Ketahanan Mental di Era Globalisasi
- 23 Jul 2026 06:33 WIB
- Banjarmasin
RRI .CO.ID, Banjarmasin: Ketahanan mental menjadi salah satu modal utama yang harus dimiliki generasi muda untuk menghadapi derasnya arus globalisasi. Kemajuan teknologi, perkembangan media sosial, hingga persaingan yang semakin ketat di dunia pendidikan dan pekerjaan menuntut pemuda memiliki kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program Ragam Budaya Ruhui Barakatan RRI Pro 4 Banjarmasin dengan tema “Membangun Ketahanan Mental Pemuda dalam Menghadapi Era Globalisasi”, menghadirkan narasumber Dr. Hj. Mariani, S.H., M.Ag., Dosen Fakultas Syariah UIN Antasari, bersama dua mahasiswa Fakultas Syariah UIN Antasari, Rahmaniyah dan Akhmad Haris.
Dalam paparannya Dr. Hj. Mariani menjelaskan bahwa ketahanan mental atau mental resilience merupakan kemampuan seseorang untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit kembali ketika menghadapi tekanan maupun kegagalan. Menurutnya, kemampuan tersebut bukanlah bakat yang dimiliki sejak lahir, melainkan dapat dibangun melalui proses pembelajaran, dukungan lingkungan, serta pengalaman hidup.
Materi yang disampaikan juga menyoroti bahwa pemuda dengan ketahanan mental yang baik cenderung lebih optimistis, mampu mengelola emosi, serta menjadikan setiap tantangan sebagai peluang untuk berkembang.
“Ketahanan mental tidak hanya berarti mampu bertahan menghadapi tekanan, tetapi juga memiliki kemampuan beradaptasi, bangkit dari kegagalan, dan tetap memegang nilai-nilai moral serta budaya di tengah perubahan zaman,” ujar Dr. Hj. Mariani. Sabtu, 18 Juli 2026.
Ia menambahkan, tantangan terbesar yang dihadapi pemuda saat ini antara lain tekanan akademik, persaingan dunia kerja, paparan media sosial yang sering menghadirkan standar kesuksesan yang tidak realistis, hingga krisis identitas akibat derasnya pengaruh budaya global. Jika tidak diimbangi dengan kemampuan mengelola emosi dan lingkungan yang suportif, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kesehatan mental generasi muda.
Sementara itu, Rahmaniyah dan Akhmad Haris membagikan pandangan dari perspektif mahasiswa. Keduanya menilai bahwa menjaga keseimbangan antara aktivitas akademik, organisasi, kehidupan sosial, dan spiritual menjadi salah satu cara efektif membangun mental yang sehat. Mereka juga mengajak generasi muda untuk tidak ragu mencari dukungan dari keluarga, sahabat, dosen, maupun tenaga profesional ketika menghadapi tekanan yang sulit diatasi sendiri.
Dalam diskusi tersebut juga ditegaskan bahwa keluarga, lembaga pendidikan, komunitas, serta organisasi kemasyarakatan memiliki peran strategis dalam membangun karakter dan ketahanan mental pemuda. Lingkungan yang terbuka, komunikasi yang baik, serta penguatan nilai-nilai agama dan budaya dinilai mampu menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi yang tangguh menghadapi perubahan zaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....