Merawat Warisan Leluhur: Ritual Pembersihan Rupang Jelang Imlek
- 24 Jan 2025 14:43 WIB
- Banjarmasin
KBRN, Banjarmasin: Menyambut perayaan Tahun Baru Imlek 2576, ritual yang sarat akan tradisi kembali dilaksanakan di Klenteng Soetji Noerani, Banjarmasin. Sebagai bagian dari rangkaian perayaan Imlek, umat Tionghoa di kota ini menggelar ritual memandikan patung Dewa atau rupang sebagai simbol penyucian dan doa untuk keberkahan di tahun shio ular berelemen kayu.
Ritual memandikan rupang di klenteng ini adalah sebuah tradisi penting yang dipercaya dapat mendatangkan keberuntungan dan mengusir nasib buruk. Satu persatu, patung-patung dewa yang ada di klenteng, seperti Dewa Kwan Kong dan Dewi Kwan Im, dibersihkan dengan air bunga yang telah diberkati. Proses ini dianggap sebagai bentuk penghormatan dan pengharapan agar Tuhan memberikan berkah di tahun yang baru.
Santo, Umat Buddha menjelaskan, makna dibalik bersih-bersih rupang. Pada momen ini, semua Dewa naik ke langit untuk menyampaikan seluruh perbuatan umat kepada tahun. Kemudian, saat tahun baru imlek, para dewa akan kembali turun ke bumi.
“Mumpung para Dewa naik ke langit, maka kita membersihkan rupang. Kalau hari biasa tidak boleh,” katanya, ditemui RRI saat tengah membersihkan Rupang, Kamis (23/1/2025).

Hal senada diutarakan Sintia Kololin, Umat Buddha lainnya. Setelah tahun baru imlek, para Ummat Buddha akan melakukan Sembahyang Tuhan. Tepat pukul 00.00 malam, mereka akan mengucapkan syukur, karena telah diberkati dan terhindar dari musibah selama satu tahun. Selanjutnya, pasca cap go meh, ritual kembali dilakukan untuk meminta umur yang panjang dan lainnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Klenteng Soetji Noerani, Johan Yawono menuturkan pembersihan yang dilakukan setiap satu pekan menjelang Imlek. Dalam kepercayaan mereka, pada waktu para dewa sedang naik kelangit, sehingga rupang dalam keadaan kosong.
"Ini sesuai kepercayaan kita, bahwa pada waktu ini para dewa sedang naik kelangit. Jadi arca atau patung dewa ini dalam keadaan kosong, sehingga kami melakukan pembersihan setiap arca dan patung dewa yang ada," ucapnya.
Pembersihan ini pun memiliki makna tersendiri. Dimana menurut kepercayaan orang tionghoa dengan kondisi rupang yang baru dibersihkan, mencerminkan semangat baru. Dalam prosesnya, pembersihan patung di Klenteng Soetji Noerani juga memadupadankan budaya lokal. Yakni menggunakan air yang dicampur dengan air kembang 7 rupa.
"Jadi ini adalah salah satu percampuran antara budaya lokal dan budaya Tionghoa," katanya.
Ritual memandikan patung dewa di Klenteng Soetji Noerani ini tidak hanya sekadar kegiatan keagamaan, tetapi juga sebuah sarana bagi umat untuk meneguhkan kembali keyakinan mereka akan kekuatan doa dan semangat persatuan. Bagi masyarakat Tionghoa, Tahun Baru Imlek adalah momen yang tepat untuk memulai lembaran baru dengan semangat positif, dan tradisi ini semakin mengukuhkan rasa harapan yang besar terhadap masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....