Andi-andi, Warisan Lisan Dayak Maratus yang Kian Tergerus Zaman

  • 09 Apr 2026 06:57 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Malam merambat pelan di kaki Pegunungan Meratus, hujan baru saja usai, menyisakan tetesan yang jatuh satu-satu dari atap daun rumbia seperti waktu yang enggan benar-benar pergi. Udara dingin memeluk tubuh, menyusup hingga ke sela-sela tulang. Di dalam rumah sederhana, tak ada cahaya lampu pijar. Hanya lampu minyak yang berkedip kecil, seolah menjaga api ingatan agar tidak padam.

Kami duduk bersila di ruang tamu yang lantainya dingin. Di hadapan kami, Sunyip, wanita separuh baya dengan balutan baju sederhana, kain tapih yang dililit rapi, dan penutup kepala yang menyimpan jejak usia mulai membuka pintu masa lalu. Suaranya rendah, namun mengandung gema panjang, seperti berasal dari dalam hutan yang lebat.

Dari mulutnya mengalir kisah tentang Bungsu Kaling, seorang kesatria dari kerajaan Gunung Kaling, sebuah dunia yang tak tercatat dalam buku sejarah, tetapi hidup dalam ingatan kolektif masyarakat adat Dayak di wilayah Paramasan Bawah. Di sana, di antara rimbun pepohonan dan kabut yang menggantung rendah, legenda bukan sekadar cerita, ia adalah napas yang diwariskan.

“Andi-andi ini biasanya diceritakan saat malam hari, saat aruh atau saat manugal di ladang,” ucap Sunyip, mulai menceritakan tentang Andi-andi kepada RRI Banjarmasin, matanya menerawang jauh, seolah menyaksikan kembali masa ketika cerita-cerita itu menjadi denyut kehidupan.

Dalam setiap jeda ucapannya, terdengar serangga malam bersahutan, ritme alam yang setia menjadi musik pengiring. Kata demi kata yang dilantunkannya tidak sekadar dituturkan, melainkan dihidupkan. Bungsu Kaling hadir di ruang itu dengan pedang yang berkilau, langkah yang tegap, dan sumpah yang menggema di antara lembah dan gunung.

Namun di balik keindahan tutur itu, terselip kegelisahan yang tak bisa disembunyikan.

“Sekarang anak-anak sudah jarang yang mau belajar andi-andi. Mereka lebih tertarik menonton drakor atau TikTok.” Ucap Sunyip lirih.

Kalimat itu jatuh seperti embun yang dingin, menandai jarak antara masa lalu dan masa kini. Di tengah derasnya arus informasi yang mengalir tanpa henti, sastra lisan seperti andi-andi perlahan tergerus bukan karena kehilangan makna, tetapi karena kehilangan pendengar.

Kegelisahan itu bukan hanya milik Sunyip. Di Balai Induk Bancing, suara serupa juga datang dari Kudek. Kepala Adat yang menjadi penjaga ingatan kolektif masyarakat.

“Jadi andi-andi itu turun temurun dari datu nini moyang sampai sekarang tidak putus. Cerita andi-andi ini biasanya diceritakan saat musik mengatam,” ujarnya pelan, seolah setiap kata adalah warisan yang harus dijaga agar tidak terjatuh.

Bagi masyarakat adat di Pegunungan Meratus, andi-andi bukan sekadar hiburan. Ia adalah jembatan antara manusia dan leluhur, antara masa kini dan masa yang telah lama berlalu. Dalam setiap kisah, tersimpan nasihat, nilai kehidupan, hingga cara memandang alam sebagai bagian dari diri.

Namun kini, makna itu mulai bergeser. Andi-andi kerap hanya dianggap sebagai pengisi waktu saat panen, sekadar penghilang penat setelah bekerja di ladang. Ia hadir, tetapi tak lagi sepenuhnya dipahami.

Padahal, di dalamnya tersimpan pelajaran tentang keberanian, kesetiaan, hingga keseimbangan hidup. Cerita-cerita itu adalah cara leluhur berbicara kepada generasi yang belum lahir, sebuah bahasa yang tidak membutuhkan tulisan, hanya kesediaan untuk mendengar.

“Kalau anak muda saat ini banyak yang tidak tahu, termasuk meniup sarunai, memukul gendang. Bahkan saat ritual aruh ini akan punah, Pak, bila tidak ada anak muda yang mau belajar dan mengerti,” ucap Kudek.

Tatapannya kosong, seolah melihat sesuatu yang perlahan menjauh tradisi yang dulu hidup kini berdiri di ambang senyap. Malam semakin larut. Lampu minyak mulai meredup, tetapi suara Sunyip tetap mengalir, mengikat waktu agar tidak tercerai.

Di luar, sisa hujan kembali jatuh perlahan, seperti langkah kenangan yang tak ingin benar-benar pergi. "Kami yang mendengarkan hanyut bukan hanya dalam cerita, tetapi dalam kesadaran bahwa yang sedang kami saksikan bukan sekadar tuturan, melainkan sebuah warisan yang rapuh," katanya.

Sastra lisan seperti andi-andi hidup dari ingatan dan suara. Ia tidak ditulis di atas kertas, tidak disimpan dalam layar. Ia bernafas melalui manusia. Dan ketika tak ada lagi yang mau mendengar atau lebih sunyi lagi, tak ada yang mampu menuturkan maka satu dunia akan hilang, bukan dengan suara, tetapi dengan diam yang panjang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....