Berbagai Alat Tangkap Ikan dalam Tradisi Maunjun
- 11 Jul 2026 11:49 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Kondisi geografis Kalimantan Selatan yang didominasi sungai dan rawa melahirkan beragam alat tangkap ikan tradisional. Perbedaan karakteristik perairan membuat masyarakat Banjar menyesuaikan alat tangkap dengan lokasi dan kondisi sungai.
Hal tersebut dibahas oleh anggota Komunitas Palalah, yakni Neza, Syauqani, dan Erwin, dalam program Pandiran Baisukan RRI Pro4 Banjarmasin, Sabtu, 11 Juli 2026. Menurut mereka, tradisi memancing atau maunjun dalam bahasa Banjar memiliki kekhasan tersendiri yang mencerminkan kearifan lokal masyarakat.
"Salah satu alat tangkap ikan adalah tangguk yang terbuat dari paring, bentuknya oval, dipinggirnya diikat rotan," ujar Syauqani. "Tangguk tidak mungkin digunakan di Sungai Barito yang dalam karena tidak relevan."
Neza menjelaskan bahwa alat tangkap ikan untuk wilayah rawa berbeda dengan yang digunakan di sungai. Salah satunya adalah lukah, yaitu perangkap berbahan bambu berbentuk lonjong dengan pintu masuk menyerupai kerucut.
"Biasanya ditaruh umpan keong dan setelah ikan atau belut masuk ke situ, dia tidak bisa lagi keluar," ujar Neza. "Cara memasangnya di rawa, ditinggal selama satu hingga dua hari, kemudian diangkat."
Selain lukah, masyarakat Banjar juga mengenal tampirai, alat tangkap berbahan kawat besi berbentuk persegi panjang. Ada pula lunta, yaitu jaring tradisional yang lebih fleksibel karena dapat digunakan baik di sungai maupun di rawa.
Ketiga narasumber berharap tradisi maunjun beserta berbagai alat tangkap ikan tradisional tetap dilestarikan. Menurut mereka, warisan budaya tersebut menjadi bagian dari identitas masyarakat Banjar yang menunjukkan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan perairan Kalimantan Selatan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....