Lewati Titik Terendah, Kisah Tiga Peraih Beasiswa "UI, UGM, NYU"

  • 20 Agt 2026 06:57 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Jarum jam menunjuk pukul tiga dini hari ketika mata Muhammad Syafiq Akmal masih terpaku pada layar laptopnya. Dengan waktu tidur hanya tiga jam, alumnus siswa asal Banjarmasin ini terus merombak proposalnya demi sebuah pembuktian.

Di tempat terpisah, Maryam Qonita asal Kabupaten Kuningan harus menahan sakit batuk rejan yang menyiksa dadanya di tengah ruangan tes IELTS, sementara Gina Astuti asal Kabupaten Balangan menahan getir melihat layar pengumuman yang menyatakan ia gagal seleksi beasiswa untuk keempat kalinya. Namun, siapa sangka, dari titik kegagalan dan rasa keputusasaan inilah, tiket menuju kampus impian mereka Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, dan New York University bermula.

Cerita tentang peraih beasiswa sering kali dibingkai dalam narasi romantis tentang kecerdasan, deretan piala, dan tepuk tangan kebanggaan. Publik kerap hanya melihat hasil akhir: tiket pesawat ke luar negeri, jas almamater kampus top, dan senyum lebar di hari wisuda. Namun, di balik etalase kesuksesan tersebut, ada ruang-ruang gelap yang jarang disorot.

Ruang di mana keputusasaan menggerogoti rasa percaya diri. Dimana kondisi finansial mencekik leher, dan di mana kegagalan yang berulang nyaris membunuh harapan.

Bagi Syafiq, Maryam, dan Gina, beasiswa bukanlah hadiah yang jatuh dari langit. Beasiswa adalah satu-satunya sekoci penyelamat ketika hidup menenggelamkan mereka ke titik terendah. Ketiganya memiliki satu kesamaan nyata: mereka pernah hancur, terhimpit keadaan, dan nyaris menyerah.

Ini adalah rekam jejak tentang bagaimana manusia bereaksi ketika dihadapkan pada jalan buntu, dan bagaimana titik terendah justru menjadi fondasi paling kokoh untuk melompat lebih tinggi.

Muhammad Syafiq Akmal: Vonis 17,5 Juta dan Ancaman Putus Kuliah.

Syafiq adalah Awardee Beasiswa Unggulan Kemendikbudristek Tahun 2023 (Foto: Dok. Syafiq)

Tahun 2023 kala itu seharusnya menjadi momen paling membahagiakan bagi Muhammad Syafiq Akmal. Pemuda asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan ini yang baru diterima di Prodi S1 Psikologi Universitas Indonesia (UI), yang katanya salah satu kampus paling prestisius di negeri ini. Kebanggaan membuncah di dada anak sulung dari tiga bersaudara tersebut. Namun, euforia itu hancur berantakan seketika saat rincian biaya kuliah keluar.

Sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) di UI baru saja berubah. Jika angkatan sebelumnya bisa memilih skema pembiayaan, angkatan Syafiq sepenuhnya bergantung pada keputusan sistem universitas berdasarkan data finansial keluarga. Entah karena status kedua orang tuanya yang merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di daerah, atau karena algoritma perhitungan yang diduga kaku, Syafiq dijatuhi golongan UKT tertinggi.

Nominal yang tertera di layar pendaftarannya membuat darahnya berdesir: Rp 17,5 juta per semester. Bagi keluarga pejabat atau pengusaha kelas atas, angka itu mungkin sekadar biaya operasional bulanan. Namun bagi keluarga PNS biasa di daerah, angka tersebut adalah "vonis mati" secara finansial.

Syafiq didampingi Sosok Ibu, Rimalia Karim (kiri) dan teman sekelasnya (kanan). Tahun 2023 (Foto: Dok. Syafiq)

"Itu sangat besar. Saya ngerasa akan sangat susah untuk orang tua membiayai itu," ucap Syafiq dengan nada suaranya sedikit menurun saat mengenang masa-masa tersebut.

Sebagai anak sulung, Syafiq memiliki insting protektif untuk tidak membebani orang tuanya. Ia menolak menyerah pada angka tersebut. Syafiq mengumpulkan berkas-berkas tambahan, menyusun argumen, memaparkan kondisi ekonomi keluarga yang sebenarnya, dan mengajukan banding ke pihak kampus. Ia berharap birokrasi memiliki ruang untuk empati.

Kenyataannya, empati tidak berlaku di atas kertas sistem. Bandingnya ditolak. dan tagihan raksasa itu tetap berdiri tegak, menuntut untuk dibayar.

Di titik terendah itulah, Syafiq merasa punggungnya telah menempel di tembok. Ia harus mencari jalan keluar, atau mimpinya berkuliah di UI akan tamat sebelum dimulai. Di tengah kepanikan dan keputusasaan, ibu jarinya yang tanpa arah menggulir layar media sosial dan berhenti pada sebuah unggahan: pembukaan Beasiswa Unggulan dari Kemendikbudristek (sekarang nama kementerian telah berubah).

Namun, menemukan peluang bukanlah akhir dari masalah. Jalur beasiswa yang ia pilih—Jalur Prestasi—menuntut sebuah esai berat bertajuk "Kontribusiku untuk Indonesia Emas 2045". Syafiq yang jauh dari rumah, hidup sendirian di Asrama UI di Depok, kembali dihantam kenyataan pahit: ia tidak memiliki pengalaman menulis esai dan sama sekali tidak memiliki mentor.

"Saya lumayan stres mengurus datanya. Tapi yang paling susah itu esai, karena kebetulan saya jarang bikin esai. Saya lumayan kesulitan. Dan kebetulan banget di sekitar saya bukan orang-orang yang bisa bantu saya nulis esai. Saya harus belajar sendiri," ucapnya.

Dalam kesendirian yang menekan, Syafiq membedah titik terendahnya. Ia tak punya siapa-siapa untuk mengoreksi tulisannya, maka ia merenung. Ia mengaitkan cita-cita pemerintah dengan ilmu yang tengah ia pelajari, merajut masa lalunya saat mengikuti lomba debat di MAN 2 Banjarmasin sebagai sumber daya "amunisi" bahwa ia merasa punya kapasitas. Ia mulai menulisnya.

Ketika panggilan wawancara tiba, keadaannya tak kalah semrawut. Ia baru saja selesai kelas di UI, berlari pulang ke asrama, dan membuka laptop dengan napas masih tersengal.

Tanpa persiapan matang, tanpa simulasi wawancara elegan yang biasa dilakukan pelamar beasiswa lain. Ia hanya bermodal menyimak ulang rekaman video dari alumni-alumni tahun sebelumnya.

Namun, justru keterdesakan itu yang melahirkan kejujuran paling murni. Di hadapan panelis, Syafiq melepaskan semua beban.

"Saya putuskan, ya sudah, jawab saja sebisa saya. Terlepas dari urusan ekonomi, kenapa sih kita layak? Selama kita tahu apa yang ingin kita dampakkan, tetap menjadi diri sendiri," katanya.

Sebulan kemudian, tepat pukul tiga dini hari, di tengah keheningan asrama UI, sebuah email masuk. Ia lolos. Beasiswa Unggulan menutupi 100% biaya kuliahnya dan tambahan uang saku Rp 1,4 juta per bulan. Ancaman UKT Rp 17,5 juta itu hancur berkat keberaniannya melewati batas keputusasaan.

Syafiq mendapat penghargaan sebagai Mahasiwa Prestasi Terbaik Rumpun Sosial Humaniora UI Tahun 2026 (Foto: Dok. Syafiq)

Mental baja yang tertempa dari krisis UKT ini kelak membuatnya nekat mengikuti seleksi Mahasiswa Berprestasi (Mapres) UI. Merasa minder dengan anak lainnya, ia menekan dirinya hingga batas fisik—hanya tidur tiga jam sehari selama tiga hari berturut-turut, merombak proposal "Gasan Abah" (sebuah rancangan intervensi terapi menulis untuk orang-orang yang fatherless atau pengasuhan ayah dan kecemasan) sebanyak enam kali di tengah ibadah puasanya.

Pengorbanan yang nyaris tidak masuk akal itu mengantarkannya menjadi Juara 1 Mapres Rumpun Sosial Humaniora se-UI, membuktikan bahwa titik terendahnya ini sebagai cara untuk melompat ke area diri yang benar-benar berbeda.

Maryam Qonita: Isolasi Merawat Adik dan Kengerian di Ruang IELTS.

Maryam dalam kelulusannya di Newyork University tahun 2021 (foto kiri) dan awal semester tahun 2019 (kanan) | (Foto: Dok. Maryam)

Jika Kisah Syafiq dihantam krisis biaya pendidikan di awal kuliahnya, Maryam Qonita harus menghadapi ujian kehidupan yang membawanya sangat tertekan pada masa mudanya di momen-momen sebelum melamar beasiswa S2 LPDP.

Lulus dari S1 Psikologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) pada tahun 2017, Maryam muda memiliki mimpi yang menyala-nyala: terbang ke Amerika Serikat untuk melanjutkan S2.

Semasa kuliah S1, ia adalah aktivis yang sibuk berorganisasi. Namun, takdir memaksanya berhenti berlari. Adiknya jatuh sakit dan membutuhkan perawatan khusus melalui homeschooling di sebuah kontrakan di Jakarta.

Dinamika hidupnya berubah 180 derajat. Dari seorang aktivis yang lincah, ia harus mengurung diri di rumah menjadi perawat bagi sang adik. Di tengah keterasingan itulah, di sela-sela waktu menemani adiknya, jemari Maryam menjelajahi mesin pencari internet, mencari beasiswa dan konferensi internasional untuk menggapai mimpinya yang tertunda.

Ketika kondisi perlahan stabil, ia mengutarakan niat mendaftar beasiswa LPDP tujuan luar negeri kepada orang tuanya. Restu akhirnya turun. “Maryam harus bisa lulus dalam satu kali percobaan. Tidak ada waktu untuk menunda-nunda lagi,” ujar Maryam menirukan kalimat orang tuanya.

Tekanan untuk "sekali tembus" itu menjadi teror mental tersendiri. Pasalnya pintu gerbang utama menuju kampus Amerika adalah skor bahasa Inggris (IELTS). Sialnya, pada hari ujian penentuan tersebut, kesehatan Maryam kolaps. Ia diserang batuk rejan.

Maryam ketika mengikuti antrian Tes IELTS - International English Language Testing System. Tahun 2018 (Foto: Dok. Maryam)

Batuk rejan bukanlah batuk biasa. Ia adalah infeksi saluran pernapasan yang memaksa penderitanya memompa udara keluar dari paru-paru secara ekstrem. Di tengah ruangan tes IELTS yang hening, di mana setiap peserta sedang fokus pada tes Listening (Mendengarkan), Maryam harus menahan siksaan fisik yang tak tertahankan.

"Batuk rejan itu keluarnya dari paru-paru, nggak bisa ditahan. Pas bagian Listening, kita kan nggak boleh berisik di depan banyak orang. Itu bener-bener ganggu, saya nggak bisa konsentrasi sama sekali," ucap Maryam mengenangnya.

Ujian pertamanya hancur berantakan. Namun, titik krisis di ruang IELTS itu tidak menghentikannya. Berbekal izin kedua dari orang tua, ia kembali mengambil tes IELTS yang kedua dan lolos.

Akan tetapi, krisis berantai belum usai. Kelulusan IELTS yang mepet dengan deadline LPDP memaksanya menulis esai kontribusi dalam kondisi yang sangat kacau. Alih-alih di kafe yang tenang, Maryam menyelesaikan draf esainya di gudang IDP Indonesia.

"Tulisan saya masih agak berantakan. Akhirnya sambil nunggu sertifikat, saya nyari tempat colokan laptop, dan nulis esai dadakan di gudang IDP Indonesia," katanya mengenang "kegilaan" tersebut.

Antrian tes subtansi LPDP berupa wawancara tatap muka Berbahasa Indonesia dan Inggris oleh Tiga Panelis. Tahun 2018 (Foto: Dok. Maryam)

Ujian mental berikutnya terjadi saat Tes Potensi Akademik (TPA). Maryam harus mengikuti tes ini persis setelah ia mendarat dari mengikuti sebuah konferensi internasional di Kigali, Rwanda. Dalam kondisi jetlag dan kelelahan luar biasa, ia berhadapan dengan deretan soal logika yang rumit.

Alih-alih panik melihat peserta lain selesai lebih dulu, ia memilih tenang. Ketenangan itu menyelamatkannya; ia lulus dengan skor persis di angka passing grade yakni 195.

Ngebenerin satu soal gitu ya dan nilai Maryam tuh ngepas banget 195, ketika passing grade-nya memang 195. Kalau passing grade Maryam 190 kayaknya Maryam udah pasti nggak lulus sih. Jadi itu sih menurut Maryam penting... penting untuk tenang aja gitu. Jangan terlalu buru-buru ngerjain soalnya. Jadi harus tenang aja. Nggak, nggak tergoda ketika liat orang lain tuh udah selesai duluan,” ujarnya mengenang ketika menekan cancel pada detik-detik akhir menghindari terburu-buru mengakhiri tes.

Puncak dari rententan ujian tersebut justru mengubah Maryam menjadi "monster" persiapan yang “menakutkan”. Ia tidak mau lagi menyerahkan nasib pada kebetulan. Saat tahap wawancara tatap muka (seleksi substansi) LPDP tiba, Maryam melakukan persiapan yang berada di luar kebiasaan manusia pada umumnya.

Demi memastikan dirinya tidak gagal, Maryam mengetik draf kemungkinan pertanyaan dan jawaban wawancara di komputernya hingga mencapai ketebalan 40 halaman. Ia menambal semua celah logika, ia berniat memastikan argumennya solid tak tertembus.

"Saya nggak ngafalin seratus persen. Cuma biar saya nggak kehilangan poin ketika mengartikulasikan di depan panelis. Saya pastikan setiap ide saya nggak ada yang bolong logikanya," ucapnya.

Skor wawancaranya mencetak angka fantastis: 792 dari nilai maksimal 800 (99%). Sebuah hasil yang pernah membawanya terbang dan lulus dari program Master of Arts in General Psychology di Negeri Paman Sam pada tahun 2021 lalu.

Mental baja yang ditempa Maryam selama mengejar LPDP ini terbukti tidak sia-sia. Hal ini menyelamatkannya ketika badai hidup yang sesungguhnya menghantam pasca-kelulusannya dari NYU. Selama rentang tahun 2022 hingga 2025, sang ayah terserang sakit berat, memaksa Maryam menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga selama empat tahun berturut-turut untuk menghidupi rumah dan menguliahkan dua adiknya.

Tangguh tak berarti egois, badai itu menurutnya justru melembutkan hatinya untuk menerima realitas kerasnya dunia. Maryam telah mengalami perubahan pskologis dari dalam dirinya, pencerahan baru.

Didampingi Sosok Ayah dan Ibunya. Tahun 2017 (Foto: Dok. Maryam)

"Itu berat banget. Empat tahun menjadi satu-satunya yang memastikan satu keluarga itu ada yang bisa dimasak, nguliahin dua adik. Itu banyak ngasih perubahan ke Maryam. Jadi lebih tangguh, tapi juga nurunin ego kalau oh ternyata aku tuh nggak sehebat itu. Dunia itu udah keras, jadi Maryam nggak mau ikut-ikutan keras," ujar Maryam dengan suara yang menyimpan kedalaman rasa haru sekaligus keikhlasan.

Gina Astuti: Empat Kali Penolakan dan Pionir Balangan.

Gina dalam menempuh pendidikan S2 Ilmu Administrasi Publik di UGM Tahun 2025 (Foto: Dok. Gina)
Gina dalam menempuh pendidikan S2 Ilmu Administrasi Publik di UGM Tahun 2025 (Foto: Dok. Gina)

Kisah penderitaan Syafiq dan Maryam bertumpu pada kerasnya hantaman krisis di satu waktu tertentu. Namun, bagi Gina Astuti, titik terendahnya bukanlah sebuah pukulan telak sekali jadi, melainkan sayatan kegagalan yang menyiksanya berkali-kali secara perlahan.

Gina adalah potret pejuang beasiswa yang babak belur oleh penolakan. Gadis asal Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan ini bermimpi untuk bisa berkuliah S2 di Universitas Gadjah Mada (UGM) demi menjadi seorang akademisi yang ahli dalam tata kelola administrasi publik. Semasa S1, ia harus menempuh perjalanan melelahkan selama dua jam pulang-pergi dari Balangan ke STIA Amuntai setiap harinya.

Meski lulus dengan IPK 3,6 dan menyandang status mahasiswa berprestasi yang diganjar beasiswa daerah (BP03) senilai Rp 12 juta per tahun, Gina menyadari bahwa melangkah ke kancah nasional seperti beasiswa LPDP adalah dimensi yang sama sekali berbeda.

Untuk membiayai pendaftaran kampus impiannya, tes TPA Bappenas, hingga kursus dan tes TOEFL berkali-kali. Gina rela menguras tabungan pribadinya hingga jutaan rupiah dari hasil keringatnya mengelola bisnis Wedding Organizer kecil-kecilan di Balangan.

Gina (paling kiri tengah) bersama teman-temannya di UGM (Foto: Dok. Gina)

Namun, pengorbanan finansial itu rupanya belum cukup untuk membeli kelulusan. Mimpi Gina dihalangi oleh tembok tebal bernama Tes Seleksi Substansi (Wawancara) LPDP. Di sinilah mentalnya dihancurkan berkali-kali.

Pada pendaftaran pertamanya, ia nyaris gugur di Tes Bakat Skolastik (TBS) karena nilainya pas-pasan, lalu akhirnya benar-benar ditolak di tahap Tes Subtansi yang berupa Wawancara. Ia bangkit, mencoba lagi untuk kedua kalinya. Kembali ditolak di Wawancara atau Tahap Tes Subtansi.

Pantang menyerah, ia mencoba untuk ketiga kalinya. Ditolak lagi di Wawancara. Di percobaan keempat, harapan yang sudah ia bangun tinggi-tinggi kembali dihantam realitas yang sama: Tidak Lulus Wawancara.

Penolakan berturut-turut selama 2,5 tahun itu mendorong Gina ke jurang hopeless terdalam. Pertanyaan menggelitik yang mengerikan mulai menghantui kepalanya.

"Saya sempat hopeless banget. Percobaan pertama saya pikir 'Ah, kurang sedikit'. Percobaan kedua, 'Kok gagal lagi?'. Ketiga, 'Kok gagal mulu, ya?'. Pas percobaan keempat gagal, saya makin hopeless. Apa sih yang kurang dari saya?" kata Gina bercerita. Suaranya merekam jejak rasa frustrasi yang pernah nyaris menenggelamkannya.

Gina terus mencoba kelayakannya sebagai awardee LPDP sejak tahun 2023 hingga 2025 pada kali kelima baru lolos (Foto: Dok. Gina)

Mereka nggak lihat IPK, mereka nggak lihat asal kampus kita, mereka lihat apa rencana kontribusi yang ingin kita lakukan dan apa yang sudah kita lakukan untuk setidaknya daerah dan lingkungan tempat kita tinggal,” ujarnya menyemangati diri.

Ia bercerita bahwa dikala 99% orang lainnya mungkin akan menyerah pada kegagalan keempa. Gina memilih untuk menjadi bagian dari 1% yang keras kepala.

Di pendaftaran kelimanya (batch 5), Gina merombak total pendekatan mentalnya. Alih-alih menangisi asal kampusnya, ia mengevaluasi habis-habisan setiap jawaban yang pernah ia berikan. Ia membuang rasa malunya dan mulai memohon belajar dengan puluhan awardee LPDP lain di UGM yang belum ia kenal sama sekali, memohon untuk melakukan mock-up (simulasi) wawancara berulang kali.

Dan di tengah ruang Zoom seleksi wawancara kelimanya itu, Gina membawa sebuah peluru emosional yang selama ini ia lupakan: ia membawa suara dari tempat asalnya yang terpinggirkan

Di hadapan para profesor dan psikolog yang mewawancarainya, Gina menatap kamera dan melepaskan seluruh keyakinannya. "Sepanjang yang saya ketahui, sejak Kabupaten Balangan berdiri 20 tahunan lebih, belum pernah ada satupun awardee LPDP dari Balangan. Untuk level provinsi banyak, tapi Balangan kosong. Saya berharap, saya jadi orang pertama yang bisa memantik semangat anak-anak muda di sini untuk lanjut studi," ucapnya.

Ini bukanlah sekadar jawaban. Ini adalah jeritan determinasi dari seorang anak daerah yang kelelahan ditolak empat kali namun menolak untuk menyerah. Ia tidak lagi peduli dari kampus mana ia berasal; ia hanya peduli ke mana ia akan pergi dan dampak apa yang akan ia bawa pulang.

Ketulusan dan persistensi itu akhirnya menghancurkan tembok LPDP. Di percobaan kelimanya, air mata keputusasaannya berubah menjadi tangis kebahagiaan. Nama Gina Astuti akhirnya tercetak sebagai penerima beasiswa LPDP, mematahkan kutukan nol LPDP di Kabupaten Balangan, dan melangkahkan kakinya ke UGM. Dengan langkahnya ini mengawalinya menggapai cita-cita Gina jangka panjang untuk menjadi seorang Professor dan Pengusaha Sukses Bidang Event & Wedding Organizer.

Merangkul Kegagalan. Tiga manusia. Tiga latar belakang berbeda. Tiga titik terendah yang nyaris menghabisi mimpi mereka.

Syafiq membuktikan bahwa keputusasaan menghadapi jeratan finansial bisa dilawan dengan inisiatif dan keberanian menjadi otentik, meski tanpa pembimbing. Maryam memperlihatkan bahwa berkorban untuk keluarga dan dihantam penyakit saat ujian bukanlah akhir dari dunia; melainkan pemicu untuk mempersiapkan diri ribuan kali lebih keras demi memastikan takdir tak lagi punya celah untuk menggagalkannya.

Sementara Gina, menjadi monumen hidup bahwa empat penolakan brutal bukanlah tanda untuk berhenti,. Melainkan proses kalibrasi untuk menemukan jawaban paling jujur dari dalam diri.

Titik terendah bukanlah tempat untuk menetap. Ia adalah pijakan keras yang dibutuhkan seseorang untuk menendang diri mereka melambung ke atas. Seperti kutipan yang dipegang teguh oleh Gina dalam kesehariannya.

"Langkah membangun Indonesia itu tidak harus langkah yang besar, tapi langkah kecil yang dilakukan terus-menerus. Mulailah bermimpi, karena tidak ada mimpi yang terlalu besar atau terlalu kecil. Yang ada hanyalah mimpi yang diusahakan." ujarnya.

Di atas kertas tagihan jutaan rupiah, di dalam gudang yang pengap, dan di balik layar penolakan yang dingin, ketiga sosok ini telah membuktikan bahwa keajaiban beasiswa kuliah hanya datang kepada mereka yang menolak tunduk pada nasib.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....