Ruhui Barakatan: Fenomena Orderan Fiktif Ojol dan Solusinya

  • 09 Mar 2025 23:18 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin: Program siaran Obrolan Budaya Ruhui Barakatan yang berlangsung pada Sabtu (8/3/2025), di Studio RRI Pro4 Banjarmasin menghadirkan obrolan menarik mengenai fenomena orderan fiktif yang sering dialami oleh pengemudi ojek online (ojol). Acara ini juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube @pro4rribanjarmasin.

Hadir sebagai narasumber dalam acara ini adalah Ahmad Muhajir, Phd, Dosen Fakultas Syariah UIN Antasari Banjarmasin, bersama dengan mahasiswanya, Nor Ahmad Muharam.

Nor Ahmad Muharam menjelaskan bahwa order fiktif adalah pesanan palsu yang dibuat oleh pihak tertentu, sehingga pengemudi ojol mengalami kerugian baik secara finansial maupun psikologis. “Banyak kasus di mana pengemudi sudah membeli makanan atau mengantar ke lokasi, tetapi ternyata tidak ada pelanggan yang memesan. Mereka akhirnya harus menanggung biaya sendiri,” kata Muharam.

Ahmad Muhajir menambahkan bahwa fenomena ini tidak hanya merugikan pengemudi secara individu tetapi juga menunjukkan adanya celah dalam regulasi dan sistem aplikasi transportasi daring.

Lebih lanjut, obrolan ini menyoroti berbagai motif di balik orderan fiktif. Beberapa di antaranya adalah iseng semata, persaingan tidak sehat antar-pengemudi, hingga upaya untuk memanipulasi sistem aplikasi.

"Regulasi yang lebih ketat serta sistem keamanan yang lebih baik dari pihak perusahaan aplikasi sangat diperlukan. “Seharusnya ada sistem verifikasi lebih lanjut agar pesanan dapat dipastikan valid sebelum driver menerima,” ucapnya menambahkan

Selain itu, perbincangan juga menyinggung bagaimana perusahaan transportasi daring menangani kasus orderan fiktif. Beberapa platform telah menerapkan kebijakan seperti sistem verifikasi pelanggan dan skema kompensasi bagi pengemudi yang mengalami kerugian. Namun, proses pengajuan kompensasi sering kali dianggap rumit dan memakan waktu.

“Diperlukan kebijakan yang lebih cepat dan efektif agar pengemudi tidak merasa dirugikan,” ujar Muharam.

Menurut Ahmad Muhajir, fenomena ini juga mencerminkan tantangan yang lebih besar dalam sistem kerja gig economy yang mengandalkan fleksibilitas tetapi sering kali mengorbankan perlindungan bagi pekerjanya. Ia menekankan bahwa perusahaan harus lebih proaktif dalam memastikan kesejahteraan pengemudi.

“Keseimbangan antara fleksibilitas kerja dan perlindungan bagi pengemudi sangat penting untuk menciptakan ekosistem transportasi daring yang lebih adil,” katanya.

Melalui siaran Ruhui Barakatan ini, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap dampak negatif order fiktif semakin meningkat. Selain itu, obrolan ini juga mendorong pihak terkait untuk memperbaiki sistem dan regulasi agar pengemudi ojol dapat bekerja dengan lebih aman dan nyaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....