Dari Butir Padi, Petani Berdikari Jaga Keuangan menuju Tanah Suci
- 28 Apr 2026 14:08 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Di sudut sederhana Kelayan B, Banjarmasin Selatan, langkah kaki Munsi tak pernah jauh dari lumpur sawah. Pagi datang bersama embun, dan lelaki 78 tahun itu sudah lebih dulu menyingsingkan celana, menapaki tanah yang selama puluhan tahun menjadi saksi kerasnya hidup, sekaligus tempat Ia menabung harapan.
Harapan itu bukan tentang harta atau kemewahan. Munsi hanya punya satu impian: berangkat ke Tanah Suci. “Saya ini hanya petani. Setiap panen, disisihkan sedikit-sedikit. Niatnya cuma satu, bisa berhaji,” ujar Munsi, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Perjalanan itu dimulai pada 2012. Saat itu, dengan penuh perjuangan, ia berhasil mengumpulkan setoran awal sekitar Rp25 juta untuk mendaftar haji. Bukan angka kecil bagi seorang petani yang hidup dari hasil panen yang tak selalu pasti.
Namun sejak hari itu, hidup Munsi punya arah baru. Di saat musim tanam dan panen, setiap rupiah yang ia dapatkan tak pernah benar-benar habis. Sebagian Ia simpan, perlahan tapi pasti.
“Kadang hasilnya sedikit, kadang lumayan. Tapi saya tetap sisihkan. Walaupun lama, yang penting niatnya jangan putus,” katanya.

Waktu berjalan. Tahun demi tahun berlalu. Sementara usia terus bertambah, kesabaran Munsi justru semakin menguat.
Empat belas tahun Ia menunggu dan menjaga niat. Hingga akhirnya, panggilan itu benar-benar datang. Tahun 2026 atau 1447 Hijriah menjadi jawaban dari doa panjang Munsi. Ia kini tercatat sebagai salah satu jemaah calon haji embarkasi Banjarmasin yang siap berangkat ke Tanah Suci.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kota Banjarmasin, Ahmad Sya'rani, menyebut total jemaah tahun ini mencapai 717 orang dan Munsi adalah salah satunya. Di tengah ribuan cerita jemaah, kisah Munsi menjadi pengingat sederhana, bahwa ibadah haji bukan hanya soal kemampuan finansial, tapi juga tentang keteguhan hati.
“Seluruh jemaah sudah melunasi Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji sekitar Rp54 juta. Termasuk Pak Munsi yang luar biasa ini,” ujarnya.
Tahun ini, pelayanan haji mengusung semangat baru: Ramah Disabilitas, Lansia, dan Perempuan. Sebuah pendekatan yang terasa sangat relevan bagi sosok seperti Munsi. “Petugas akan mendahulukan jemaah lansia. Jalurnya berbeda, ada pintu khusus, bus khusus, hingga halte khusus,” ucap Ahmad Sya’rani.

Di tengah berbagai kekhawatiran publik soal transparansi dan keamanan dana, Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) menegaskan seluruh dana dalam kondisi aman sekaligus terus dioptimalkan untuk kepentingan jemaah. Hingga April 2026, BPKH telah menyalurkan dana haji dalam jumlah besar.
Realisasi transfer Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) sudah mencapai 70,95 persen atau sekitar Rp12,92 triliun kepada Kementerian Haji dan Umrah RI. Total dana kelolaan yang berada di bawah kendali BPKH pun tidak kecil, yakni mencapai sekitar Rp181 triliun.
Menariknya, kebijakan efisiensi yang dilakukan berdampak langsung pada biaya yang ditanggung jemaah. Untuk tahun 2026, total BPIH ditetapkan sebesar Rp87.409.366 per orang. Namun, jemaah hanya perlu membayar sekitar Rp54 juta.
Selisih biaya ditutup dari nilai manfaat hasil pengelolaan dana haji, sehingga beban jemaah bisa ditekan. Tak hanya itu, jemaah juga akan mendapatkan uang saku selama di Tanah Suci. BPKH menyiapkan living cost sebesar 750 Riyal Arab Saudi untuk kebutuhan operasional harian.
Dukungan sistem keuangan juga ikut dimainkan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menjadi salah satu tulang punggung layanan haji di Indonesia. Direktur Sales & Distribution BSI, Anton Sukarna, menegaskan kesiapan layanan mereka dalam mendukung jemaah.
“Kami optimistis jumlah nasabah tabungan haji akan terus meningkat. Apalagi sekarang diringi dengan kemudahan akses layanan digital seperti BYOND by BSI,” ujarnya.

BSI sendiri mencatat sekitar 83 persen calon jemaah haji Indonesia merupakan nasabah mereka. Hingga Februari 2026, tabungan haji di bank ini tumbuh 10,98 persen secara tahunan menjadi Rp15,47 triliun, dengan lebih dari 7 juta rekening.
Kini, Munsi tinggal menghitung hari menuju keberangkatan. Tidak ada kemewahan dalam hidupnya, tidak ada cerita besar selain kerja keras dan kesabaran.
Namun justru di situlah letak keistimewaannya. Dari lumpur sawah di Kelayan B, ia menapaki jalan panjang menuju Ka’bah.
“Saya tidak pernah menyangka bisa sampai di titik ini. Tapi saya percaya, kalau niat baik, Allah pasti bukakan jalan,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....