Infak Terbaik Dimulai dari Harta yang Dicintai
- 08 Sep 2026 07:14 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Infak dapat diwujudkan melalui harta, waktu, tenaga, perhatian, dan kebaikan yang dilakukan dengan tulus
- Infak terbaik bukan sekadar memberi, tetapi memberikan sesuatu yang dicintai dengan ikhlas
- Kedermawanan perlu dilatih secara bertahap hingga hati terbiasa melepaskan harta yang berharga
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Infak terbaik bukan sekadar memberi, tetapi mengikhlaskan sesuatu yang paling dicintai sebagai bentuk nyata kualitas iman. Nilai tersebut menjadi bagian penting dalam memahami pesan QS. Ali Imran ayat 92 tentang upaya meraih kebajikan yang sempurna.
Dalam praktiknya, seseorang terkadang lebih mudah memberikan barang bekas atau harta yang sudah tidak diinginkan. Padahal, ajaran tersebut mendorong umat Islam untuk belajar melepaskan sesuatu yang memiliki nilai dan dicintai sebagai bentuk ketulusan dalam berinfak.
“Infak terbaik bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita keluarkan, tetapi seberapa besar keikhlasan kita ketika memberikan sesuatu yang kita cintai. Inilah pesan yang ditekankan dalam QS. Ali Imran ayat 92,” ucap Akademisi UIN Antasari, Muhammad Qamaruddin, ME, dalam Kuliah Subuh RRI PRO1 Banjarmasin, Selasa, 8 September 2026.
Teladan tersebut dapat dilihat dari kisah Abu Thalhah yang menyedekahkan Kebun Bairuha, aset yang sangat dicintainya, setelah memahami pesan ayat tersebut. Menurut Qamaruddin, kisah ini menunjukkan bahwa kedermawanan tidak selalu mudah dilakukan karena manusia secara alami memiliki keterikatan dengan harta yang dimilikinya.
“Manusia memang memiliki rasa berat ketika harus berpisah dengan harta yang disukai, sehingga kedermawanan perlu dilatih seperti melatih otot iman. Kita bisa memulainya dari sedekah yang ringan dan konsisten sampai hati terbiasa untuk memberikan sesuatu yang lebih berharga,” ujarnya.
Menurutnya, bentuk infak terbaik tidak harus berupa aset besar atau sesuatu yang mahal, tetapi dapat disesuaikan dengan kemampuan dan kesempatan setiap orang. Membelikan makanan yang disukai untuk orang yang membutuhkan, menyediakan waktu terbaik untuk membaca Al-Qur'an, hingga memberikan tenaga dan senyuman dengan tulus juga dapat menjadi wujud kebaikan.
“Setiap orang memiliki ‘Bairuha’-nya masing-masing pada masa sekarang, dan bentuknya bisa berbeda-beda. Apa yang kita keluarkan dengan penuh cinta dan keikhlasan bukan berarti hilang, tetapi menjadi bekal kebaikan yang kita kirimkan lebih dahulu untuk kehidupan di akhirat,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....