Festival Manopeng: Warisan Terus Menari di Kampung Banyiur
- 12 Jul 2025 08:12 WIB
- Banjarmasin
KBRN, Banjarmasin: Di tepian Sungai Barito, di tengah deru peradaban modern, denyut tradisi masih berdetak hangat di Kampung Banyiur Luar, Basirih. Jumat (11/7/2025) sore, suasana berubah syahdu ketika warga berkumpul, lampu-lampu dinyalakan, dan irama rabab serta tabuhan gamelan mulai menggema. Festival Manopeng resmi dibuka.
Wali Kota Banjarmasin, H. M Yamin HR, hadir langsung membuka pagelaran budaya yang akan berlangsung selama tiga hari, 11–13 Juli 2025. Dalam sambutannya, Yamin tak sekadar menyapa warga, tapi menyelami makna yang lebih dalam dari peristiwa budaya yang digelar saban malam Senin di bulan Muharam itu.
“Ini adalah sejarah yang hidup. Di tengah era digital seperti sekarang, kita patut bangga karena masih memiliki akar budaya yang kuat dan menjadi ciri khas daerah kita,” kata Yamin penuh haru.
Manopeng bukanlah sekadar pertunjukan seni. Ia adalah narasi panjang masyarakat Banjar, ungkapan syukur atas hasil bumi, dan ruang silaturahmi yang mengikat antar-generasi.
Tradisi ini telah diwariskan turun-temurun, sejak masa Datu Mahbud, tokoh masyarakat Banjar zaman dahulu dan tetap lestari hingga kini, berkat semangat warga serta dedikasi tokoh-tokoh pelestari budaya.
Salah satu sosok sentral dalam upaya itu adalah Ferdi Irawan. Budayawan muda yang sejak usia belia telah akrab dengan topeng tua, keris leluhur, hingga alunan rabab yang kini nyaris langka.
Ferdi bukan nama asing di kancah budaya nasional. Ia adalah penerima Anugerah Kebudayaan dari Kemendikbud RI tahun 2020, sekaligus penjaga koleksi pusaka budaya Kampung Banyiur yang telah berusia ratusan tahun.
“Ferdi Irawan adalah contoh nyata bagaimana generasi muda bisa menjadi pelestari warisan budaya. Kita perlu dukung lebih banyak Ferdi-Ferdi lainnya agar warisan ini tidak hanya dikenang, tetapi juga terus hidup dan berkembang,” ujar Wali Kota Yamin, menyiratkan optimisme.
Festival Manopeng tahun ini menghadirkan berbagai pertunjukan khas. Mulai dari Japin Carita, ritual Bajapanan sambil menggendong anak, hingga prosesi sakral yang melibatkan jukung-jukung dan warga lintas usia.
Bagi warga Kampung Banyiur, ini bukan sekadar festival, tapi juga ruang untuk mengenang leluhur, menyatukan keluarga, dan menegaskan identitas Banjar di tengah arus perubahan zaman.
Tak hanya itu, momentum festival juga dimanfaatkan sebagai forum dialog pembangunan. Dalam pidatonya, Wali Kota Yamin menyampaikan terima kasih atas aspirasi warga terkait pembangunan dermaga seni dan tempat latihan budaya.
“Semoga Kampung Banyiur dapat terus menjadi inspirasi, tidak hanya sebagai penjaga budaya, tetapi juga sebagai wajah Banjarmasin yang sarat makna dan jati diri,” ujarnya.
Kini, Festival Manopeng tak hanya menjadi bagian dari kalender budaya lokal, tapi juga simbol harapan: bahwa di sudut-sudut kota yang tenang, akar budaya masih tumbuh, dijaga oleh tangan-tangan penuh cinta — dan dihidupkan oleh generasi muda yang tak lupa pada jejak nenek moyangnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....