Limau Kuit Disulap Jadi Sirup, Angkat Cita Rasa Banua
- 07 Okt 2026 07:31 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Buah limau kuit yang dikenal sebagai salah satu bahan khas kuliner Banjar dikembangkan menjadi produk minuman dan olahan bernilai ekonomi oleh pelaku UMKM di Kalimantan Selatan. Inovasi tersebut menjadi bahasan dalam program Ruang UMKM PRO 4 RRI Banjarmasin, Senin, 28 September 2026, bersama Owner Sirup Limau Kuit dan Aneka Minuman Herbal Borneo, Ibu Mun.
Ibu Mun mengatakan ide mengolah limau kuit menjadi sirup muncul dari keinginannya mengembangkan bahan lokal agar dapat dikenal dan dibawa ke berbagai daerah. Selama ini, limau kuit lebih banyak digunakan sebagai pelengkap sambal dan soto, padahal memiliki aroma dan cita rasa yang khas. “Bagaimana caranya kita mengembangkan limau kuit ini menjadi sebuah produk unggulan,” ujar Ibu Mun.
Sirup limau kuit miliknya tersedia dalam tiga varian, yakni original, coco pandan, dan melon. Meskipun diberi tambahan varian rasa, karakter limau kuit tetap dipertahankan. Selain sirup, limau kuit juga dikembangkan menjadi kecap limau kuit dan sambal mandai limau kuit.
Menurut Ibu Mun, proses menghasilkan produk olahan limau kuit membutuhkan sejumlah percobaan, terutama untuk mengurangi rasa pahit atau getir dari bahan baku. Pemilihan buah juga dilakukan dengan memperhatikan kondisi kulit dan kandungan air agar hasil perasan sesuai kebutuhan produksi.
Selain olahan limau kuit, Ibu Mun mengembangkan minuman herbal berbahan rimpang seperti jahe merah, temulawak, dan beras kencur. Produk tersebut dibuat dalam bentuk praktis sehingga konsumen dapat mengonsumsinya tanpa harus mengolah bahan rimpang secara langsung.
Untuk bahan baku jahe merah, Ibu Mun menggunakan jahe lokal dari kawasan Pegunungan Meratus. Menurut pengalaman produksinya, jahe tersebut memiliki rasa pedas dan serat yang sesuai untuk diolah menjadi minuman herbal. Ia juga menggunakan gula aren lokal sebagai salah satu bahan pendukung.
Ketersediaan limau kuit menjadi salah satu tantangan dalam produksi karena buah tersebut bersifat musiman. Saat pasokan melimpah, Ibu Mun dapat mengolah sekitar 1.000 hingga 2.000 buah per hari untuk kemudian disimpan sebagai stok. Strategi tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kelangkaan bahan baku, terutama pada musim kemarau panjang.
Sebagai UMKM binaan Rumah BNI Banjarbaru, Ibu Mun mengaku mendapat dukungan berupa pelatihan dan fasilitas pengembangan usaha. Ia mengatakan pendampingan tersebut membantu meningkatkan pengetahuan dan membuka peluang pemasaran bagi produknya. “Banyak banget untuk BNI. Saya mau ucapkan terima kasih buat BNI untuk semua fasilitas yang selama ini kami dapatkan, terutama berupa pelatihan,” kata Ibu Mun.
Ibu Mun mengatakan produknya telah dilengkapi sertifikat halal dan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), serta diproduksi di ruang produksi tersendiri untuk menjaga kualitas. Ia berharap minuman herbal berbahan lokal, khususnya jahe merah Kalimantan, dapat semakin dikenal luas sekaligus membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi bahan alam dari Banua.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....