Seni Bapandung Seniman Muda

  • 07 Mar 2025 15:31 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin: Merupakan pertunjukan lisan atau tutur khas masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan, Bapandung terus dijaga keberadaannya hingga sekarang. Salah satu seniman muda itu adalah Muhammad Rifki atau akrab dipanggil Batu. Sebuah nama yang melekat hingga saat ini sejak keikutsertaannya berakting naskah Malinkundang.

Bersama Arif dan Fadil di acara Madihin Bahabar, Kamis, (6/3/2025), Batu mengungkapkan bahwa seni Bapandung baru ia tekuni sekitar 5 tahun lalu. Tepatnya saat Covid-19 melanda sehingga banyak kesenian seperti memudar karena adanya pembatasan kegiatan. Setelah tampil perdana itulah justru membuatnya semangat untuk mempelajari lebih dalam dan sering tampil diberbagai acara.

"Jika dalam seni Bakisah Bahasa Banjar sepenuhnya adalah kisah, maka seni Bapandung itu beda. Sekitar 70 persen balakon atau memerankan karakter dan 30 persennya adalah bertutur atau kisah." Ujar Muhammad Rifki

Menurutnya seni Bapandung dilatarbelakangi oleh kesenian Mamanda. Sebuah seni tradisional yang dulu tampil dengan durasi panjang, bahkan ada yang berhari-hari. Maka saat pergantian babak itulah masuk kesenian Bapandung untuk mengisi kekosongan. Bapandung juga memiliki struktur, ada yang disebut 'palayaran' sebagai pembuka, biasanya berupa pantun atau nyanyian. Dilanjutkan kisah yang meliputi isi, konflik dan klimaks cerita baru kemudian penutup.

"Seni Bapandung memang tidak jauh dari pakem tapi bisa dikreasikan. Bapandung juga tidak terbatas, bisa saja tentang mitos, sejarah, legenda termasuk juga kisah-kisah keseharian. Tapi yang diutamakan memang kisah mitos maupun legenda," katanya

Mengakhiri sajian Madihin Bahabar, sebagai generasi pecinta seni Banjar baik Batu, Fadil dan Arif mengungkapkan harapannya akan lebih banyak generasi penerus yang berminat. Bukan cuma sebagai pertunjukan hiburan saja tapi juga pesan-pesan baiknya. Kerjasama semua pihak diperlukan, termasuk pelatihan dan festival agar identitas Bapandung dan kesenian lainnya bisa terus terangkat.

"Yang kita khawatirkan adalah ada dokumentasinya tapi tidak ada lagi pemainnya. Itu sama saja ibarat tulang Dinosaurus yang ada di museum. Ada pernah hidup, kisahnya ada tetapi kita hanya melihat saja. Semoga untuk Bapandung dan juga seni khas Banjar lainnya terus diminati sekaligus mendapat apresiasi." Kata Arif

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....