Kisah Petani di Ujung Kota dan Cek Kesehatan Gratis yang Berarti

  • 26 Agt 2026 19:16 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Jauh dari hiruk-pikuk pusat Kota Banjarmasin, di ujung selatan yang berbatasan dengan wilayah Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar, kehidupan berjalan dengan ritme yang berbeda.

Di kawasan Mantuil, Kecamatan Banjarmasin Selatan, hamparan lahan dan tanah becek masih menjadi bagian dari keseharian sebagian warga.

Di tempat itu, tanah bukan sekadar tempat berpijak. Tanah adalah sumber penghidupan. Disini Asrani, 65 tahun, menghabiskan sebagian besar hidupnya.

"Cakk... caakkk... cakkk..."

Suara langkah kaki menyusuri tanah becek seolah menjadi penanda dimulainya hari. Terik matahari, lumpur, dan perjalanan menuju lahan sudah begitu akrab dengan tubuh lelaki tua itu.

Usianya boleh terus bertambah, tetapi semangatnya untuk bekerja belum padam. Sebelum berangkat, seperti biasa, Ia berpamitan kepada sang istri, Nafsiah.

"Bapak pamit ke sawah dulu ya. Ibu baik-baik di rumah," ucap Asrani.

Kalimat sederhana itu mungkin terdengar biasa. Namun di baliknya tersimpan rutinitas panjang seorang kepala keluarga yang sejak puluhan tahun lalu menggantungkan hidup pada tanah.

"Dari dulu saya bertani. Sampai sekarang masih saya jalani, karena ini yang saya bisa dan ini yang menghidupi keluarga," ujar Asrani, ayah dari dua orang anak.

Di tengah wajah kota yang terus berubah, pembangunan yang semakin mendekati wilayah pinggiran, serta lahan yang perlahan terdesak kebutuhan zaman, Asrani memilih bertahan.

Bukan karena hidup sebagai petani selalu mudah. Justru sebaliknya. Ada panas yang harus ditahan. Ada lumpur yang harus diinjak, tetapi tetap dipaksa bekerja karena kebutuhan keluarga tidak pernah mengenal usia.

"Kalau tidak turun ke kebun, dari mana kami mendapatkan penghasilan? Selama masih kuat, saya tetap bekerja," katanya.

Tidak ada keluhan panjang dari mulutnya. Tidak pula tuntutan yang berlebihan. Asrani hanya ingin satu hal sederhana, yakni tanah yang dirawatnya mampu memberikan hasil untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Namun, ada satu hal yang belakangan mulai menjadi perhatian, tubuhnya.

Di usia 65 tahun, bekerja di bawah terik matahari tentu bukan perkara ringan. Asrani pun menyimpan sejumlah kekhawatiran mengenai kondisi kesehatannya.

Tekanan darah tinggi dan kolesterol menjadi beberapa persoalan yang pernah menghantuinya.

Di tengah kesibukan mencari penghidupan, pemeriksaan kesehatan terkadang menjadi sesuatu yang mudah ditunda.

Sampai kemudian layanan kesehatan datang lebih dekat. Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dari Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin menjangkau kawasan tempat tinggalnya.

Bagi Asrani, kedatangan layanan kesehatan itu bukan hanya pemeriksaan. Ada rasa lega dan ketenangan, serta kesempatan untuk mengetahui kondisi tubuh tanpa harus meninggalkan terlalu jauh aktivitas yang selama ini menjadi tumpuan hidupnya.

"Saya sangat terbantu dengan adanya pemeriksaan kesehatan gratis ini. Alhamdulillah penyakit-penyakit yang saya khawatirkan juga bisa teratasi," ujar Asrani.

Bagi sebagian orang, pemeriksaan kesehatan mungkin hanyalah rutinitas. Datang, diperiksa, mendapatkan hasil, lalu pulang.

Tetapi bagi warga seperti Asrani, layanan kesehatan yang hadir lebih dekat memiliki arti yang jauh lebih besar.

Sebab, ketika penghasilan bergantung pada tenaga tubuh, kesehatan bukan sekadar persoalan kenyamanan. Tapi adalah modal.

"Umur saya sudah 65 tahun. Masih bertani, masih bekerja. Jadi kesehatan itu penting. Kalau badan sakit, kami tidak bisa bekerja," ucapnya.

Mantuil merupakan bagian selatan Kota Banjarmasin, dengan sejumlah kawasan yang berada jauh dari pusat aktivitas perkotaan.

Bagi masyarakat di wilayah seperti ini, kedekatan pelayanan dasar menjadi sangat penting. Termasuk pelayanan kesehatan.

Program CKG menjadi salah satu upaya mendekatkan pemeriksaan kesehatan kepada masyarakat.

Bukan hanya mereka yang tinggal di pusat kota, tetapi juga warga yang menjalani kehidupan di kawasan pinggiran.

Layanan tersebut dilaksanakan di seluruh puskesmas di Kota Banjarmasin, dengan salah satu fokusnya meningkatkan kualitas hidup masyarakat, termasuk kelompok lanjut usia melalui deteksi dini berbagai persoalan kesehatan.

Layanan mencakup pemeriksaan geriatri, skrining penyakit tidak menular, fungsi indera, kesehatan jiwa, hingga deteksi sejumlah penyakit seperti tuberkulosis, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), hepatitis, dan kanker tertentu.

Masyarakat dapat mengakses layanan tersebut melalui puskesmas. Pendaftaran juga dapat dilakukan melalui aplikasi SATUSEHAT Mobile maupun WhatsApp Chatbot Kementerian Kesehatan RI, dengan membawa identitas diri.

Hingga pertengahan 2026, sebanyak 46.603 warga Kota Banjarmasin telah merasakan manfaat program CKG.

Jumlah itu masih terus didorong agar semakin banyak masyarakat mendapatkan kesempatan melakukan pemeriksaan kesehatan sejak dini.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Yanuar Diansyah, mengatakan program tersebut terus berjalan meski pelaksanaannya sempat menghadapi sejumlah tantangan teknis di lapangan.

Menurutnya, berbagai kendala tersebut dapat diatasi melalui kolaborasi dengan sejumlah SKPD terkait.

"Kami terus berkomitmen mempercepat layanan screening kesehatan agar dapat menjangkau lebih banyak masyarakat di Kota Banjarmasin," ujar Yanuar.

Percepatan dilakukan dengan memperkuat layanan di fasilitas kesehatan sekaligus membangun dukungan lintas sektor.

Sebab, bagi pemerintah, CKG bukan hanya tentang memeriksa seseorang ketika sudah sakit.

Lebih jauh dari itu, pemeriksaan menjadi pintu untuk menemukan risiko penyakit sedini mungkin sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat. Dan cerita tentang kesehatan itu tidak berhenti pada Asrani.

Program CKG dirancang untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat, mulai dari lansia, orang dewasa, remaja, anak-anak, hingga balita.

Bahkan, perhatian diperluas ke lingkungan sekolah. Pemeriksaan kesehatan menyasar pelajar dari jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK sederajat hingga Sekolah Luar Biasa (SLB).

Untuk jenjang SD/MI, terdapat sekitar 328 sekolah dengan target 13.879 siswa.

Sementara jenjang SMP/MTs mencakup 100 sekolah dengan 9.397 siswa, dan SMA/SMK sederajat menyasar 63 sekolah dengan 9.660 siswa.

Pemeriksaannya pun beragam. Mulai dari status gizi, tekanan darah, kebugaran, pemeriksaan mata, hingga telinga, hidung, dan tenggorokan (THT).

Untuk siswa SMP/MTs dan SMA/SMK, pemeriksaan juga mencakup hemoglobin (Hb) untuk mendeteksi potensi anemia.

Semua dilakukan dengan satu tujuan: menemukan persoalan kesehatan sedini mungkin.

Masalah gigi dan mulut, gangguan metabolik, hingga berbagai penyakit akibat pola hidup tidak sehat bisa berkembang tanpa disadari.

Di sinilah pentingnya pemeriksaan sejak dini. Agar ketika sebuah persoalan ditemukan, masih ada waktu untuk mencegahnya sebelum terlambat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....