OJK Tegaskan Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Masih Terjaga
- 12 Jun 2025 13:15 WIB
- Banjarmasin
KBRN, Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan hasil rapat Dewan Komisioner bulanan yang membahas kondisi terkini sektor jasa keuangan serta kebijakan strategis yang telah dan akan dilakukan untuk menjaga stabilitas keuangan nasional. Rapat ini rutin digelar untuk memastikan sektor keuangan tetap kuat dan tangguh menghadapi dinamika global yang terus berubah. (12/6/2025)
Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menyampaikan bahwa stabilitas sektor jasa keuangan nasional masih terjaga meskipun dunia menghadapi tekanan dari ketegangan geopolitik dan dinamika perdagangan internasional.
“Salah satu perkembangan positif datang dari tercapainya kesepakatan dagang permanen antara Amerika Serikat dan Inggris pada 8 Mei 2025, serta kesepakatan dagang sementara antara AS dan Tiongkok pada 12 Mei 2025 yang berlaku selama 90 hari. Keduanya berhasil menurunkan ketegangan global dan mendorong penguatan pasar keuangan,”ujarnya
Dalam hal ini, Mahendra menjelaskan bahwa perekonomian global pada kuartal pertama 2025 mengalami perlambatan, yang diikuti oleh penurunan inflasi di berbagai negara. Hal ini mendorong banyak bank sentral mengambil kebijakan moneter yang lebih longgar, seperti menurunkan suku bunga dan menambah likuiditas ke pasar.
Sementara itu, The Fed (Bank Sentral AS) masih mengisyaratkan sikap hati-hati dengan pendekatan “higher for longer” sambil menunggu kepastian kebijakan tarif. Ini membuat pasar memperkirakan penurunan suku bunga The Fed hanya akan terjadi dua kali tahun ini, dengan penurunan pertama mundur ke September.
Pasar global juga terus mencermati rencana undang-undang baru di AS yang diprediksi akan memperlebar defisit fiskal negara tersebut. Hal ini memicu kekhawatiran lembaga pemeringkat dan menyebabkan tekanan pada obligasi serta nilai tukar dolar AS.
Disamping itu, Mahendra juga menyampaikan, bahwa perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan.
“Pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2025 tercatat 4,87%, meski sedikit melambat. Permintaan rumah tangga tetap menjadi penggerak utama, tumbuh sebesar 4,89%. Inflasi dalam negeri pun masih terkendali di angka 1,95%, sesuai target Bank Indonesia,”katanya
Mahendra menambahkan bahwa beberapa indikator ekonomi Indonesia masih menunjukkan resiliensi, Neraca perdagangan terus mencatat surplus, defisit transaksi berjalan menyempit menjadi hanya 0,05% dari Produk Domestik Bruto (PDB), turun dari sebelumnya 0,87%. Cadangan devisa juga tetap kuat di level yang tinggi, menjadi salah satu penyangga utama kestabilan ekonomi nasional.
Dalam menghadapi tantangan global, Mahendra menegaskan pentingnya kewaspadaan dan kesiapan dari seluruh pelaku sektor jasa keuangan. “Di tengah perlambatan ekonomi global, suku bunga tinggi, dan proses perundingan dagang yang belum selesai, kita perlu terus mencermati dampaknya terhadap kinerja debitur dan sektor jasa keuangan. Kami mendorong pelaku usaha melakukan asesmen komprehensif agar bisa mengambil langkah mitigasi yang tepat,” ucapnya.
OJK juga terus menyempurnakan berbagai kebijakan untuk memperdalam pasar keuangan nasional. Dalam pelaksanaannya, OJK bersinergi dengan kementerian, lembaga, dan pemangku kepentingan lainnya untuk memperkuat daya saing, menjaga kinerja sektor jasa keuangan, serta memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan dalam jangka panjang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....