Bakso Pikul di Bawah Terik: Kisah Mulyono Menahan Rindu Demi Keluarga

  • 24 Mar 2026 10:21 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarbaru - Terik matahari siang menyengat kawasan Jalan Mistar Cokrokusumo, Banjarbaru. Selasa 24 Maret 2026. Di antara panas yang memantul dari aspal dan kaca rumah-rumah warga, seorang lelaki bertubuh kecil berjalan perlahan, memikul beban di kedua pundaknya. Dari langkahnya yang tak pernah berhenti, tersimpan cerita panjang tentang perjuangan dan rindu yang ditahan.

Ia adalah Mulyono, perantau asal Malang yang telah lebih dari empat tahun berjualan bakso malang keliling. Dengan harga Rp10.000 per porsi, ia menawarkan dagangannya dari satu gang ke gang lain, berharap ada yang berhenti sejenak untuk membeli atau sekadar menyapa.

Tak peduli panas atau hujan, Mulyono tetap berjalan. Baginya, setiap langkah adalah harapan yang dibawa pulang, meski tubuhnya harus menanggung lelah yang tak ringan.

“Tidak ada keahlian lain yang saya miliki. Jadi saya ikut teman merantau ke Kalimantan dengan berjualan bakso pikul ini,” tuturnya pelan.

Namun yang paling berat bukanlah beban di pundaknya, melainkan jarak yang memisahkannya dari keluarga. Di kampung halaman, istri dan dua anaknya yang masih sekolah dasar menunggu kabar dan kiriman uang darinya.

Lebaran seharusnya menjadi waktu berkumpul. Tapi bagi Mulyono, ini adalah tahun ketiga ia tak pulang. Harga tiket yang mahal membuatnya hanya bisa mengubur rindu, menggantinya dengan kiriman rezeki seadanya.

“Saya kirim uang saja untuk Lebaran anak-anak dan istri di kampung. Apalagi Ramadan kali ini jualan sepi sekali,” ucapnya lirih, menahan sesuatu yang tak sempat ia sebut sebagai kesedihan.

Dalam sehari, jika dagangannya habis, ia bisa membawa pulang sekitar Rp150 ribu. Namun jika sepi, penghasilannya bisa berkurang hingga setengahnya. Di tengah kondisi itu, ia tetap bertahan karena baginya, menyerah bukanlah pilihan.

Langkah Mulyono mungkin kecil dan perlahan, namun di setiap pijakannya ada tekad besar: memastikan anak-anaknya tetap sekolah, tetap punya masa depan.

Di bawah terik yang membakar siang itu, Mulyono terus berjalan. Memikul dagangan, memikul harapan, dan memikul rindu yang tak pernah benar-benar bisa ia letakkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....