Sumur Tua Lubang Buaya, Saksi Bisu Peristiwa 1965
- 30 Sep 2026 10:42 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Sumur Lubang Buaya telah ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat nasional
- Sumur tua di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, menjadi salah satu tempat yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah Indonesia pada 1965.
RRI.CO.ID. Banjarmasin - Sebuah sumur tua di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, menjadi salah satu tempat yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah Indonesia pada 1965. Sumur tersebut berada di dalam kompleks Monumen Pancasila Sakti dan menjadi lokasi ditemukannya jenazah tujuh anggota TNI yang kemudian dikenal sebagai Pahlawan Revolusi.
Menurut data Direktorat Pelindungan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Sumur Lubang Buaya telah ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat nasional melalui Surat Keputusan Nomor 75/M/2019 tertanggal 12 Maret 2019. Sumur ini berada di Kompleks Monumen Pancasila Sakti, Cipayung, Jakarta Timur.
Dalam rangkaian peristiwa Gerakan 30 September 1965, sejumlah perwira Angkatan Darat diculik dan kemudian ditemukan telah meninggal dunia. Kementerian Pertahanan Republik Indonesia mencatat bahwa pada 3 Oktober 1965, setelah memperoleh petunjuk dari Brigadir Polisi Sukitman yang berhasil meloloskan diri dari penculikan, pasukan menemukan jejak lokasi tempat para perwira tersebut dikuburkan di kawasan Lubang Buaya.
Keesokan harinya, 4 Oktober 1965, dilakukan penggalian terhadap sumur tersebut. Menurut catatan Kementerian Pertahanan RI, pengangkatan jenazah dilakukan oleh pasukan yang dipimpin Mayor Jenderal Soeharto, dengan melibatkan satuan Amfibi Korps Komando Angkatan Laut. Ketujuh jenazah kemudian berhasil dievakuasi dari dalam sumur.
Ketujuh korban tersebut adalah Letjen Ahmad Yani, Mayjen R. Suprapto, Mayjen M.T. Haryono, Mayjen S. Parman, Brigjen D.I. Pandjaitan, Brigjen Sutoyo Siswomiharjo, serta Lettu Pierre Andreas Tendean. Kementerian Pertahanan RI juga mencatat bahwa para prajurit yang melakukan pengangkatan jenazah kemudian mendapat perhatian pemerintah dalam rangka mengenang proses evakuasi para korban dari sumur Lubang Buaya.
Sejak saat itu, sumur tersebut menjadi bagian penting dari kawasan Monumen Pancasila Sakti. Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat Kompleks Monumen Pancasila Sakti sebagai cagar budaya peringkat nasional, dengan lokasi di Jalan Pondok Gede Raya, Lubang Buaya, Jakarta Timur.
Di sekitarnya berdiri kompleks museum dan monumen yang menjadi tempat masyarakat mengenang salah satu periode paling penting dalam sejarah Indonesia. Bagi generasi sekarang, keberadaan sumur tersebut bukan sekadar peninggalan fisik, tetapi juga ruang untuk mempelajari sejarah berdasarkan dokumen, kesaksian, dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Peristiwa 1965 sendiri merupakan bagian dari sejarah yang kompleks dan hingga kini masih menjadi bahan kajian para sejarawan. Karena itu, keberadaan Sumur Lubang Buaya dapat menjadi pengingat pentingnya mempelajari sejarah secara kritis, dengan membedakan fakta yang terdokumentasi dari berbagai tafsir mengenai latar belakang dan pihak-pihak yang terlibat dalam peristiwa tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....