Menyusuri Punggung Meratus, Menyaksikan Kehidupan yang Tetap Terjaga
- 17 Jun 2026 11:43 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Pagi itu pada tahun 2017, saya bersama rombongan mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin memulai perjalanan menuju Balai Buntu Kindingan, sebuah balai adat masyarakat Dayak Meratus yang berada di Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.
Perjalanan dimulai dari Banjarmasin menggunakan sebuah taksi L300. Kendaraan itu membawa kami menyusuri jalan pegunungan yang semakin jauh meninggalkan keramaian kota. Perlahan jalan beraspal berubah menjadi jalan berbatu, lalu berganti menjadi tanah merah yang membelah perbukitan Meratus.
Di kiri dan kanan jalan, hutan tropis berdiri rapat seperti benteng alam yang menjaga pegunungan tertua di Kalimantan Selatan itu. Udara terasa semakin sejuk. Sinyal telepon genggam menghilang. Dunia modern perlahan tertinggal di belakang.
Beberapa jam kemudian, kendaraan yang kami tumpangi berhenti di sebuah desa terakhir yang masih dapat dijangkau mobil. Di sanalah perjalanan sesungguhnya dimulai.
Kami beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menuju Balai Buntu Kindingan. Hujan yang turun sehari sebelumnya membuat jalur yang akan kami lalui berubah menjadi lintasan tanah merah yang berlumpur dan licin.
Tidak ada pilihan selain berjalan kaki. Langkah demi langkah kami menapaki jalan setapak yang menanjak. Beberapa kali sepatu terperosok ke dalam lumpur. Sesekali kami harus berpegangan pada akar pohon atau batang bambu agar tidak tergelincir.
Meski melelahkan, perjalanan itu menghadirkan pengalaman yang sulit dilupakan. Di sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan hutan Meratus yang masih alami. Suara burung bersahut-sahutan dari kejauhan. Gemericik anak sungai mengiringi perjalanan yang terasa begitu jauh dari hiruk pikuk perkotaan.

"Saya baru sadar ternyata perjuangan menuju sebuah komunitas adat tidak semudah yang dibayangkan. Jalan yang kami lalui sangat berat, tetapi justru itu yang membuat pengalaman ini terasa berharga," ujar Abdul Kadir, salah seorang mahasiswa Sejarah ULM yang ikut dalam perjalanan tersebut.
Menjelang sore, setelah berjalan cukup lama, kami akhirnya tiba di Balai Buntu Kindingan. Bangunan kayu panjang itu berdiri sederhana di tengah perbukitan. Anak-anak berlarian di halaman tanpa alas kaki. Beberapa warga menyambut kami dengan senyum ramah. Tidak ada kesan canggung meski kami datang dari luar komunitas mereka.
Kedatangan kami bertepatan dengan pelaksanaan Aruh Bawanang, sebuah ritual adat sebagai ungkapan syukur atas hasil panen padi yang diperoleh masyarakat Dayak Meratus.
Sejak sore, suasana balai mulai ramai. Kaum perempuan sibuk menyiapkan berbagai hidangan tradisional, sementara para lelaki mempersiapkan perlengkapan ritual. Aroma masakan bercampur dengan harum kayu dan udara pegunungan yang lembap setelah hujan.
Ketika malam turun, Balai Buntu Kindingan berubah menjadi pusat kehidupan masyarakat. Di bawah cahaya lampu sederhana, ritual Aruh Bawanang dimulai. Warga berkumpul memenuhi balai. Doa-doa dipanjatkan. Nyanyian adat dan bunyi alat musik tradisional mengalun sepanjang malam.
Seorang tetua adat, Abraham menjelaskan bahwa ritual tersebut merupakan bentuk rasa syukur atas hasil panen yang telah diberikan oleh Sang Pencipta. "Padi adalah sumber kehidupan kami. Melalui Aruh Bawanang, kami mengucapkan syukur dan memohon agar kehidupan tetap diberkahi serta alam tetap memberikan hasil yang baik, bagi masyarakat Meratus, padi bukan sekadar tanaman pangan. Padi adalah simbol kehidupan yang harus dihormati, ucapnya.

Saya duduk di sudut balai memperhatikan wajah-wajah warga yang mengikuti ritual. Anak-anak, orang dewasa, hingga para tetua larut dalam suasana yang khidmat namun hangat.
"Saya merasa seperti sedang melihat sejarah yang hidup. Tradisi ini bukan sekadar pertunjukan budaya, tetapi benar-benar menjadi bagian dari kehidupan masyarakat," kata Abdul Kadir.
Ritual berlangsung hingga dini hari. Di luar balai, udara pegunungan terasa dingin. Langit Meratus bertabur bintang tanpa terhalang cahaya kota.
Keesokan harinya, saat mengunjungi rumah-rumah warga, saya menyaksikan sebuah pemandangan yang hingga kini masih tersimpan dalam ingatan.
Di sebuah rumah kayu sederhana, seorang ayah duduk bersila sambil mengayun anaknya menggunakan pukung, ayunan kain tradisional yang digunakan masyarakat untuk menidurkan bayi.
Gerakannya perlahan dan penuh kelembutan. Sang bayi tampak tenang dalam balutan kain yang digantung pada tiang rumah.Saya mengangkat kamera dan mengabadikan momen tersebut.
Hairiyadi, Dosen Sejarah dari FKIP ULM Banjarmasin yang menjadi ketua rombongan kami menjelaskan bahwa tradisi bapukung telah diwariskan turun-temurun oleh leluhur mereka.

"Dari dulu mereka membapukung anak-anaknya. Anak jadi lebih tenang dan mudah tidur. Sambil mengayun biasanya orang tua juga memberikan doa-doa baik untuk anaknya," ucapnya.
Pemandangan sederhana itu membuat beberapa mahasiswa terdiam. "Saya tersentuh melihatnya. Tidak ada teknologi canggih, tetapi ada kasih sayang yang begitu kuat antara orang tua dan anak. Rasanya sangat berbeda dengan kehidupan di kota," kata Rada, mahasiswa peserta perjalanan.
Saat itu saya menyadari bahwa perjalanan ke Balai Buntu Kindingan bukan hanya tentang mendatangi sebuah tempat di pedalaman Meratus.
Perjalanan itu adalah kesempatan untuk melihat bagaimana masyarakat menjaga hubungan dengan alam, mempertahankan tradisi leluhur, dan merawat nilai-nilai kebersamaan yang mulai jarang ditemukan di banyak tempat.
Ketika kami kembali menyusuri jalan tanah merah yang sama menuju desa terakhir tempat L300 menunggu, ada rasa berat meninggalkan perkampungan tersebut. Namun Pegunungan Meratus telah meninggalkan pelajaran berharga.
Bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dalam kemewahan. Ia bisa ditemukan dalam rasa syukur atas panen yang berhasil dipetik, dalam hangatnya sambutan kepada tamu yang datang dari jauh, dan dalam ayunan pukung yang digerakkan perlahan oleh seorang ayah untuk menidurkan anaknya.
Bertahun-tahun kemudian, foto dan kenangan perjalanan itu masih tersimpan. Mengingatkan saya bahwa di balik rimbunnya hutan Meratus, ada kehidupan yang terus menjaga tradisi, kesederhanaan, dan nilai-nilai kemanusiaan yang begitu luhur.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....