Dari Lamut hingga Kapata, Kekayaan Sastra Lisan Indonesia yang Perlu Dilestarikan

  • 07 Agt 2026 15:58 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin -Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan tradisi dan budaya, termasuk sastra lisan yang diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun. Tradisi ini tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga berfungsi sebagai media penyampai sejarah, nilai-nilai kehidupan, adat istiadat, hingga identitas budaya masyarakat di berbagai daerah.

Mengutip artikel Badanbahasa.kemendikdasmen.go.id, setiap wilayah Nusantara, sastra lisan memiliki bentuk dan ciri khas yang berbeda. Meski disampaikan melalui tuturan, nyanyian, atau syair, seluruhnya memiliki tujuan yang sama, yakni menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah dan kearifan lokal yang diwariskan oleh para leluhur.

Di Maluku, masyarakat mengenal Kapata, yaitu nyanyian adat yang berisi kisah pembentukan negeri, silsilah keluarga, serta petuah para leluhur. Kapata biasanya dibawakan dalam upacara adat dan menjadi bagian penting dalam menjaga identitas masyarakat Maluku. Melalui syair-syairnya, sejarah lokal tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sementara itu, masyarakat Gorontalo memiliki tradisi Tanggomo atau Tanggoalo, yakni sastra lisan berbentuk puisi naratif yang dilagukan. Tradisi ini digunakan untuk menyampaikan berbagai peristiwa penting, sejarah daerah, hingga pesan-pesan moral kepada masyarakat. Dahulu, Tanggomo juga menjadi media penyebaran informasi sebelum berkembangnya media modern.

Di Sulawesi Selatan, khususnya masyarakat Makassar, berkembang tradisi Sinrilik. Seni bertutur ini disampaikan dengan cara dilagukan menggunakan iringan alat musik tradisional dan umumnya mengangkat kisah kepahlawanan, perjalanan tokoh-tokoh besar, serta sejarah kerajaan di masa lampau. Sinrilik menjadi salah satu bentuk sastra lisan yang memperkaya khazanah budaya Bugis-Makassar.

Kalimantan Selatan juga memiliki tradisi sastra lisan yang dikenal sebagai Lamut. Kesenian khas masyarakat Banjar ini mengisahkan cerita-cerita kerajaan, kepahlawanan, hingga nilai-nilai kehidupan yang dibawakan oleh seorang pelamut. Dengan iringan alat musik tradisional, pertunjukan Lamut menjadi media hiburan sekaligus sarana pendidikan budaya bagi masyarakat Banjar.

Sementara di Aceh, masyarakat suku Gayo melestarikan tradisi Didong, yaitu kesenian yang memadukan sastra lisan, vokal, gerak tubuh, dan tepukan tangan. Didong tidak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga menjadi media dakwah, pendidikan, dan penyampaian pesan-pesan sosial. Keunikan penyajiannya menjadikan Didong sebagai salah satu warisan budaya yang masih bertahan hingga kini.

Para budayawan menilai keberadaan sastra lisan memiliki peran penting dalam menjaga jati diri bangsa di tengah derasnya arus globalisasi. Melalui tradisi bertutur, generasi muda dapat mengenal sejarah, nilai luhur, serta filosofi kehidupan yang diwariskan oleh nenek moyang. Oleh karena itu, pelestarian sastra lisan menjadi tanggung jawab bersama, baik pemerintah, lembaga pendidikan, maupun masyarakat.

Mengutip Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, serta data Warisan Budaya Takbenda Indonesia, tradisi seperti Kapata, Tanggomo, Sinrilik, Lamut, dan Didong merupakan bagian dari kekayaan budaya Nusantara yang patut dijaga dan dilestarikan. Di era digital saat ini, berbagai upaya dokumentasi, penelitian, dan pengenalan kepada generasi muda terus dilakukan agar warisan sastra lisan Indonesia tetap hidup dan dikenal oleh masyarakat dunia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....