Pertamax Naik Signifikan, Pakar Ekonomi Ingatkan Dampak Psikologis Massa
- 11 Jun 2026 15:19 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi kembali diberlakukan oleh PT Pertamina Patra Niaga mulai Rabu, 10 Juni 2026. Penyesuaian harga bahan bakar jenis Pertamax ini pun memicu berbagai respons di tengah masyarakat.
Di wilayah Kalimantan Selatan, harga Pertamax kini mengalami kenaikan menjadi Rp17.000 per liter. Angka ini menunjukkan adanya lonjakan sebesar 31,78 persen dari harga sebelumnya yang hanya Rp12.900 per liter.
Kenaikan harga yang cukup signifikan ini pun menimbulkan kekhawatiran terkait potensi munculnya efek domino di tengah masyarakat. Banyak warga cemas lonjakan tarif BBM nonsubsidi tersebut akan memicu kenaikan harga pada berbagai sektor kebutuhan pokok lainnya.
Merespons hal tersebut, pakar ekonomi Prof. Muhammad Handry Imansyah menerangkan pengaruh kenaikan harga Pertamax terhadap inflasi relatif terbatas. Pasalnya, jenis BBM nonsubsidi ini bukanlah komoditas utama yang masif digunakan oleh masyarakat luas.
Menurutnya, moda transportasi barang maupun angkutan umum yang rentan memicu kenaikan inflasi pun tidak menggunakan produk tersebut. Faktor itulah yang membuat jumlah konsumen Pertamax secara statistik masih lebih sedikit dibandingkan dengan pengguna Pertalite.
"Kalau secara teknis, pengaruhnya terhadap inflasi masih sangat kecil. Berdasarkan perhitungan saya melalui model, pengaruhnya hanya sekitar 0,01 hingga 0,02 persen," ujarnya kepada RRI pada Rabu, 10 Juni 2026.
Meski demikian, Prof. Handry mengingatkan poin utama yang harus menjadi perhatian serius adalah dampak psikologis di tengah masyarakat. Menurutnya, dampak psikologis berupa kekhawatiran akan berakibat fatal jika menimbulkan kepanikan dan memicu pola perilaku yang berlebihan.
"Potensi dampak psikologisnya itu besar. Karena kalau masyarakat berekspektasi harga naik, lalu panic buying, maka akan terjadi juga kenaikan harga pada banyak hal," ucapnya menjelaskan.
Oleh karena itu, ia mengingatkan dampak penyesuaian harga tidak boleh hanya dihitung berdasarkan hal-hal teknis semata. Jika tidak dikelola dengan pola komunikasi yang baik, potensi lonjakan inflasi riil justru akan semakin meningkat akibat kepanikan masyarakat.
Pada momentum krusial inilah, menurutnya pihak otoritas terkait harus hadir untuk memberikan penjelasan. Langkah persuasif tersebut juga perlu disertai dengan komitmen kuat untuk memastikan stok bahan bakar di setiap SPBU tetap aman dan lancar.
"Ekspektasi masyarakat ini bisa dikelola. Pada saat inilah harus ada penjelasan dan komunikasi yang baik agar dampak psikologis ini tidak berlebihan," ucapnya menambahkan.
Sementara itu, Pertamina Patra Niaga menjelaskan bahwa kebijakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi ini sudah sesuai dengan formula harga yang ditetapkan oleh pemerintah. Langkah ini juga telah dikoordinasikan bersama pemerintah sebagai regulator dengan mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....