Kisah Ramadan, Satu Bulan Menjaga Tradisi Ngaji Pagi di Kelayan Selatan

  • 20 Mar 2026 18:25 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Ramadan 1447 Hijriah kini bersiap menutup kisahnya setelah sebulan penuh mengisi sudut-sudut Kota Banjarmasin dengan berbagai semarak kegiatan. Masjid-masjid mulai lengang dari jemaah tarawih, sementara keramaian pasar takjil kini berganti dengan gema takbir yang saling bersahutan.

Selama sebulan terakhir, salah satu kesemarakan Ramadan yang rutin terlihat adalah gambaran anak-anak yang mengaji di TPA Al-Inayah setiap selesai subuh. Tradisi tahunan ini ternyata sudah berjalan selama dua puluh tahun di wilayah Kelayan Selatan.

"Tradisi ngaji pagi ini sudah kami laksanakan secara rutin setiap tahunnya, sejak sekitar 20 tahun yang lalu. Salah satu tujuannya untuk melatih disiplin selama Ramadan," ujar Kepala Unit TPA Al-Inayah, Juairiah.

Menurut Juairiah, kegiatan ini tetap bertahan karena dukungan penuh dari para orang tua yang selalu mengantarkan anaknya mengaji saat pagi-pagi buta. Ia merasa senang melihat semangat para orang tua dan santri tidak luntur meskipun zaman sudah banyak berubah.

Keberlangsungan tradisi ini juga tidak lepas dari cara pengelola mengemas suasana belajar agar tetap menarik bagi anak-anak. Pihak TPA menyadari bahwa menjaga fokus santri di jam-jam rawan kantuk memerlukan pendekatan yang tidak membosankan.

Oleh karena itu, pelajaran di TPA Al-Inayah tahun ini sengaja dibuat lebih banyak praktik agar para santri tidak cepat merasa jenuh. Salah seorang pengajar, Ustaz Anang, menyebut para pengajar lebih banyak mengajak para santri mempraktikkan langsung cara ibadah yang sering dilakukan sehari-hari.

"Salah satu materi yang kami tekankan sekali adalah perihal salat. Kami ingin anak-anak tidak hanya mahir membaca Quran saja, tetapi juga mahir mengamalkannya," katanya.

Materi yang diajarkan mulai dari cara wudu yang benar hingga praktik salat berjemaah menjadi menu utama pembelajaran tiap paginya. Lewat kurikulum praktis ini, anak-anak diharapkan memiliki bekal agama yang kuat untuk masa depan mereka.

Setelah mendapatkan teori dan praktik ibadah, para santri biasanya langsung bersiap untuk melanjutkan aktivitas harian mereka. Rutinitas yang padat ini menjadi tantangan tersendiri yang harus dihadapi oleh para santri setiap harinya.

Meski demikian, semangat para santri untuk ikut mengaji tetap tinggi meskipun mereka harus pintar membagi waktu dengan jadwal sekolah. Salah seorang santriwati, Rahimah, menceritakan dirinya sempat kesulitan menahan kantuk karena harus bangun sahur dan bergegas bersiap mengaji paginya.

"Senang karena kita belajar banyak, dari soal salat, mengaji, dan menghafal juga. Walaupun kadang-kadang harus menahan ngantuk," katanya.

Lain lagi cerita dari Cahaya, ia seringkali harus kejar-kejaran dengan waktu agar tidak telat masuk sekolah usai mengaji. Biasanya ia langsung berganti seragam sekolah sesaat setelah kelas mengaji di TPA selesai saat matahari baru muncul.

"Biasanya dari sini langsung ganti baju terus berangkat sekolah. Walaupun kadang capek, tapi senang," ujar Cahaya.

Meski jadwalnya cukup padat, anak-anak ini mengaku senang bisa mengisi bulan puasa dengan kegiatan yang bermanfaat. Pengalaman mengaji di waktu subuh tersebut ternyata sangat membantu mereka saat ada pelajaran agama di sekolah masing-masing.

Di balik semangat itu, tentu saja dukungan dari orang tua menjadi kunci utama para santri ini bisa rajin bangun pagi setiap harinya. Sebagian besar orang tua santri yang menitipkan anaknya untuk belajar di TPA ini percaya pendidikan agama sangat penting sebagai pegangan hidup anak di masa depan.

"Bagi saya pendidikan agama itu harus, tidak hanya pendidikan formal. Dan senangnya anak-anak saya juga antusias," ujar salah seorang wali santri, Thaibah.

Meskipun ia harus sedia meluangkan waktu setiap paginya untuk mengantarkan anaknya ke TPA sebelum dirinya sendiri bergegas untuk berangkat bekerja. Baginya, momen repot mengantar anak di saat fajar inilah yang membuat Ramadan terasa jauh lebih berkesan.

"Anak-anak sering mengeluh ngantuk atau lelah. Tapi mungkin karena mereka senang juga belajar dan kita selalu menyemangati, jadi semuanya terlewati saja," ucapnya.

Perjuangan para orang tua dan santri ini rupanya mendapat perhatian tersendiri dari pihak sekolah formal di lingkungan tersebut. Kepala SDN Kelayan Selatan 3, Retno Lestari, melihat anak-anak yang rajin mengaji di TPA jadi lebih disiplin saat di dalam kelas.

"Tradisi ini harus terus didukung karena sangat membantu pembentukan karakter. Kami di sekolah pun menyesuaikan jadwal agar kegiatan agama anak-anak tetap lancar," ujarnya.

Retno mengatakan sekolah sengaja mengatur jam masuk agar para siswa tidak merasa terbebani urusan pelajaran setelah pulang mengaji. Kerjasama yang baik antara sekolah dan TPA ini pun berhasil membuat pendidikan karakter anak-anak di wilayah tersebut jadi lebih maksimal selama Ramadan.

Kini, saat Ramadan hampir berlalu dan Lebaran sudah di depan mata, tradisi ngaji pagi di TPA Al-Inayah akan tetap menjadi ciri khas yang akan mewarnai Ramadan setiap tahunnya. Suara riuh anak-anak mengaji di pagi hari akan terus menjadi momen yang ditunggu-tunggu warga Kelayan Selatan setiap Ramadan tiba.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....