Anang Syahrani: 'Kabakaran Bakakaduan'
- 07 Okt 2026 07:25 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Wilayah Kalimantan Selatan hingga saat ini masih belum sepenuhnya terbebas dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut disampaikan oleh H. Anang Syahrani melalui kisah Palui dengan bahasa dan humor khas Banjar, Selasa, 6 Oktober 2026.
Tema 'kabakaran bakakaduan' menjadi kisah unik dan penuh pesan yang dihadirkan H. Anang Syahrani dalam acara Ragam Budaya Madihin Syair Bakisah di RRI Pro.4 Banjarmasin. Ia menjelaskan jika Bakran dan kakaknya yang bernama Duan adalah bagian dari kisah perpaduan antara bahasa Indonesia dan bahasa Banjar.
Kisah Palui dalam seni madihin syair bakisah tentang Bakran dan Duan menghadirkan permainan makna bahasa Banjar. Ungkapan “kabakaran bakakaduan” sekilas terdengar seperti kabar kebakaran, apalagi di tengah karhutla yang melanda Banua. Padahal, ungkapan itu merujuk pada Bakran dan Duan, dua saudara yang lama tak bertemu lalu berpelukan erat, yakni ka Bakran yang memiliki kakak bernama Duan. Sedangkan 'bakakaduan' sendiri dalam bahasa Banjar artinya saling mengadu atau sesuatu yang saling bertentangan. Inilah keunikan madihin, memainkan bahasa untuk menghadirkan humor dan pesan.
Menurut Anang Syahrani, madihin bukan hanya permainan kata, namun seni lisan yang penuh makna. Setiap kata dan kalimat disusun dengan cermat agar pesan yang disampaikan tetap memiliki makna dan tidak kehilangan konteks budaya.
“Madihin itu seni yang dilisankan melalui permainan bahasa sehingga menjadi karya yang punya rasa dan makna. Menggunakan bahasa Banjar dan kadang dikolaborasikan dengan bahasa Indonesia.” ujar Anang Syahrani
Maestro Madihin itu juga mengungkapkan jika sebuah seni merupakan gambaran dari penciptaan Tuhan. Selain memiliki keindahan, seni juga mengandung pesan. Baik pada seni Madihin dan Bakisah, seni Basyair juga disusun dengan pemilihan kata yang indah sekaligus bermakna. “Bagi saya, seni itu hobi, skill, sekaligus teman," kata Anang Syahrani
Tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, seni juga diharapkan mampu mengajak masyarakat untuk berpikir sekaligus mengingat Tuhan. Menurutnya, bahasa Banjar juga harus dipahami sesuai konteks agar maknanya tidak bias saat diterjemahkan. “Pelan-pelan syair itu disusun dengan bahasa yang indah, dari hulu ke hilir, semoga menjadi zikir dan pikir,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....