“Kaya Wayang Kasurupan”, Sindiran Banjar bagi Orang Jumawa

  • 24 Mei 2026 05:35 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin — “Kaya Wayang Kasurupan”, paribahasa banjar ini mengingatkan masyarakat agar tidak jumawa hanya karena memiliki relasi dengan penguasa, pejabat, ataupun tokoh tertentu. Sikap sombong karena merasa dekat dengan orang berpengaruh menjadi sorotan dalam siaran Ragam Budaya “Bacangkurah” Pro 4 RRI Banjarmasin, Jumat (22/5/2026).

“Orang yang merasa hebat hanya karena dekat dengan penguasa atau orang berpengaruh, lalu berlaku sombong dan petantang-petenteng, itulah yang dipadahkan kaya wayang kasurupan,” ujar Noorhalis Majid.

Noorhalis menjelaskan bahwa wayang sejatinya hanyalah benda mati yang digerakkan dalang, sehingga mustahil bisa “kesurupan”. Karena itu, istilah tersebut dipakai masyarakat Banjar untuk menyindir orang yang bertingkah seolah memiliki kekuasaan, padahal hanya bergantung kepada orang lain.

Ia menambahkan, fenomena tersebut banyak ditemukan dalam kehidupan sosial. Mulai dari orang yang merasa kebal hukum karena mengenal pejabat, hingga mereka yang menjual nama tokoh tertentu demi mendapatkan pengaruh atau keuntungan pribadi.

Sementara itu, Arif Rahman Hakim menilai peribahasa tersebut masih sangat relevan dengan kondisi saat ini. Menurutnya, banyak orang merasa memiliki kekuatan hanya karena berada di lingkaran orang penting, padahal pengaruh tersebut bukan berasal dari dirinya sendiri.

“Kadang ada orang merasa hebat hanya karena punya kenalan pejabat atau orang berpengaruh. Padahal yang punya kekuasaan itu kawannya, bukan dirinya. Tapi perilakunya sudah seperti paling berkuasa,” katanya.

Arif juga menyebut fenomena itu kerap muncul dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan sosial dan birokrasi. Bahkan, tidak sedikit orang yang sengaja memperlihatkan kedekatan dengan tokoh tertentu agar dipandang lebih tinggi oleh masyarakat sekitar.

Peribahasa “Kaya Wayang Kasurupan” mengajarkan pentingnya bersikap rendah hati dan tidak membangun kesombongan di atas pengaruh milik orang lain. Untuk itu hendaknya dapat dipahami bahwa kehormatan sejati lahir dari sikap dan perilaku pribadi, bukan dari sekadar menumpang nama besar orang lain.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....