Tapak Desa BEM ULM Kembangkan Budaya di Desa Pembakulan

  • 20 Agt 2026 05:34 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Tidak semua mahasiswa memiliki kesempatan mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kondisi ini menjadi salah satu latar belakang hadirnya Tapak Desa BEM ULM 2026.

Kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk merasakan langsung pengalaman pengabdian kepada masyarakat. Program Tapak Desa BEM ULM 2026 diinisiasi bidang Kemasyarakatan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat.

“Tapak Desa ini hadir bagi teman-teman yang ingin merasakan suasana pengabdian desa untuk jurusan mereka yang tidak mengadakan KKN,” ujar Reza, Ketua Pelaksana Tapak Desa, saat dialog Pro 2 Budaya dan Pariwisata di RRI Banjarmasin, Minggu,16 Agustus 2026.

Nayla, Sekretaris Bidang Kemasyarakatan, memaparkan fokus program tahun ini yang ditujukan untuk pengembangan budaya. “Kita membuat sanggar dan sejenisnya, jadi kalau untuk pengabdian tahun ini memang kami berfokus di bidang budaya,” ucapnya.

Kegiatan yang dilaksanakan di Desa Pembakulan, Kabupaten Hulu sungai Tengah ini diminati para pemuda desa. Menurut Reza, antusiasme pemuda terhadap budaya masih dibatasi dengan wadah pengembangan yang tersedia di desa.

“Generasi muda cukup antusias dengan budaya-budaya mereka, hanya saja wadah untuk mereka berbudaya masih terbatas,” ujar Reza. “Dengan keterbatasan tersebut, mereka masih kesusahan untuk tumbuh dan berkembang.”

Sebelum Tim Tapak Desa menuju tempat tujuan, mereka melakukan survei untuk mengenali potensi desa yang dituju. Dari survei tersebut, tim menemukan potensi budaya yang layak untuk dilestarikan sebagai tujuan dari pengabdian di Desa Pembakulan.

“Anak-anak disana kalau mau tampil di luar, mereka harus bergabung dengan sanggar tari di luar misalnya di kota Barabai. Padahal kalau dilihat-lihat, kalau mereka membangun sanggar tari di desa, mereka bisa bersaing dengan sanggar tari di Barabai,” ucap Reza.

Nayla menyatakan sebelumnya Sanggar sudah tersedia di desa tetapi keberadaannya belum dianggap resmi. Dengan adanya pengabdian masyarakat Tapak Desa, sanggar tersebut telah diresmikan dan mendapat surat keputusan yang resmi.

Dalam pengabdiannya, Reza dan tim mencoba untuk memajukan sanggar agar menjadi wadah berkembangnya budaya di Desa Pembakulan. Sanggar tari dengan nama “Kilau Hadat Meratus” ini kini menjadi wadah pembinaan masyarakat untuk melestarikan seni di desa.

“Nama ini memang dicetuskan oleh pemuda-pemuda disana dan memiliki arti pancaran kilau adat dari meratus,” ucap Reza. “Harapannya sanggar ini bisa meningkatkan prestasi dan kepercayaan diri mereka juga memperkenalkan budaya di Desa Pembakulan itu sendiri.”

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....