Dari Jelujur jadi Cuan: Persit Keturunan Banjar Sulap Sasirangan Jadi "Senjata"

  • 02 Mei 2026 07:52 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Melestarikan budaya tak selalu lewat panggung besar. Di tangan Eka Agustina Pratiwi, kain tradisional justru menjelma menjadi jalan kemandirian, bahkan sumber penghidupan yang menjanjikan.

Perempuan keturunan Banjar ini tak sekadar mengenakan identitas sebagai anggota Persit Kartika Chandra Kirana. Ia memilih turun langsung menghidupkan warisan leluhur melalui Kain Sasirangan, wastra khas Kalimantan Selatan yang sarat makna.

“Sasirangan itu bukan sekadar kain. Di setiap motifnya ada cerita, ada filosofi, dan ada kebanggaan sebagai orang Banjar,” ujarnya.

Sebagai istri prajurit TNI AD, Eka menyadari peran perempuan tak berhenti pada dukungan moral. Ia justru melihat peluang untuk tetap produktif di tengah dinamika penugasan suami.

Bahkan, di manapun mendampingi sang suami, termasuk saat ini di Jakarta, usaha Sasirangan tetap ia jalankan. “Saya ingin tetap berkarya di manapun berada. Justru dari sini saya bisa ikut membantu ekonomi keluarga sekaligus melestarikan budaya daerah,” ucap istri Kolonel Czi Burhannudin tersebut.

Kecintaannya terhadap Sasirangan bukan datang tiba-tiba. Ia tumbuh dari lingkungan keluarga pengrajin, pasangan Hasan Hairul dan Evawani Rosita, telah lebih dulu menekuni kerajinan ini sejak 1984.

Dari situlah keterampilan itu diwariskan, lengkap dengan nilai kesabaran dan ketelitian. Proses menjahit jelujur hingga pewarnaan alami menjadi bagian penting yang tak bisa dipisahkan.

“Membuat Sasirangan itu butuh ketekunan. Setiap jahitan menentukan hasil akhir. Kalau dikerjakan dengan hati, hasilnya juga akan ‘hidup’,” ucapnya.

Tak berhenti pada kain, Eka mengembangkan Sasirangan menjadi berbagai produk bernilai jual tinggi, mulai dari busana pria dan wanita, tas, hingga aksesori. Inovasi ini membuat Sasirangan tak lagi sekadar tradisional, tapi juga relevan dengan pasar modern.

Perjalanan usahanya pun mendapat dorongan kuat dari organisasi. Ketua Umum Persit Kartika Chandra Kirana, Uli Simanjuntak, melalui program Persit Bisa, mendorong pemberdayaan anggota lewat UMKM.

“Program Persit Bisa memberi ruang bagi kami untuk berkembang. Ini bukan hanya soal usaha, tapi juga tentang kepercayaan diri perempuan untuk mandiri,” katanya.

Dukungan juga datang dari jajaran pembina, termasuk Budi Hariswanto dan Ny Prima Budi Hariswanto, yang aktif mendorong UMKM Sasirangan “Kayuh Baimbai” milik Eka. Kini, karya-karya tersebut siap tampil di event Persit Bisa II melalui booth khusus Sasirangan.

Sebuah panggung yang tak hanya memamerkan produk, tapi juga membawa cerita perjuangan di baliknya. Kisah Eka menjadi bukti nyata, dari kain tradisional, lahir kekuatan ekonomi dan rari tangan perempuan, tumbuh perubahan.

“Perempuan itu bukan hanya pendamping. Kami juga bisa jadi penggerak, menciptakan peluang, dan merajut masa depan,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....