Scan QR Tinggal Bayar, tapi Bisa Jadi Korban! Wali Kota Bongkar Ancaman Digital
- 24 Apr 2026 06:55 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Kemudahan transaksi digital ternyata menyimpan ancaman yang tak main-main. Di hadapan ratusan pelajar, Wali Kota Banjarmasin, H. M. Yamin HR, mengingatkan generasi muda jangan terlena dengan praktisnya teknologi, tapi justru abai terhadap risiko dan dampaknya.
Pesan itu disampaikan dalam kegiatan literasi keuangan bertajuk Bank Kalsel Mengajar di aula SMA Negeri 6 Banjarmasin. Kegiatan ini mempertemukan pelajar dengan pemerintah dan sektor perbankan untuk membedah kebiasaan finansial di era digital sekaligus kesadaran lingkungan.
Yamin menegaskan, arah kebijakan yang ingin dibangun tidak sekadar soal kecakapan teknologi, tetapi juga kesadaran risiko dan tanggung jawab sosial.“Atas nama pemerintah, kami mengapresiasi peran Bank Kalsel. Ini bukan sekadar kegiatan edukasi, tapi investasi jangka panjang untuk masa depan daerah,” ujarnya.
Menurutnya, literasi keuangan dan kepedulian terhadap sampah adalah dua fondasi penting yang harus ditanamkan sejak dini. Namun realitanya, perkembangan teknologi justru tidak diimbangi dengan pemahaman yang memadai.
Fenomena pembayaran non-tunai kini kian masif, mulai dari warung kecil hingga pusat perbelanjaan, transaksi cukup dengan memindai QR. Tapi di balik kemudahan itu, ada celah yang kerap diabaikan penggunanya.
“Masalahnya bukan pada teknologinya, tapi pada cara kita menggunakannya. Banyak yang belum sadar risiko di balik kemudahan ini,” ucap Yamin.
Ia membeberkan berbagai modus kejahatan digital yang kini marak, mulai dari QR palsu, tautan hadiah jebakan, hingga penyalahgunaan data pribadi dan kode OTP. Bahkan, kasus penggantian QRIS di warung oleh pihak tak bertanggung jawab sudah terjadi.
“Sudah ada kasus QRIS di warung diganti pihak tak bertanggung jawab. Kalau tidak paham, siapa saja bisa jadi korban,” ujarnya.
Kondisi ini memperlihatkan ironi, pelajar cepat beradaptasi dengan teknologi, tetapi lemah dalam aspek keamanan digital. Di sisi lain, persoalan klasik seperti sampah juga belum terselesaikan, terutama kebiasaan memilah dari sumbernya.
Melalui program ini, pemerintah bersama Bank Kalsel mencoba menjawab dua persoalan tersebut sekaligus, iterasi keuangan dan kesadaran lingkungan dengan pendekatan langsung ke generasi muda. “Jangan hanya melek digital, tapi juga harus bijak. Apa yang kalian pelajari hari ini harus dipraktikkan, bukan sekadar didengar,” ucap Yamin, berpesan.
Tak berhenti pada isu keuangan, ia juga menyoroti pentingnya pengelolaan sampah sebagai bagian dari tanggung jawab masa depan. Pelajar diajak mulai memilah sampah dari rumah dan sekolah, serta mengolah sampah organik menjadi kompos.
“Cara kalian mengelola uang hari ini menentukan masa depan, begitu juga cara kalian memperlakukan lingkungan. Kalau dua hal ini dikuasai, kalian tidak hanya siap secara ekonomi, tapi juga menjaga keberlanjutan kota,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....