ia adalah cermin. Ia adalah pengingat bahwa bakti kepada orang tua tidak pernah mengenal batas waktu. Selagi uma masih bisa tersenyum dan abah masih bisa menggenggam tangan kita, jangan tunggu esok untuk berbuat baik. Karena pada akhirnya, ketika keduanya telah tiada, yang tersisa hanyalah doa dan penyesalan.
“Uma Abah” mengajarkan kita satu hal sederhana namun agung. Ridha Allah terletak pada ridha orang tua. Maka malam ini, sebelum tidur, kirimkan doa. Jika masih ada waktu, peluk mereka. Cium batis uma yang manyayangi. Cium tangan abah nang malindungi. Karena dalam setiap langkah hidup kita, ada pengorbanan mereka yang tak pernah tercatat, kecuali oleh Allah
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....