Tragedi Krakatau 1883: Letusan, Tsunami dan Puluhan Ribu Korban

  • 26 Agt 2026 08:43 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Pada 27 Agustus 1883, kawasan Selat Sunda diguncang salah satu letusan gunung api paling dahsyat yang pernah tercatat dalam sejarah. Gunung Krakatau melepaskan rangkaian ledakan besar yang menghancurkan sebagian besar tubuh gunung, memicu tsunami dahsyat, dan menewaskan lebih dari 36 ribu orang di pesisir Jawa dan Sumatra. Peristiwa tersebut kemudian menjadi salah satu bencana vulkanik yang paling banyak dipelajari di dunia.

Peristiwa itu sebenarnya tidak terjadi secara tiba-tiba pada 27 Agustus. Aktivitas vulkanik Krakatau telah mulai meningkat sejak 20 Mei 1883. Dalam beberapa bulan berikutnya, letusan semakin kuat hingga mencapai puncaknya pada 26 dan 27 Agustus. Smithsonian Global Volcanism Program mengklasifikasikan erupsi 1883 sebagai VEI 6, yang menunjukkan skala letusan sangat besar.

Pada 27 Agustus, terjadi serangkaian ledakan besar yang menghancurkan bagian utama pulau Krakatau. Runtuhnya tubuh gunung membentuk kaldera dan memindahkan material dalam jumlah sangat besar ke laut. Gangguan besar terhadap air laut tersebut kemudian menghasilkan tsunami yang menyapu wilayah pesisir di sekitar Selat Sunda.

Tsunami menjadi penyebab utama banyaknya korban jiwa. NOAA mencatat tsunami Krakatau mencapai sekitar 30 meter, sementara laporan lain mencatat gelombang terbesar di wilayah Banten diperkirakan mencapai sekitar 41 meter. Gelombang tersebut menghantam permukiman di pesisir Jawa dan Sumatra, menghancurkan ratusan desa dan menewaskan lebih dari 36 ribu orang.

Namun, tsunami bukan satu-satunya ancaman. Letusan juga menghasilkan awan panas atau aliran piroklastik yang bergerak melintasi laut. Smithsonian mencatat material piroklastik tersebut dapat mencapai sekitar 40 kilometer dan mencapai pesisir Sumatra. Abu vulkanik juga terlontar sangat tinggi ke atmosfer dan menyebar dalam wilayah yang sangat luas.

Dahsyatnya ledakan Krakatau bahkan terasa jauh di luar kawasan Indonesia. Suara ledakan dilaporkan terdengar dari wilayah yang sangat jauh, sementara gelombang tekanan atmosfer akibat letusan tercatat di berbagai tempat di dunia. Abu dan aerosol vulkanik yang masuk ke atmosfer juga menyebabkan perubahan warna matahari terbenam serta fenomena atmosfer lainnya selama beberapa waktu setelah letusan.

U.S, Geology Survey (USGS) memperkirakan selama sekitar 23 jam pada 26–27 Agustus, lebih dari 4 mil kubik material vulkanik terlontar dari Krakatau. Peristiwa tersebut tidak hanya mengubah bentuk pulau, tetapi juga meninggalkan dampak yang dapat diamati di berbagai belahan dunia selama bertahun-tahun setelah letusan utama.

Setelah kehancuran 1883, Krakatau tidak benar-benar mati. Aktivitas vulkanik kembali membangun sebuah kerucut gunung api baru di dalam kaldera. Gunung tersebut kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau atau "anak Krakatau". Smithsonian mencatat kemunculannya di atas permukaan laut mulai sekitar 1927, dan gunung api ini kemudian mengalami aktivitas erupsi berulang.

Peristiwa Krakatau 1883 menjadi pengingat bahwa letusan gunung api dapat menimbulkan dampak jauh lebih luas daripada sekadar aliran lava. Kombinasi ledakan, runtuhnya tubuh gunung, awan panas, material vulkanik, dan tsunami dapat menghasilkan bencana besar dalam waktu singkat. Lebih dari 140 tahun kemudian, Krakatau tetap menjadi salah satu contoh penting dalam ilmu kegunungapian dan kajian tsunami dunia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....