Dapur Nena Tumbuh dari Usaha Sambal Rumahan

  • 19 Sep 2026 10:32 WIB
  •  Banjarmasin
Poin Utama
  • Henny Herawati memulai usaha sambal rumahan Dapur Nena setelah mengalami perubahan dalam kehidupan keluarganya dan mencari kesibukan baru.
  • Perjalanan usaha Dapur Nena dibagikan dalam program Ruang UMKM RRI Pro4 Banjarmasin dengan tema 'Sambal Penggugah Selera' pada 14 September 2026.
  • Henny Herawati merupakan anggota PERWIRA (Perempuan Wirausaha) Kalimantan Selatan dan berbagi pengalaman tentang inovasi produk serta tantangan dalam menjalankan UMKM kuliner.

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Berawal dari keinginan mencari kesibukan setelah mengalami perubahan dalam kehidupan keluarga, Henny Herawati merintis usaha sambal rumahan yang kemudian dikenal dengan nama Dapur Nena. Perjalanan usaha tersebut dibagikan Henny dalam program Ruang UMKM RRI Pro4 Banjarmasin, Senin, 14 September 2026.

Dalam siaran bertema “Sambal Penggugah Selera”, Henny hadir sebagai pemilik Dapur Nena sekaligus anggota PERWIRA (Perempuan Wirausaha) Kalimantan Selatan. Program tersebut membahas perjalanan usaha, inovasi produk, serta tantangan produksi UMKM.

Henny mengatakan, ide membuat sambal muncul pada 2021 setelah ia kehilangan suami. Saat itu, sebagian besar anaknya telah berkeluarga dan hanya satu anak yang masih berada dalam asuhannya sehingga ia berusaha mencari kegiatan untuk mengisi waktu.

“Dasarnya cuma mengisi waktu luang, cari kesibukan supaya jangan terpuruk di satu titik. Jadi saya berusaha apa yang saya bisa,” ujar Henny.

Ide membuat sambal diperoleh dari seorang teman asal Semarang. Henny kemudian melakukan sejumlah percobaan dan penyesuaian selama sekitar tiga bulan hingga menemukan cita rasa yang sesuai.

Dapur Nena kini memiliki beberapa varian, di antaranya sambal baby cumi, sambal ijo dengan teri medan, dan sambal ikan tongkol. Selain sambal, Henny juga pernah memproduksi abon ayam sebagai pelengkap makanan.

Menurut Henny, menjaga cita rasa menjadi alasan dirinya masih terlibat langsung dalam hampir seluruh proses produksi. Mulai dari menyiapkan bahan, mencuci dan menyiapkan botol, memasak, hingga pengemasan dilakukan dengan memperhatikan kebersihan dan konsistensi produk.

“Rasanya akan tetap sama karena dari tangannya tidak berubah. Makanya saya tidak mau menyuruh-nyuruh orang lain karena saya susah percaya,” kata Henny.

Jumlah produksi dalam satu kali proses berbeda sesuai jenis sambal yang dibuat. Sambal ijo dapat menghasilkan sekitar 30 botol, sedangkan sambal ikan tongkol berkisar 27 hingga 29 botol, dengan proses memasak satu varian dapat berlangsung sekitar dua jam.

Produksi belum dilakukan setiap hari dan biasanya hanya sekitar dua kali dalam sebulan. Penjualan Dapur Nena dilakukan melalui pemesanan WhatsApp serta sistem titip jual di Toko Andalas, kawasan Belitung, Banjarmasin.

Selain tantangan produksi, Henny juga mempertimbangkan kondisi diri saat memasak. Ketika suasana hati tidak mendukung, ia memilih menghentikan sementara pekerjaan untuk menghindari kesalahan yang dapat menyebabkan kerugian.

“Kalau dikerjain terus, nanti malah jadi tidak karuan, nanti ada saja salahnya. Bisa hangus, bisa rugi, mendingan diam saja dulu,” ujar Henny.

Henny terus mengembangkan kemasan produk yang sebelumnya sederhana menjadi lebih praktis dengan tambahan seal aluminium. Dalam menentukan harga jual, ia juga memperhitungkan kemungkinan kenaikan harga bahan baku, terutama cabai, agar usaha tetap memperoleh keuntungan.

“Dari awal saya sudah siapkan harga untuk yang aman. Jadi walaupun harga lagi tinggi, saya sudah hitung supaya masih ada untung,” kata Henny.

Keikutsertaan Henny dalam PERWIRA sejak 2022 turut mendukung pengembangan usahanya melalui jejaring sesama pelaku UMKM. Ia memperoleh kesempatan bertukar informasi mengenai pengembangan usaha dan perizinan, serta berharap Dapur Nena terus berkembang tanpa mengesampingkan kualitas produk.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....