Dari Kue Keliling, Perjalanan Dapur Weni Penuh Perjuangan

  • 10 Jun 2026 07:30 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin — Membangun usaha tidak selalu dimulai dari tempat yang besar. Hal itu dibuktikan Weni Susanti, pemilik Dapur Weni yang mengawali usahanya dari berjualan kue basah keliling. Kini Weni mampu mengembangkan usaha kuliner dengan berbagai produk.

Kisah perjuangan panjang Weni dibagikan dalam Ruang UMKM Pro4 RRI Banjarmasin, Senin (08/06/2026). Tema yang diangkat “Dari Kue Basah Keliling Hingga Membangun Dapur Weni”. Weni menceritakan perjalanan merintis usaha sejak pertama kali datang ke Kalimantan Selatan pada tahun 2003.

Weni mengaku awalnya hanya bermodal hobi membuat kue. Kebiasaan mengolah makanan yang sudah dilakukan sejak di Tulungagung, Jawa Timur, kemudian dikembangkan saat mengikuti suami ke Banjarmasin.

“Awalnya hobi saja membuat kue, kemudian ada tetangga yang pesan. Dari sana mulai keliling dari pasar ke pasar, ke sekolah saat jam istirahat, sampai akhirnya banyak yang mengenal,” ujarnya.

Dengan menggunakan sepeda, Weni membawa berbagai kue basah seperti nagasari, bolu kukus, kue lumpur hingga makanan kecil lainnya. Meski sempat mengalami penolakan saat menawarkan dagangan, perlahan produknya mulai dikenal melalui promosi dari mulut ke mulut.

Perjalanan tersebut tidak mudah. saat itu dirinya harus membagi waktu antara membuat kue, mengurus keluarga, hingga berjualan keliling. Bahkan tidak jarang ia harus bekerja sejak malam hingga pagi untuk menyiapkan pesanan.

“Kadang dari malam sampai pagi membuat kue, setelah itu lanjut keliling. Suami juga membantu membungkus. Anak-anak waktu kecil juga ikut membantu,” katanya mengenang masa itu.

Setelah sekitar dua tahun berjualan keliling, usahanya mulai berkembang. Ia mulai menerima pesanan katering hingga dipercaya menangani kebutuhan konsumsi berbagai kegiatan. Dari usaha kecil tersebut, Dapur Weni perlahan tumbuh menjadi usaha yang memiliki pelanggan tetap.

Menurut Weni, kunci bertahan dalam usaha bukan hanya soal keuntungan, tetapi menjaga kualitas produk. Ia tetap mempertahankan penggunaan bahan yang baik dan proses pembuatan yang bersih agar pelanggan tetap percaya.

“Walaupun harga bahan naik, kualitas tetap harus dijaga. Jangan sampai pelanggan kecewa,” katanya.

Beragam produk kini ditawarkan, mulai dari kue kotakan, bolu kukus, risoles mayo, risoles mentai, hingga berbagai pesanan sesuai permintaan pelanggan. Produk tersebut juga dipasarkan melalui titipan di warung serta pesanan untuk berbagai acara.

Dalam perjalanan usahanya, Weni juga dikenal memiliki kepedulian terhadap makanan. Jika dagangan tidak habis terjual, ia memilih membagikannya kepada orang lain daripada membuang makanan.

“Kalau ada sisa lebih baik diberikan, jangan sampai makanan terbuang. Apalagi makanan itu ada yang tidak bisa disimpan lama,” ujarnya.

Di balik keberhasilan Dapur Weni, tersimpan kisah haru tentang perjuangan seorang ibu. Weni mengungkapkan, sang suami yang selama ini menjadi pendamping dalam perjalanan usahanya telah meninggal dunia sekitar tujuh bulan lalu.

Kondisi tersebut membuat perjuangannya semakin berat, karena kini sebagian besar proses produksi harus dijalani sendiri bersama anaknya. Namun, semangatnya tetap terjaga karena ingin terus berjuang untuk keluarga.

“Motivasi saya anak. Apalagi sekarang sudah tidak ada suami, jadi harus tetap semangat,” ucap Weni.

Meski menghadapi kehilangan dan tantangan baru, Weni terus menjalankan usahanya dengan penuh ketekunan. Baginya, usaha bukan hanya tentang mencari penghasilan, tetapi juga perjalanan menjaga semangat, memberikan manfaat, dan menghadirkan keberkahan bagi orang lain.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....