Kisah Sri Annisa, Srikandi Digital yang Bawa UMKM 'Naik Kelas'

  • 20 Apr 2026 01:41 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Suara lantang dan penuh semangat terdengar memenuhi sebuah ruang pelatihan. Di hadapan puluhan para pelaku UMKM, berdiri sosok perempuan muda yang dengan luwes memegang mikrofon. Senyum hangat tak pernah lepas dari wajahnya, memancarkan energi positif yang seketika menular ke seluruh ruangan, membuat para peserta begitu antusias menyimak setiap arahannya.

Perempuan enerjik itu adalah Sri Annisa. Akrab disapa Ocha, ia bukanlah sekadar anak muda biasa. Kegelisahannya melihat banyak produk lokal dengan kualitas unggulan, entah itu rasa yang lezat atau pengerjaan yang rapi, tetapi justru sepi pembeli, membuatnya tergerak untuk turun tangan.

Ocha adalah "Srikandi" asal Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Di usianya yang masih muda, keseharian Ocha (24) dipenuhi dengan rutinitas yang sangat produktif. Selain sedang menempuh pendidikan magister pada Program Studi Ilmu Komunikasi di Universitas Lambung Mangkurat, ia juga aktif bekerja di Wetland Box Incubator, Yayasan Hasnur Centre.

Alasan mengapa ia pantas dijuluki Srikandi adalah dedikasinya sebagai pahlawan di balik layar bagi para pelaku UMKM. Menjalani pekerjaannya di lembaga inkubator bisnis tersebut, Ocha berfokus memberikan pelatihan dan pendampingan bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), koperasi, serta perusahaan startup agar bisnis mereka dapat berkembang dan "naik kelas".

Ketertarikannya terhadap dunia digital marketing (pemasaran digital) bermula dari pengamatan di sekitarnya. Ia melihat banyak pelaku usaha di daerah yang memiliki produk berkualitas, tetapi kesulitan memasarkannya. Produk mereka sering kalah bersaing di pasaran, bukan karena kualitas yang buruk, melainkan karena tergagap beradaptasi dengan lajunya perkembangan ekonomi digital.

Dari situasi itulah Ocha tergerak untuk mempelajari pemasaran digital secara mandiri. Pengalaman yang paling berkesan di hidupnya adalah ketika ia melihat perubahan nyata di lapangan. Ia memberikan satu contoh sebuah UMKM di bidang makanan dan minuman (FnB) yang awalnya memiliki jangkauan penjualan sangat terbatas, perlahan mulai dikenal luas dan mengalami lonjakan omzet setelah memperbaiki strategi digitalnya.

"Dari situ saya merasa bahwa digital marketing ini bukan hanya soal jualan, tapi juga bisa menjadi jembatan agar usaha kecil bisa naik kelas," ujar Ocha haru mengenang momen tersebut ketika diwawancara oleh RRI pada Minggu 19 April 2026.

Kisah Sri Annisa, Srikandi Digital yang Bawa UMKM 'Naik Kelas'
Sri Annisa tengah memberikan arahan untuk pelaku UMKM (Foto: RRI/Dok.Ocha)

Kini, dedikasinya bermakna lebih dalam bagi kemajuan ekonomi digital. Bagi Ocha, ini bukan sekadar profesi, melainkan sebuah panggilan hati. Ia ingin melihat para pelaku UMKM berkembang, tampil lebih percaya diri, dan tangguh bersaing di era ekonomi digital.

Untuk menunjang profesionalitasnya, Ocha membekali diri dengan sertifikasi kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) di bidang Digital Marketing (pemasaran digital) sejak tahun 2023. Ilmu dan keterampilan tersertifikasi inilah yang membuatnya semakin percaya diri dalam memberikan pendampingan yang tepat sasaran.

Selama turun ke lapangan, Ocha menyadari bahwa mayoritas UMKM, terutama pemula, masih meraba-raba arah. Ada tiga tantangan utama yang sering ia temui. Pertama, minimnya pemahaman dasar tentang platform. Banyak pelaku usaha yang kebingungan memilih platform yang tepat dan cara memasarkan produk secara efektif.

Kedua, kendala dalam memproduksi konten yang konsisten dan menarik, mulai dari fotografi produk, video, hingga seni bercerita (storytelling) untuk memikat audiens. Ketiga, lemahnya identitas merek (branding). Banyak produk bagus yang belum memiliki nama, kemasan, maupun strategi penempatan pasar yang kuat.

Melihat fenomena ini, Ocha selalu menyarankan agar calon pengusaha melek digital sejak awal, bahkan sebelum produk mereka diluncurkan ke publik.

"Sekarang digital marketing itu sudah jadi kebutuhan. Dengan belajar lebih awal, pelaku UMKM bisa lebih siap menentukan target pasar, menyiapkan promosi, dan mulai membangun audiens," katanya.

Di tengah persaingan bisnis yang ketat dan menjamurnya produk serupa, kualitas barang saja tidak lagi cukup. Menurut Ocha, yang membedakan pemenang di pasar saat ini adalah cara mereka menjual cerita.

Strategi kekinian seperti live selling di shopee atau tiktok, strategi content creator atau storytelling di media sosial, hingga strategi desain packaging (kemasan) yang unik adalah senjata utama untuk membangun kedekatan emosional dengan konsumen. Karena menurutnya kreativitas adalah nyawa agar UMKM tetap bertahan.

Jam terbangnya memberikan berbagai pelatihan di penjuru Kalimantan Selatan menuntut Ocha untuk memiliki kemampuan public speaking yang mumpuni. Bagi Ocha, rasa percaya diri di atas panggung lahir dari persiapan yang matang dan pengalaman.

"Semakin kita menguasai materi dan sering tampil, rasa percaya diri akan terbentuk dengan sendirinya. Selain itu, saya selalu menanamkan bahwa saya hadir di sana bukan untuk terlihat hebat, tapi untuk berbagi dan membantu peserta," ucapnya dengan rendah hati.

Menariknya, di balik perannya sebagai seorang mentor, Ocha justru mengaku banyak belajar dari para pesertanya. Inspirasi terbesarnya lahir saat melihat daya juang para pelaku UMKM, ibu rumah tangga, hingga komunitas wirausaha, yang gigih bertahan di tengah keterbatasan modal dan alat. Semangat pantang menyerah merekalah yang terus menyalakan rasa tanggung jawab Ocha untuk terus membantu.

Menjalani peran ganda sebagai wanita karir sekaligus mahasiswi pascasarjana tentu bukan tanpa kendala. Saat ditanya mengenai kesulitan hidup yang ia hadapi, Ocha mengaku tantangan terbesarnya justru datang dari dalam diri, yakni proses menghadapi fase kehidupan yang penuh penyesuaian.

Di masa menuju dewasa, ia sempat merasa terbebani karena harus menjalani banyak peran sekaligus, kuliah dan bekerja. Dirinya merasa sering muncul rasa lelah, bingung membagi waktu, bahkan sempat mempertanyakan kemampuan diri sendiri.

Namun, alih-alih menyerah, Ocha menjadikan momen tersebut sebagai ruang untuk bertumbuh. Dirinya harus belajar untuk pelan-pelan beradaptasi, mengatur prioritas, dan tidak terlalu keras pada dirinya.

Keyakinan yang dimilikinya adalah tidak semua hal harus berjalan sesuai yang diharapkan atau menjadi sempurna. Yang terpenting baginya adalah persistensi kedepan.

Srikandi dari Amuntai ini berharap masyarakat, khususnya di daerah, berani mengambil peluang di ruang digital tanpa rasa takut tertinggal, karena setiap orang memiliki garis waktu dan prosesnya masing-masing.

"Karena di zaman sekarang, siapa pun punya kesempatan untuk berkembang, asalkan mau berusaha dan beradaptasi. Saya berharap UMKM kita bisa mendapatkan panggung yang sama untuk tumbuh dan dikenal lebih luas, karena potensi yang kita miliki sebenarnya sangat besar," ujar Ocha penuh semangat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....