Mengenal Ragam Sub-Suku Jawa dan Wilayahnya
- 30 Mei 2026 08:52 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Suku Jawa terbagi ke dalam sejumlah klaster sub-suku yang memiliki kekhasan budaya, tradisi, dan dialek masing-masing. Hal tersebut dibahas oleh Trining Puji Astutik, S.Si., S.Pd., M.Pd., dan Rizal Dwi Prastyo, S.P., CCSME dalam program Ragam Budaya Sambung Roso RRI Pro4 Banjarmasin, Rabu, 27 Mei 2026.
Rizal menjelaskan bahwa salah satu klaster sub-suku Jawa adalah Wong Mataraman yang juga dikenal sebagai wilayah Negara Agung. Klaster ini mencakup wilayah Yogyakarta, Surakarta (Solo), Klaten, Wonogiri, Boyolali, Nganjuk, Pacitan, Ponorogo, Madiun, Kediri, Blitar, dan Magetan.
“Wilayah Mataraman meliputi bagian timur Jawa Tengah dan bagian barat Jawa Timur,” ujar Rizal. “Saya berasal dari Nganjuk yang dapat dikatakan sebagai daerah transisi antara Jawa Tengah dan Jawa Timur.”
Selain Wong Mataraman, terdapat klaster Wong Kulonan yang meliputi masyarakat Banyumasan dan Ngapak. Wilayah persebarannya mencakup Banyumas, Purwokerto, Cilacap, Kebumen, Tegal, dan Brebes.
Sementara itu, klaster Wong Arekan atau masyarakat Jawa Timuran tersebar di wilayah Surabaya, Malang, Pasuruan, Sidoarjo, dan Mojokerto. Menurut Trining, meskipun sama-sama berada di Jawa Timur, masyarakat Arekan dan Mataraman memiliki perbedaan dialek yang cukup mencolok.
“Daerah Mataraman dan Arekan meskipun sama-sama berada di Jawa Timur, bahasa Jawanya bisa berbeda,” kata Trining. “Di Pasuruan yang termasuk daerah Arekan sering menggunakan ungkapan ‘Iyo ta?’ atau di Malang ‘Iyo a?’. Sementara di Nganjuk yang merupakan wilayah Mataraman, biasanya menggunakan ‘Iya po?’.”
Selain itu, terdapat pula klaster Wong Pesisiran atau masyarakat Pantai Utara Jawa yang mencakup wilayah Semarang, Demak, Kudus, Pati, Pekalongan, dan Jepara.
Kedua narasumber juga menjelaskan adanya sejumlah sub-suku khas lainnya, seperti Suku Samin yang tersebar di Blora, Bojonegoro, dan Pati, Suku Tengger di kawasan Gunung Bromo, serta Suku Osing yang mendiami wilayah Banyuwangi.
Mereka menegaskan bahwa perbedaan bahasa, budaya, dan identitas sub-suku merupakan bagian dari kekayaan budaya bangsa yang harus dijaga bersama. Keragaman tersebut tidak boleh menjadi penghalang untuk saling menghormati, mendukung, dan memperkuat persatuan dalam kehidupan bermasyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....