Revitalisasi Topeng Banjar, Langkah Strategis Jaga Budaya Lokal

  • 21 Jun 2026 19:56 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Kesenian Topeng Banjar kini mulai jarang terlihat di ruang publik hingga memicu kekhawatiran akan punahnya budaya lokal tersebut. Merespons kondisi itu, UPTD Taman Budaya Kalimantan Selatan bersama akademisi dan seniman menggelar agenda Revitalisasi Warisan Budaya Topeng Banjar.

Kegiatan yang berlangsung pada 19 hingga 20 Juni 2026 tersebut menghadirkan sarasehan serta pertunjukan seni secara langsung. Mengusung tema Ma'angkat Marwah, Maharagu Warisan Leluhur, gerakan ini diharapkan dapat melestarikan sekaligus mengembangkan kembali budaya daerah yang sarat nilai historis.

Kepala UPTD Taman Budaya Kalsel, Rizal Pahmi, menjelaskan bahwa kesenian Topeng Banjar merupakan identitas budaya masyarakat Banjar yang wajib dijaga. Menurutnya, langkah revitalisasi ini dilakukan agar kesenian tersebut mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa merusak pakem asli dari para leluhur.

"Dengan pembaharuan ini kita harapkan Topeng Banjar dapat tetap berkembang dan dikenal oleh masyarakat kita. Selain itu juga tetap menjaga nilai-nilai luhur dan tetap relevan," ucapnya Sabtu, 20 Juni 2026.

Sementara itu, langkah pembaruan salah satunya diinisiasi oleh seniman tari Kalsel, Lupi Anderiani, melalui ciptaan karya baru bertajuk Tari Topeng Srikandi. Karya modifikasi tersebut dikembangkan di luar pakem klasik Topeng Panji yang selama ini disakralkan oleh masyarakat adat.

Ia menjelaskan bahwa Topeng Banjar klasik yang berkembang di wilayah Barikin, Hulu Sungai Tengah, memiliki aturan adat yang sangat ketat. Pertunjukannya pun hanya dilakukan terbatas pada agenda sakral seperti upacara adat, ritual tolak bala, hingga proses pengobatan tradisional.

"Oleh karena itu, regenerasinya memang juga cukup rumit. Karena memang hanya diturunkan pada para pewaris saja," ucapnya.

Di balik fenomena adat itulah, lahir Tari Topeng Srikandi yang diadaptasi dari kisah Mahabharata. Meski merupakan bentuk kreasi baru, ia mengaku tetap melakukan riset mendalam dan pendekatan khusus kepada sejumlah tokoh adat sebelum menciptakan garapan tersebut.

"Kami bertanya juga apakah diizinkan untuk menggarap dengan latar belakang adaptasi kisah baru. Salah satu yang memberikan izin adalah almarhum Dalang Dimansyah," ujarnya menjelaskan.

Hingga saat ini, karya kreasi baru tersebut masih dalam tahap penyempurnaan agar bisa diterima lebih luas. Ruang diskusi dan masukan dari berbagai pelaku seni lain pun terus dibuka demi mendukung pelestarian kebudayaan lokal tersebut.

Melalui kolaborasi ini, revitalisasi diharapkan menjadi awal dari kebangkitan kembali eksistensi seni tradisi daerah. Inovasi karya yang lahir dari para seniman menjadi kunci agar kebudayaan asli Banjar tetap hidup dan diminati oleh generasi muda.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....