Frugal Living Ala Si Mbah.
- 31 Agt 2026 06:33 WIB
- Banjarmasin
RRI.GO.ID, Banjarmasin; Gaya hidup frugal living atau hidup hemat belakangan semakin populer sebagai salah satu cara mengelola keuangan di tengah kebutuhan hidup yang terus meningkat. Namun, hidup hemat ternyata bukanlah konsep baru. Jauh sebelum istilah frugal living dikenal, para orang tua dan simbah dalam budaya Jawa telah menerapkannya melalui kebiasaan hidup sederhana, cermat, dan tidak berlebihan.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program Ragam Budaya Sambung Roso Pro4 RRI Banjarmasin, Rabu, 26 Agustus 2026 dengan tema “Frugal Living Ala Si Mbah, Resep Hemat dan Bahagia Orang Jawa”, bersama narasumber Trining Puji Astutik. Ia menjelaskan, gaya hidup hemat yang dilakukan generasi terdahulu bukan semata-mata karena keterbatasan ekonomi, tetapi juga lahir dari cara pandang yang menghargai setiap hasil usaha dan mengajarkan kecukupan.
Dalam filosofi Jawa, menurut Trining, terdapat prinsip Gemi, Nastiti, Ngati-ati yang menjadi bagian penting dalam mengelola kehidupan. Gemi berarti hemat dan tidak konsumtif, nastiti berarti cermat serta teliti dalam mengatur pengeluaran, sedangkan ngati-ati mengajarkan sikap waspada. Prinsip tersebut dinilai tetap relevan diterapkan saat ini, terutama agar masyarakat tidak mudah terjebak pada utang maupun gaya hidup demi gengsi.
“Hidup hemat bukan berarti pelit. Kita belajar menghargai apa yang kita punya, menggunakan sesuai kebutuhan, dan tidak memaksakan diri hanya untuk mengikuti gengsi,” ujar Trining.
Ia juga mengangkat filosofi Sugih Tanpa Benda, bahwa kekayaan tidak selalu ditentukan oleh banyaknya barang yang dimiliki, melainkan oleh ketenangan pikiran dan kemampuan menjalani hidup tanpa terbebani utang karena tuntutan gaya hidup.
Kearifan si mbah juga terlihat dari cara mengelola dapur dan rumah tangga. Makanan yang tersisa tidak serta-merta dibuang, tetapi diolah kembali menjadi hidangan lain. Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa menghemat pengeluaran dapat dimulai dari hal-hal sederhana, termasuk mengurangi pemborosan makanan. Bahkan berbagai nasihat atau pamali tentang larangan membuang beras menjadi bentuk pendidikan agar anak-anak menghargai makanan dan usaha untuk mendapatkannya.
Selain mengatur pengeluaran, kebahagiaan dalam kehidupan orang Jawa juga tidak selalu dikaitkan dengan kemampuan berbelanja atau menikmati hiburan mahal. Budaya srawung, berkumpul, berbincang, dan jagongan bersama keluarga maupun tetangga menjadi cara sederhana untuk membangun kebersamaan sekaligus melepas penat.
Melalui Frugal Living Ala Si Mbah, generasi masa kini diajak melihat kembali bahwa banyak solusi menghadapi tekanan ekonomi sebenarnya telah diwariskan melalui kearifan budaya. Menabung sedikit demi sedikit, menggunakan sesuatu secara bijak, tidak membuang makanan, serta menjaga hubungan sosial dapat menjadi langkah sederhana menuju kehidupan yang lebih tenang. Sebuah pengingat bahwa hidup bahagia tidak harus selalu mahal, karena sering kali kebahagiaan justru tumbuh dari rasa cukup, kebersamaan, dan kemampuan mensyukuri apa yang dimiliki.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....