Ungkapan Banjar “Masak Dikarbit” dan Pentingnya Sebuah Proses

  • 30 Mei 2026 11:28 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Pencapaian seseorang dalam meraih kesuksesan memiliki jalan yang beragam. Ada yang mencapainya dengan cepat, ada pula yang harus melalui proses panjang yang penuh tantangan dan pengalaman hidup.

Hal tersebut disampaikan oleh Noorhalis Majid dan Arif Rahman Hakim dalam acara Ragam Budaya Bacangkurah, Jumat, 29 Mei 2026 di RRI Pro4 Banjarmasin. Keduanya membahas filosofi ungkapan masak dikarbit yang dikenal di masyarakat sebagai gambaran sesuatu yang dipercepat sebelum waktunya.

Noorhalis Majid yang juga seorang penulis mengungkapkan bahwa masyarakat mengenal istilah buah yang dikarbit, yakni buah yang dipaksa matang lebih cepat dari proses alaminya. Menurutnya, kondisi tersebut berbeda dengan keberhasilan yang diraih melalui perjalanan panjang dan berbagai tantangan kehidupan.

“Justru proses panjang itu memiliki nilai penting karena membentuk kesabaran dan kematangan karakter seseorang,” kata Noorhalis Majid. “Berbeda dengan buah yang masak dikarbit, matang secara paksa tanpa melalui proses yang semestinya.”

Ia menambahkan, dari kedua pengalaman tersebut terdapat pelajaran berharga bahwa setiap orang memiliki waktu dan jalan yang berbeda menuju keberhasilan. Karena itu, kualitas proses yang dijalani sering kali sama berharganya dengan hasil yang akhirnya dicapai.

“Dalam hidup ada yang berorientasi pada proses dan menikmati setiap tahapannya tanpa terlalu memikirkan hasil,” ujarnya. “Namun ada juga yang hanya berorientasi pada hasil hingga mengabaikan proses, bahkan menggunakan berbagai cara untuk mencapainya.”

Sementara itu, Arif Rahman Hakim menjelaskan bahwa istilah masak dikarbit berasal dari proses mempercepat pematangan buah menggunakan karbit. Dalam kehidupan sosial saat ini, istilah tersebut sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang dipaksakan menduduki jabatan meskipun pengalaman dan kemampuannya belum memadai.

Menurutnya, kondisi tersebut biasanya terjadi karena adanya kepentingan tertentu atau penyalahgunaan kewenangan. Jabatan dapat diberikan bukan berdasarkan kompetensi, melainkan karena kedekatan hubungan keluarga, pertemanan, maupun kepentingan politik.

“Ini soal proses yang dijalani seseorang, baik sebelum maupun sesudah menduduki suatu posisi,” ujar Arif Rahman Hakim. “Dampaknya akan dirasakan tidak hanya oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh lingkungan di sekitarnya.”

Ia menambahkan bahwa pembentukan seorang pemimpin membutuhkan waktu, pengalaman, serta proses pembelajaran yang berkelanjutan. Menurutnya, kematangan emosional dan kemampuan mengambil keputusan tidak lahir secara instan, melainkan terbentuk melalui berbagai tantangan dan tanggung jawab yang dihadapi sepanjang perjalanan hidup.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....