Pa Haji dan Ma Haji, Simbol Penghormatan dalam Budaya Masyarakat Banjar
- 14 Jun 2026 20:06 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Program Pandiran Baisukan RRI Pro4 Banjarmasin, Jumat, 12 Juni 2026, mengangkat tema "Panggilan Pa Haji dan Ma Haji sebagai Simbol Status Sosial Masyarakat Banjar". Siaran edisi ini menghadirkan Akademisi UIN Antasari, Najib Irsyadi, M.Hum., dan mahasiswa UIN Antasari, Muhammad Aldiro Rayhandi, sebagai narasumber.
Najib menjelaskan bahwa masyarakat Banjar memiliki tradisi khusus dalam menyapa seseorang yang telah menunaikan ibadah haji. Mereka umumnya dipanggil dengan sebutan Pa Haji atau Ma Haji sebagai bentuk penghormatan atas ibadah yang telah dijalankan.
“Jadi tidak lagi memanggil dengan sebutan seperti mamanya siapa atau abahnya siapa,” ujar Najib. “Meskipun seseorang itu dalam strata sosialnya biasa saja, tetapi karena sudah menunaikan ibadah haji, maka panggilannya berbeda dan lebih dihormati.”
Ia mengatakan, antusiasme masyarakat Banjar untuk menunaikan ibadah haji telah berlangsung sejak lama. Bahkan, pada masa lalu perjalanan ke Tanah Suci lebih identik dengan ibadah haji karena fasilitas transportasi yang tersedia masih terbatas.
Namun, seiring perkembangan zaman dan kemajuan sarana transportasi, masyarakat kini juga lebih mudah melaksanakan ibadah umrah. Meski demikian, menurut Najib, gelar haji tetap memiliki posisi istimewa di tengah masyarakat Banjar.
Dalam pandangan masyarakat Banjar, gelar haji tidak hanya menunjukkan bahwa seseorang telah menunaikan rukun Islam kelima, tetapi juga dianggap merepresentasikan kedalaman ilmu agama dan kesalehan seseorang. Karena itu, para jemaah haji sering ditempatkan pada posisi terhormat, seperti memimpin doa, menjadi imam salat, atau menyampaikan ceramah.
Sementara itu, Rayhandi menambahkan bahwa sapaan Pa Haji dan Ma Haji merupakan bagian dari kearifan lokal yang berkembang selaras dengan nilai-nilai Islam. Selain panggilan tersebut, masyarakat juga mengenal tradisi mengenakan atribut atau busana bernuansa Timur Tengah setelah seseorang menunaikan ibadah haji.
“Panggilan Pa Haji, Ma Haji, dan atribut ala Timur Tengah setelah seseorang berhaji itu bentuk rasa syukur dan penghormatan,” ujar Rayhan. “Tapi semoga itu semua tidak membuat seseorang merasa lebih mulia daripada orang lain.”
Kedua narasumber mengingatkan bahwa ibadah haji bukan sekadar gelar atau simbol status sosial. Lebih dari itu, haji seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan amal saleh dan memperbaiki perilaku sehingga perubahan positif tersebut dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....