Kecerdasan Buatan Bantu UMKM Tingkatkan Efisiensi dan Daya Saing
- 01 Okt 2026 17:56 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- UMKM harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi termasuk AI untuk meningkatkan efisiensi dan mempertahankan daya saing di pasar.
- Pemanfaatan teknologi AI dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik unik setiap usaha mikro, kecil, dan menengah.
- Program Ruang UMKM RRI Pro4 Banjarmasin membahas strategi adaptasi teknologi bersama akademisi dan praktisi UMKM yang berpengalaman.
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) perlu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), untuk meningkatkan efisiensi dan mempertahankan daya saing. Pemanfaatan teknologi tersebut dapat dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan dan karakter masing-masing usaha.
Hal tersebut dibahas dalam program Ruang UMKM RRI Pro4 Banjarmasin, Rabu, 30 September 2026. Siaran tersebut menghadirkan Norrahmiati, SE., MM., akademisi IBITEK Banjarmasin sekaligus Pembina UMKM Maju Bersama.
Norrahmiati mengatakan, AI dapat dimanfaatkan UMKM untuk membantu berbagai kebutuhan usaha, terutama dalam menemukan ide promosi dan membuat konten media sosial. Menurutnya, pelaku usaha tidak harus langsung mahir menggunakan AI, tetapi dapat mempelajarinya secara bertahap sesuai kebutuhan.
“Dengan adanya AI, kita bisa lebih cepat menemukan ide. Kita tuliskan apa yang kita inginkan, lalu dicocokkan dengan keunikan bisnis kita,” ujar Norrahmiati.
Meski demikian, penggunaan AI tetap membutuhkan kendali manusia agar hasilnya sesuai dengan karakter dan keunikan produk. Informasi yang dihasilkan AI juga perlu diperiksa kembali untuk menghindari kesalahan atau ketidaksesuaian.
“Jangan serahkan semuanya ke AI. Tetap kita sebagai manusia yang mengontrol,” kata Norrahmiati.
Selain promosi, AI dapat dimanfaatkan untuk membantu pengelolaan usaha dan keuangan. Norrahmiati mengingatkan pelaku UMKM agar tidak hanya mengejar omzet, jumlah pengikut, atau popularitas, tetapi juga memastikan usaha menghasilkan keuntungan melalui pencatatan pemasukan, pengeluaran, harga pokok penjualan, serta pemisahan uang usaha dan pribadi.
| Baca juga: Strategi 5N Bantu UMKM Naik Kelas |
Menurutnya, penentuan harga jual tidak cukup hanya mengikuti harga pesaing. Pelaku UMKM perlu menghitung biaya produksi dan menentukan keuntungan yang ingin diperoleh agar harga tetap sesuai bagi konsumen sekaligus mendukung keberlangsungan usaha.
Di tengah persaingan yang semakin ketat, Norrahmiati mengingatkan UMKM agar tidak terjebak dalam perang harga. Keunikan produk, kualitas, pelayanan, dan kemasan dapat menjadi pembeda, sementara kemasan juga dapat berfungsi sebagai media promosi melalui identitas dan informasi produk.
Norrahmiati mendorong pelaku UMKM memanfaatkan AI untuk membuat konten pemasaran berbasis cerita. Kisah di balik produk, proses pembuatan, nilai budaya, serta keunikan bahan dapat digunakan untuk membangun komunikasi dengan konsumen.
Untuk produk khas Banjar seperti sasirangan, misalnya, cerita mengenai motif, pembuat, sejarah, dan proses pembuatannya dapat disampaikan sebagai bagian dari promosi. Konten tersebut dapat membantu memperkenalkan produk sekaligus menampilkan nilai yang melekat pada produk kepada konsumen.
Ia menambahkan, keberlangsungan UMKM juga bergantung pada kemampuan menjaga hubungan dengan pelanggan. Keluhan konsumen sebaiknya dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki produk dan pelayanan.
“Jangan hanya memanfaatkan pelanggan untuk membeli, tetapi bagaimana mereka juga merasa memiliki perusahaan itu,” ujar Norrahmiati. “Kita harus berdagang dengan jujur.”
Menurutnya, perkembangan teknologi membuat reputasi UMKM semakin mudah diketahui masyarakat melalui ulasan dan media sosial. Karena itu, kejujuran terhadap kualitas dan bahan produk, pelayanan yang baik, serta keterlibatan pelanggan menjadi bagian penting dalam membangun usaha yang berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....