Menjaga Stabilitas Rupiah Melalui Prilaku Ekonomi Sehari-hari

  • 06 Mei 2026 21:22 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Malang - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tidak bisa hanya dijawab dengan kebijakan moneter semata. Diperlukan peran publik untuk ikut menjaga stabilitas melalui perilaku ekonomi sehari-hari.

"Misalnya berkontribusi melalui transaksi menggunakan rupiah, tidak perlu ikut-ikutan untuk permintaan baru terhadap valuta asing, serta memprioritaskan konsumsi produk domestik," kata Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan Aloysius Donanto H.W dalam forum diskusi bersama insan media dan akademisi, di Malang, Rabu 6 Mei 2026.

Pada forum Capacity Building Opinion Maker yang berlangsung 6-7 Mei tersebut, Donanto mengatakan, stabilitas rupiah bukan hanya urusan otoritas moneter. Tetapi juga soal persepsi, kepercayaan, dan pola transaksi masyarakat.

“Bank Indonesia terus menempuh langkah stabilisasi. Tapi masyarakat juga perlu memahami kondisi yang terjadi dan berkontribusi menjaga rupiah melalui pilihan-pilihan ekonominya,” ujarnya.

Salah satu yang disorot adalah kecenderungan sebagian masyarakat ikut-ikutan memburu dolar saat kurs bergejolak. Perilaku ini, meski dilakukan dalam skala kecil, jika masif akan memperbesar tekanan pada nilai tukar.

Di sisi lain, konsumsi produk domestik dinilai menjadi cara sederhana namun efektif membantu menjaga sirkulasi rupiah di dalam negeri. Untuk Kalimantan yang memiliki basis produksi komoditas dan barang lokal yang kuat, hal ini dinilai sangat relevan.

“Kalau Kalimantan, pasti produknya domestik. Memang ini yang diperlukan dalam kondisi sekarang ini,” kata Koordinator Wilayah Kalimantan ini.

Selain itu, masyarakat juga diimbau mengelola transaksi secara lebih bijak. Misalnya dengan memilah kebutuhan mendesak dan tidak mendesak.

"Serta bagaimana memanfaatkan metode pembayaran yang lebih efisien dan tidak memberi tekanan tambahan pada sistem keuangan," ujarnya.

Tak kalah penting, menurut Donanto adalah bagaimana publik mengelola informasi. Karena di tengah derasnya arus kabar ekonomi, tidak semua informasi utuh dipahami konteksnya.

Di sinilah peran media dan akademisi menjadi penting untuk menjembatani pemahaman publik terhadap kebijakan yang tampak teknis, namun memiliki latar belakang pertimbangan yang kompleks. Kadang yang terlihat di permukaan itu tidak sesederhana kebijakannya, di belakangnya ada alasan yang kuat.

"Ini yang perlu dikomunikasikan dengan baik agar tidak menimbulkan persepsi keliru,” ucapnya.

Donanto menekankan bahwa ke depan, komunikasi publik antara otoritas, media, dan kalangan akademik perlu diperkuat agar tidak terjadi kesenjangan perspektif. Tujuannya agar kebijakan yang diambil berdampak lebih positif bagi masyarakat karena dipahami secara utuh.

Salah satu modal penting dalam menjaga stabilitas ekonomi, kata Donanto adalah kepercayaan terhadap institusi. Tanpa kepercayaan, kebijakan sebaik apa pun akan sulit efektif di tingkat masyarakat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....