Ruang UMKM, dari Viral ke Bukti Ilmiah

  • 09 Sep 2026 08:35 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Di tengah maraknya informasi dan berbagai isu produk pangan, keamanan produk menjadi perhatian masyarakat termasuk di media sosial. Hal tersebut disampaikan oleh Farhanah, S.Far., A.pt dalam acara Ruang UMKM di RRI Pro.4 Banjarmasin, Selasa, 8 September 2026.

Farhanah, S.Far., A.pt menyampaikan bahwa Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM dalam intensifikasi pengawasan Ramadan hingga Idulfitri 2026 melaporkan sebanyak 1.134 sarana diperiksa dan jumlah tersebut menunjukkan bahwa 395 sarana atau sekitar 34,8 persen dinyatakan tidak memenuhi ketentuan."Dari data itu maka pengawasan dan pemahaman tentang keamanan pangan masih perlu terus diperkuat lagi," ujar Farhanah.

Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Madya BPOM di Banjarbaru itu juga menegaskan bahwa masyarakat perlu untuk memahami bahwa sebuah dugaan belum bisa disamakan dengan bukti ilmiah. Menurutnya analis tidak bekerja mencari pembenaran terhadap sebuah isu saja, namun juga mencari bukti melalui metode pengujian yang sesuai dan melaporkan hasilnya secara objektif.

Farhanah menyebutkan salah satu isu yang cukup banyak diperbincangkan adalah migrasi bahan dari kemasan ke pangan, termasuk Bisfenol A atau BPA. Dalam konteks laboratorium, pertanyaan yang harus dijawab bukan cuma apakah suatu bahan terdapat dalam kemasan, melainkan berapa kadar zat yang bisa bermigrasi ke pangan atau simulan pangan pada kondisi pengujian yang telah ditetapkan.

"Penilaiannya itu juga harus melihat kadar, tingkat paparan dan batas yang ditetapkan regulasi sekaligus konteks penggunaannya,” kata Farhanah

Masyarakat diimbau tidak menyimpulkan keamanan produk hanya dari nama bahan, potongan video, atau informasi tanpa data. Farhanah juga mengingatkan para UMKM bahwa dari hasil uji sekali itu bukan jaminan selamanya, sehingga perlu mengenali risiko, memilih parameter dan laboratorium yang tepat, serta melakukan pemantauan secara berkala.

Sedangkan bagi konsumen, isu viral sebaiknya memang menjadi alarm untuk lebih kritis dan bukan alasan untuk langsung panik. “Jadi bukan soal siapa yang bilang saja, media sosial itu sebagai alarm namun untuk menyatakan sebuah produk memenuhi atau tidak memenuhi persyaratan perlu proses pembuktian yang tepat," ujarnya

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....