Kalah Tetap Dapat Pelukan, Resep Mental Anak Berprestasi
- 21 Jul 2026 10:24 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Sejak usianya baru menginjak tiga tahun, langkah kaki kecil Farah Latifa Andini sudah akrab dengan hiruk-pikuk panggung perlombaan. Namun, di balik deretan trofi juara yang kini memenuhi lemarinya di usia 14 tahun, tersimpan sebuah rahasia manis.
Bukan cambukan ambisi yang membuatnya terus melangkah, melainkan sepasang lengan ibu yang selalu terbuka lebar untuk memeluknya di kala tangis kekalahan pecah. Rahasia manis itu terucap lugas dari bibirnya. "Kalau waktu kalah lomba, itu biasanya orang tua selalu ngasih support. Terus biasanya dikasih reward. Walaupun kalah, enggak apa-apa, nanti coba lagi... terus dipeluk," kata Farah dengan nada polos.
Di saat banyak anak merasa tertekan oleh ambisi orang tua untuk selalu menjadi juara pertama, siswi asal Banjarmasin ini justru dibiarkan bebas memilih jalannya sendiri. Pendekatan tanpa omelan saat gagal ini menjadi jawaban telak bagaimana pola asuh yang mengedepankan kesehatan mental sukses mencetak dirinya menjadi juara di berbagai bidang.
Remaja yang kini duduk di bangku kelas sembilan SMP ini memiliki deretan gelar yang terbilang lintas bidang dan sangat kontras. Mulai dari juara fashion show, Juara Harapan 2 Mendongeng FL2N (Festival Lomba dan Literasi Nasional), Juara 1 sekaligus peraih medali emas Pantomim, Juara 1 bapandung pada Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FTBI), hingga Juara 1 group project kategori Coding & Artificial Intelligence (Kecerdasan Artifisial) tingkat nasional di Bandung pada Desember 2025 melalui Bahasa Scratch dan Python.
"Dari belum sekolah, umur tiga tahun waktu itu (sudah) juara fashion show," ujar anak kedua dari dua bersaudara ini mengenang awal perjalanannya.
Belum lama ini, ia bahkan baru saja menyabet Juara 1 mendongeng CBP Rupiah tingkat Provinsi dari Bank Indonesia dan kini tengah bersiap menuju kancah nasional. Farah menuturkan, semua bidang yang ia geluti murni berasal dari kemauannya sendiri tanpa paksaan. Pola asuh membebaskan yang diterapkan keluarganya terbukti ampuh membentuk karakternya.

"Besar pengaruhnya, jadi bisa lebih percaya diri. Enggak takut tampil di depan banyak orang. Terus kalau misalkan kalah, ya santai saja," ucapnya.
Menariknya, pendekatan keluarga Farah ini ternyata menumbuhkan minat tersendiri di hatinya. Saat ditanya mengenai cita-citanya di masa depan, tanpa ragu Farah menjawab ingin menjadi seorang psikolog.
Cita-cita Farah dan dukungan keluarganya ini sejalan dengan pandangan dunia kesehatan mental. Tenaga Ahli Psikolog Klinis UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Banjarmasin, Aziza Fitria, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa harapan orang tua agar anak berprestasi adalah hal yang naluriah. Namun, ia mengingatkan agar arah prestasi tersebut disesuaikan dengan minat, bakat, dan keunggulan sang anak.
"Arah prestasi yang akan dicapai oleh anak itu menyesuaikan, sesuai dengan minat, bakat, dan keunggulan atau kekhasan yang ada di diri anak begitu. Bukan arahnya itu dari orang tua. Nah, konteks yang seperti itu yang sebetulnya tidak disarankan," ucap Aziza.
Ia menambahkan, memberikan pelukan dan dukungan saat anak gagal adalah respons yang sangat sehat. Menurutnya, langkah pertama yang harus dilakukan orang tua saat menghadapi kegagalan anak adalah memvalidasi perasaan kecewa mereka, kemudian memberikan apresiasi atas usaha yang telah dilakukan untuk sampai ke titik tersebut.
Mengawal proses tumbuh kembang anak multitalenta sejak usia tiga tahun tentu bukan tanpa tantangan. Ibunda Farah, Dina Sintiana, mengungkapkan bahwa putrinya kerap harus mengorbankan waktu bermain. Tantangan terberat justru sering datang dari luar, yakni cibiran atau suara sumbang dari lingkungan sekitar yang biasanya hanya menilai hasil akhir tanpa melihat proses panjangnya.

Untuk menghadapi hal tersebut, Dina selalu menanamkan mental baja kepada putrinya. "Di saat dia tertekan, kita selalu kasih support, tetap jadi diri sendiri. Enggak usah nyenggol balik orang yang nyenggol kita. Fokus saja buat tunjukkan kita layak kok. Jadikan suara-suara sumbang itu nantinya bertepuk tangan untuk kita," kata Sang Ibu.
Kolaborasi apik antara kemauan keras anak dan dukungan tanpa syarat dari orang tua ini menjadi bukti bahwa prestasi bukan sekadar hasil dari tekanan akademis. Farah pun menitipkan pesan kepada anak-anak Indonesia untuk terus berjuang. "Jangan takut gagal, berani mencoba, dan terus belajar dari pengalaman," ujarnya penuh semangat.
Senada dengan putrinya, Dina mengingatkan para orang tua untuk membiarkan anak keluar dari zona nyaman. "Terus asah diri, harus berani keluar dari zona nyaman. Gali saja terus potensi yang lain-lain, selama ini terus saja explore," ucapnya.
Sebagai catatan penting bagi para orang tua, Psikolog Klinis Aziza Fitria berpesan agar mereka selalu memastikan anak menikmati setiap prosesnya. "Pastikan setiap kegiatan, aktivitas yang dia jalani adalah aktivitas yang membuat dia enjoy dan nyaman... Karena kalau anak terlindungi, anak aman, anak bahagia, maka insyaallah bangsa kita ke depan nanti akan menjadi bangsa yang kuat," ujarnya.
Pada akhirnya, kisah Farah menuntun kita bahwa setiap anak adalah bintang di jalannya masing-masing. Pertanyaannya kini berpulang kepada kita, apakah akan terus mendikte arah langkah anak-anak, atau bersedia sekadar menjadi penerang yang memberikan pelukan hangat saat mereka tersandung di jalan yang gelap?
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....