BRIN dan UPK Teliti Peran Perempuan Dayak Deah dalam Melestarikan Budaya

  • 18 Mei 2026 18:24 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Balangan - 4 orang tim peneliti dari Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) dan 1 orang dari Universitas PGRI Kalimantan (UPK) melaksanakan penelitian mengenai peran perempuan Dayak Deah dalam menjaga tradisi lisan dan pengetahuan lokal masyarakat adat di Desa Liyu, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan. Penelitian berlangsung pada 6 hingga 25 Mei 2026 melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam dengan masyarakat setempat.

Ketua tim peneliti, Erlinda Rosita mengatakan perempuan Dayak Deah memiliki posisi penting dalam pewarisan nilai budaya dan pengetahuan ekologis yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satunya Datu Ugit, perempuan penjaga tradisi Dayak Deah yang kini berusia 100 tahun dan Ibu Rise, tetua perempuan Dayak Deah di Desa Liyu. Menurutnya, aktivitas sehari-hari perempuan di ladang, rumah, hingga ruang adat menjadi bagian dari proses pelestarian tradisi lisan yang masih bertahan hingga kini.

“Pengetahuan lokal mereka diwariskan melalui cerita, petuah, nyanyian, hingga praktik keseharian. Ini menjadi kekayaan budaya yang perlu didokumentasikan dan dijaga bersama,” ujarnya.

Hasil penelitian menemukan bahwa perempuan Dayak Deah tidak hanya berperan dalam pengelolaan rumah tangga, tetapi juga aktif dalam kegiatan pertanian ladang, pengolahan hasil alam, hingga persiapan ritual adat. Dalam aktivitas tersebut, mereka menyimpan pengetahuan mengenai musim tanam, jenis tanah, hingga tata cara menjaga keseimbangan alam yang diperoleh secara lisan dari generasi sebelumnya.

Ibu Rise (baris kedua dari kanan) sebagai tetua perempuan Dayak Deah di Desa Liyu mengenalkan pantun kepada para peneliti., Senin 18 Mei 2026. (Foto: RRI/Novia Winda)

Peneliti Purwaningsih menilai hubungan perempuan Dayak Deah dengan lingkungan hidup masih sangat kuat dan menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat adat. Ia mengatakan pengetahuan tersebut lahir dari pengalaman panjang masyarakat dalam beradaptasi dengan alam.

“Perempuan menjadi salah satu penghubung utama antara tradisi, lingkungan, dan generasi muda. Pengetahuan yang mereka miliki bersifat praktis sekaligus kultural,” katanya.

Sementara itu, peneliti Wabilia Husnah menjelaskan perubahan sosial dan pemanfaatan lahan di sejumlah wilayah turut memengaruhi ruang pewarisan budaya masyarakat adat. Menurutnya, perubahan pola hidup masyarakat secara perlahan berdampak terhadap intensitas tradisi lisan yang sebelumnya banyak diwariskan melalui aktivitas di ladang dan lingkungan sekitar.

“Tradisi lisan hidup bersama ruang sosial masyarakatnya. Ketika pola aktivitas berubah, maka cara pewarisan pengetahuan juga ikut mengalami perubahan,” ucapnya.

Peneliti lainnya, Nia Kurnia menambahkan pentingnya upaya dokumentasi budaya lokal sebagai bagian dari pelestarian warisan tak benda masyarakat adat. Ia menilai dokumentasi tidak hanya penting untuk kepentingan akademik, tetapi juga sebagai bahan edukasi generasi muda di masa mendatang.

“Pengetahuan lokal seperti cerita rakyat, mantra, maupun petuah adat memiliki nilai historis dan edukatif yang penting bagi keberlanjutan budaya,” katanya.

Para Peneliti dari BRIN dan UPK Melakukan Observasi Terhadap Keseharian Perempuan Dayak Deah di Desa Liyu, Senin 18 Mei 2026. (Foto: RRI/Novia Winda)

Adapun Novia Winda, peneliti dari UPK berharap hasil penelitian ini dapat menjadi perhatian berbagai pihak dalam mendukung pelestarian budaya masyarakat adat di Kalimantan Selatan. Menurutnya, keberadaan tradisi lisan perlu dijaga melalui kolaborasi antara masyarakat, akademisi, dan pemerintah daerah.

“Pelestarian budaya lokal membutuhkan keterlibatan bersama agar nilai-nilai pengetahuan masyarakat adat tetap hidup dan dikenal generasi berikutnya,” ujarnya

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....