Petuah Banjar Ajarkan Adab dan Nilai Kehidupan lewat Bahasa Kiasan

  • 08 Jun 2026 19:39 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Pitua dalam bahasa Banjar berarti petuah atau nasihat yang diwariskan oleh para leluhur. Nilai-nilai tersebut dibahas oleh Faisal Embron, Yulia Wiranda, dan Achmad Ruzaini, S.Pd., dalam program Ragam Budaya RRI Pro4 Banjarmasin, Minggu, 7 Juni 2026.

Faisal menjelaskan bahwa masyarakat Banjar tempo dulu sering menyampaikan nasihat, larangan, maupun teguran melalui bahasa kiasan, termasuk dalam bentuk syair. Petuah tersebut berfungsi sebagai sarana pendidikan moral dan adab yang diwariskan dari generasi ke generasi.

“Bila anak-anak sudah disampaikan pitua tetapi belum juga sadar, barulah mereka ditegur secara gamblang,” ujar Faisal. “Misalnya, pitua jangan duduk di atas bantal karena bisa bisulan. Padahal esensinya bukan soal bisul, melainkan karena bantal adalah tempat kepala sehingga tidak pantas diduduki. Jadi, ini sebenarnya berkaitan dengan adab.”

Ia juga mencontohkan peribahasa Banjar, ‘Jangan kaya kumpai mengalahkan banua’, yang secara harfiah berarti jangan sampai rumput liar mengalahkan kampung halaman. Petuah tersebut mengandung pesan agar seseorang, terutama pendatang, tetap menghormati tuan rumah dan lingkungan tempat tinggalnya.

Menurut Faisal, makna petuah itu sejalan dengan pepatah, “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Nilai tersebut mengajarkan pentingnya menghormati adat, budaya, dan aturan yang berlaku di suatu tempat.

Petuah lainnya adalah ‘Jangan baduduk di muhara lawang, kena lambat kawin’, yang melarang seseorang duduk di depan pintu karena dipercaya dapat menghambat jodoh. Namun, makna filosofisnya adalah teguran agar seseorang tidak membuang waktu dengan bermalas-malasan atau melamun di depan pintu.

Sementara itu, Achmad Ruzaini menyampaikan pitua yang cukup dikenal dalam masyarakat Banjar, yakni ‘Jangan guring imbah ashar’ atau jangan tidur setelah waktu Asar. Larangan tersebut secara tradisional dipercaya dapat menyebabkan pikun hingga gangguan jiwa.

Menurutnya, pesan yang ingin disampaikan bukan semata-mata mengenai akibat yang dipercaya masyarakat, melainkan untuk membiasakan hidup produktif dan tidak menghabiskan waktu sore dengan tidur, kecuali bagi orang yang sedang sakit atau memiliki kondisi tertentu.

Para narasumber menilai pitua merupakan warisan budaya yang mengandung nilai pendidikan, etika, dan kearifan lokal. Meski disampaikan melalui bahasa kiasan, pesan-pesan tersebut tetap relevan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....