Ironi Generasi Digital Bingung Menatap Jam Dinding Analog

  • 28 Mei 2026 08:54 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Pernahkah kalian menyadari bahwa di tengah kepraktisan zaman sekarang, hal sesederhana membaca jam dinding malah bisa menjadi tantangan baru?. Fenomena unik ini nyata terjadi akibat gaya hidup digital kita yang makin tidak bisa lepas dari smartphone.

Tanpa disadari, kebiasaan melihat segala sesuatu dalam bentuk digital perlahan mengikis kemampuan dasar untuk mengenali pergerakan jarum jam tradisional. Atau yang biasa disebut jam analog.

Hal ini diakui oleh Luky, siswa kelas 11 SMA. Ia merasa kesulitan saat harus melihat waktu dari jam dinding analog di sekolahnya akibat sudah terlampau sering mengecek angka di layar ponsel pintarnya. "Karena saya sudah terbiasa membaca jam secara digital di HP," ujarnya di Banjarmasin pada 26 Mei 2026.

Tren ini rupanya belum merata ke semua sekolah. Ipul, seorang Guru Bimbingan dan Konseling di sebuah Sekolah Madrasah Tsanawiyah (MTs) di kawasan Gambut, Kabupaten Banjar, menuturkan bahwa para siswanya belum ada yang mengeluhkan hal serupa, mengingat sekolah mereka masih setia memasang jam analog di setiap ruang kelas. Meski begitu, Ipul tidak memungkiri bahwa anak muda sekarang memang lebih menyukai kepraktisan, sehingga wajar jika mereka lebih akrab dengan tampilan digital tuturnya.

Fenomena ini bukan sekadar obrolan di tongkrongan sekolah saja, melainkan sudah menjadi perhatian serius pemerintah pusat. Hilangnya kemampuan membaca jam analog ternyata berkaitan erat dengan tantangan literasi numerasi dasar di kalangan pelajar.

Melansir dari AntaraNews - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, saat peluncuran Gerakan Numerasi Nasional di SDN Meruya Selatan 4, Jakarta Barat. Menyoroti sebagian anak muda kita memang kesulitan membaca waktu saat dihadapkan pada jarum panjang dan pendek. Menurutnya, jam dinding analog itu bukan sekadar penunjuk waktu, melainkan sarana belajar langsung untuk mengenali konsep matematika seperti angka dan sudut.

Sambutan Mendikdasmen di SDN Meruya Selatan 04 (Foto: Tagar.co/Fatoni)

"Sebagian anak-anak kita itu tidak mampu membaca jam analog, membaca jam digital itu bisa karena ada angkanya. Tetapi, ketika sudah jam analog ada jarum panjang, ada jarum pendek itu tidak semuanya bisa membaca," ucap Mendikdasmen Mu'ti di Jakarta pada 19 Agustus 2025.

Keluhan ini juga disampaikan oleh laporan Lembaga Riset YouGov PLC - Berdasarkan data riset terbaru dari lembaga ini, Agustus 2025, kelompok dewasa muda di United States yang berusia antara 18 hingga 29 tahun terlihat paling kesulitan membaca jam analog secara instan.

Hanya sekitar 43 persen dari mereka yang bisa langsung mengetahui waktu saat melihat jam dinding analog. Sisanya, sebanyak 45 persen mengaku butuh waktu beberapa detik untuk berpikir, dan sebagian kecil lainnya bahkan merasa tidak yakin.

Apabila kita bandingkan dengan kelompok usia 45 hingga 64 tahun yang 83 persennya mampu membaca secara instan, atau kelompok di atas 65 tahun yang 95 persennya ternyata tidak memiliki masalah sama sekali. Perbedaan ini sangat jelas menunjukkan bahwa kebiasaan generasi digital antargenerasi benar-benar berdampak nyata.

Kondisi serupa rupanya juga dirasakan oleh banyak pelajar di berbagai Negara lainnya. Sejak beberapa tahun lalu, efek dari ketergantungan digital ini mulai terlihat jelas ketika ponsel dijauhkan dari para siswa.

Menengok ke sudut Eropa, Negara United Kingdom, dari media The Telegraph - Pada tahun 2018, Malcolm Trobe, Wakil Sekretaris Jenderal Association of School and College Leaders (ASCL) atau perwakilan asosiasi pemimpin sekolah di sana terpaksa menyingkirkan jam dinding analog dari ruang-ruang ujian nasional. Mereka menggantinya dengan jam digital karena banyak peserta ujian yang stres dan panik akibat tidak bisa menghitung sisa waktu pengerjaan soal.

Ilustrasi siswa-siswi di luar jam belajar (Foto: Getty Images)

"Generasi saat ini tidak sebaik generasi sebelumnya dalam membaca wajah jam tradisional. Mereka terbiasa melihat representasi waktu secara digital di ponsel maupun komputer mereka," kata Trobe kepada The Telegraph pada April 2018.

Cerita menggelitik lainnya juga dilaporkan oleh media Gothamist dan The Independent yang mencatat kejadian di sekolah-sekolah New York. Sejak larangan membawa ponsel ke kelas ditegakkan secara ketat, banyak guru kebingungan karena siswanya terus-menerus bertanya mengenai waktu, padahal ada jam dinding analog berukuran besar sudah terpampang jelas di dalam kelas mereka.

"Kalimat yang terus-menerus diulang (oleh para siswa) adalah, Bu, jam berapa sekarang?" kata Maid Mornhinweg, Guru Bahasa Inggris SMA di Manhattan, New York, pada Desember 2025.

Meskipun ada rasa canggung dan kegagapan baru saat smartphone disita, langkah beberapa negara untuk membatasi layar digital di sekolah justru membawa dampak tak terduga lainnnya yakni dampak positif terasah kembali daya atensi dan daya kognitif siswa yang hilang.

Ketika aturan "diet digital” diterapkan secara ketat, seperti yang telah dipelopori oleh Negara Italy, dan menyusul negara-negara lain seperti New Zealand hingga China, dampak daya atensi para siswa perlahan kembali ke dunia nyata. Secara bawah sadar, ketiadaan gadget memaksa mereka untuk berinteraksi dengan benda-benda di sekitar mereka, termasuk keharusan mengeja kembali arah jarum jam dinding saat menghitung dikala istirahat atau ujian.

Diet digital para siswa di tiga negara (Foto: DW/The Independent)

Fenomena "buta jam dinding analog" ini secara tidak langsung seperti menjadi teguran keras bagi dunia pendidikan di era digitalisasi. Jam dinding bulat yang menggantung di atas papan tulis itu ternyata bukan sekadar barang antik peninggalan masa lalu, melainkan instrumen penting yang diam-diam melatih pemahaman visual-spasial, logika, dan literasi matematika dasar setiap harinya.

Di tengah gempuran kepraktisan teknologi, mempertahankan jam analog di ruang kelas adalah sebuah perlawanan kecil yang sebenarnya bermakna besar. Sebab, sungguh ironis jika generasi digital masa depan kita tumbuh menjadi generasi yang tahu persis detik berapa notifikasi masuk di layar, tetapi kebingungan saat mendongak ke dinding dan ditanya, "sekarang jam berapa?".

Membaca jam dinding analog adalah kecakapan hidup yang paling mendasar oleh generasi modern sebelumnya, dan jarum jam itu akan terus berdetak, entah generasi digital kita, apakah sebagian orang tertentu generasi alpha atau generasi z yang mampu membacanya atau tidak.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....