Kuasai Enam Bahasa: Motivasi dan Tantangan Hidup Polyglot Fara

  • 07 Nov 2024 09:31 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin: Fara (26) adalah seorang pekerja migran dari Indonesia yang bekerja di Hongkong, Daerah Kenswood Court, Distric Yuen Long. Dia juga penerima beasiswa student exchange yang menjalani studi di dua Universitas di China, Shanghai Jiao Tong University Program Physics, Politics & Law. Serta di Chongqin Medical University Program Psychology. Fara saat ini aktif sebagai mahasiswi Universitas Terbuka Indonesia Program Studi Manajemen dan Universitas Siber Muhammadiyah Program Studi Administrasi Kesehatan.

Alasan mengapa dia mengambil dua Program Studi ini karena punya pengharapan akan peluang berkarir di Jerman. Menurutnya, negara ini sedang banyak membuka lowongan pekerjaan di bidang kesehatan. Namun Dia tetap terbuka dengan kembali ke Indonesia apabila dia sangat dibutuhkan dengan berbagai kemampuannya untuk mengabdikan diri untuk Negara asalnya.

Pengalaman Berbahasa Paling Berkesan dalam Hidup Fara

"Pengalaman berbahasa yang paling berkesan dalam hidup saya terjadi saat saya berperan sebagai penerjemah antara adik saya dan bos saya di Hongkong. Saat itu, kejadian yang cukup membingungkan tetapi juga lucu terjadi karena sudah lama saya tidak berbicara bahasa Indonesia secara langsung." Katanya melalui telepon di Hongkong, Senin (4/11/2024).

Di Hongkong, sehari-harinya Dia menggunakan bahasa Kantonis-China dan Inggris untuk berkomunikasi. Ketika adiknya datang berkunjung Dia harus berbicara dalam bahasa Indonesia lagi, yang sudah jarang digunakannya. Alhasil, terjadilah kebingungan berbahasa. Ketika Fara mencoba berbicara bahasa Indonesia dengan adiknya, kata-kata dalam bahasa Inggris-lah yang malah keluar. Momen lucu sebaliknya, Saat beralih berbicara dengan bos Fara, Dia malah menggunakan bahasa Indonesia, yang Bosnya tidak faham.

Pengalaman ini menurutnya sangat berkesan. Dia menyatakan betapa kompleksnya otak manusia dalam mengelola bahasa yang berbeda, terutama setelah tidak menggunakannya dalam waktu yang lama.

"Meski penuh dengan kesalahan dan kebingungan, momen itu menghasilkan tawa dan menjadi kenangan yang tidak terlupakan tentang pentingnya komunikasi dan bahasa dalam hubungan interpersonal dan profesional," ujarnya melalui telepon di Hongkong, Senin (4/11/2024).

Penyebab Fara Mampu Kuasai 4 Bahasa Asing

Nur Farachim Rachman terlahir di daerah berbahasa Jawa, Negara Indonesia. Membuatnya secara otomatis dan mudah memiliki Mother Language (Bahasa Ibu) yakni Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia sebagai dua bahasa lokal yang dikuasainya pertama kali.

Fara menguasai bahasa asing pertamanya, Inggris, sejak usia kecil, dengan melihat Acara TV sembari dibimbing oleh Ayahnya. Kemudian bahasa asing selanjutnya lebih banyak secara otodidak melalui aplikasi dan beberapa panduan di youtube hingga membeli kursus bahasa. Yakni bahasa Melayu-Malaysia dikuasainya sejak usia 16 tahun, sedangkan Jerman dikuasainya ketika usia 24 tahun.

Kantonis-China usia 26 tahun. 3 Tahun setelah dirinya beranjak dari Indonesia pergi ke Hongkong pada 25 Desember 2021, atau usianya 23 tahun, maka hal ini telah membuatnya fasih secara otomatis karena menjadi penduduk lokal di Hongkong dengan bahasa lokalnya Kantonis.

"Untuk kantonis dikarenakan saya bekerja di Hongkong jadi saya terbiasa untuk berkomunikasi menggunakan bahasa kantonis yang tidak lain adalah bahasa yg digunakan sehari hari oleh orang Hongkong," katanya melalui telepon di Hongkong, Senin (4/11/2024).

Namun perjuangan besarnya sebenarnya telah dimulai sejak motivasi terdalam dirinya dengan membeli berbagai kursus bahasa, menyimak panduan-panduan di youtube, dan aplikasi lainnya ketika usianya mempelajari bahasa Melayu dan Jerman.

Motivasi dan Tantangan Kehidupan Fara

"Des leben bietet dir immer eine zweite chance, Es heißt morgen," ucapnya dalam bahasa Jerman melalui telepon di Hongkong, Senin (4/11/2024).

Berasal dari bahasa Jerman yang memiliki terjemahan “Hidup selalu memberi kesempatan kedua, itu disebut besok”. Fara menyatakan pernah sebagai seorang Brain Cancer Survivor atau terdiagnosis menderita kanker otak pada tahun 2016. Namun kata dirinya telah sembuh pada tahun 2018. Perjuangannya mati-matian untuk sembuh tidaklah mudah. Dirinya juga mengaku pernah berkeinginan bunuh diri namun niat tersebut diurungkannya dan tidak jadi. Dia mengatakan setiap hari adalah kesempatan baru untuk terus berusaha mencapai tujuan.

Berkat Tuhan menolongnya melalui perantara kucing-kucing yang menemaninya, hingga konsultasi dengan psikiater, disaat dirinya ingin menyerah, Dia mengungkapkn karena adanya peran Allah swt menunjukkan kasih sayangnya lagi dan lagi tanpa batas.

Tidak sebatas tantangan itu saja, sebagai seorang pekerja migran yang bekerja di Luar Negeri dirinya menanggapi stigma negatif stereotip masyarakat, "Alah paling keluar negeri hanya menjadi TKW doang yang kerjaannya nyikatin WC." Fara menentang pemikiran dangkal tersebut, bahwa asalkan pekerjaan itu halal dan baik, maka dirinya lakukan saja.

"Tetapi kami (para migran) yang bekerja dan kuliah (teman Universitas Terbuka) disini tidak bisa dianggap remeh, disela kesibukan kami yang luar biasa padat, dengan jam istirahat yang bisa dibilang kurang, kami bisa menuntaskan tanggung jawab kami juga sebagai mahasiswa. Nyatanya banyak dari (kakak tingkat) kami dapat lulus. Selain itu kami aktif dalam berbagai aktivitas organisasi dan bisa ikut andil dalam masyarakat," ujarnya melalui telepon di Hongkong, Senin (4/11/2024).

Harapan dan motivasi dirinya melatih dan menambahkan berbagai bahasa meningkat dengan hadirnya teman-temannya dari berbagai Negara adalah sebuah peluang interaksi-komunikasi menjadi cara yang efektif belajar bahasa asing. Tidak tanggung-tanggung dirinya sudah memiliki komunikasi dengan teman mahasiswa UT seperti mereka yang fasih bahasa Jepang, Korea, Taiwan, Arab Saudi. Hal ini dikarenakan dirinya mengikut Organisasi IKMA (Independen Komunitas Mahasiswa) Universitas Terbuka Luar Negeri.

"Karena menurut saya belajar dengan teman lebih mudah dan lebih cepat karena lebih santai. Dari percakapan sehari-hari, diskusi tentang akademis maupun kegiatan non-akademis. Melalui interaksi ini, tidak hanya meningkatkan kemampuan asing secara linguistik tetapi juga kultural," katanya melalui telepon di Hongkong, Senin (4/11/2024).

Impian dan Harapan Fara Kedepan

Untuk sosial media Fara dapat berteman dengannya melalui Instagram @Farachimrchmn. Fara memilki harapan kedepannya menambah lagi relasi banyak pertemanan antar negara. Dia juga ingin menambah lagi Bahasa Prancis sebagai bahasa ketujuhnya yang ingin dimilikinya yang sekarang sedang dilatihnya. Alasan dia tertarik dengan bahasa ini karena frasa dan pengucapannya menurut dia rumit tetapi suaranya terdengar sangat indah.

Fara memiliki Idola hidupnya bernama Sandra Petersman, beliau adalah Jurnalis yang sempat berbincang dengannya di Jakarta Tahun 2020 mengenai Budaya Indonesia dan Budaya Jerman. Adapun saat ditanya untuk komunitas Polyglot, dia mengaku belum tergabung dengan komunitas polygot manapun. Harapan Fara selanjutnya adalah untuk semoga semakin bisa berkembang dan dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi.

"Tidak ada batasan umur untuk belajar menguasai bahasa lain, semakin muda semakin baik karena akan lebih mudah menempel kuat di ingatan. Saya juga berharap, semoga semakin banyak orang yg tertarik untuk belajar bahasa asing,” ujarnya melalui telepon di Hongkong, Senin (04/11/2024).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....