Tradisi Haji "Urang Banjar" Sarat Makna Budaya dan Religi

  • 18 Mei 2026 14:16 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Pelaksanaan ibadah haji bagi masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan spiritual, tetapi juga bagian dari identitas sosial dan budaya yang terus terjaga hingga saat ini. Tradisi tersebut menunjukkan kuatnya nilai religius dalam kehidupan masyarakat Banjar sejak dahulu.

Hal tersebut disampaikan oleh Faisal Embron dan M. Bulkani dalam acara Ragam Budaya Suluh Banua, Minggu, 17 Mei 2026 di RRI Pro4 Banjarmasin. Keduanya menilai ibadah haji juga menjadi simbol kehormatan dan pencapaian dalam kehidupan masyarakat Banjar.

“Bagi urang Banjar, naik haji bukan hanya memenuhi rukun Islam,” ujar Faisal Embron. “Tetapi juga simbol kehormatan dan pencapaian dalam hidup.”

Menurutnya, gelar haji di masyarakat Banjar memiliki posisi sosial yang sangat dihormati. Salah satu kearifan lokal yang menyertai pelaksanaan ibadah haji adalah tradisi sangu atau bekal, serta budaya babarasih yakni membersihkan lahir dan batin dalam kehidupan sehari-hari.

“Segala sesuatu yang tidak berfaedah, apalagi yang merugikan orang lain,” ucapnya. “Seharusnya sudah tidak dilakukan lagi.”

Sementara itu, M. Bulkani menjelaskan bahwa masyarakat Banjar memiliki berbagai kearifan lokal yang sarat makna dalam pelaksanaan ibadah haji. Selain persiapan bekal dan kebersihan lahir batin, terdapat pula tradisi memisah syahadat.

“Yang dimaksud memisah syahadat itu, orang yang ditinggalkan membaca syahadat pertama, sedangkan yang berangkat atau ‘tulak’ haji membaca syahadat kedua. Begitu pula saat kembali dari Tanah Suci, sebagai doa agar bertemu kembali dalam keadaan sehat dan selamat,” ujarnya.

Ia menambahkan, tidak hanya pada saat keberangkatan, kepulangan jemaah haji masyarakat Banjar juga diwarnai dengan berbagai tradisi yang khas dan sarat makna. Rangkaian penyambutan tersebut menjadi bagian dari ekspresi rasa syukur sekaligus penghormatan kepada jemaah yang baru kembali dari Tanah Suci.

Mereka biasanya disambut dengan lawang sekepeng, sementara di beberapa daerah lain di Kalimantan Selatan juga dikenal tradisi Kajang Laka yang bertuliskan “Selamat Datang dari Tanah Suci Makkah”. Prosesi tersebut turut dilengkapi dengan kembang serenteng serta air dalam wadah berisi bunga yang digunakan untuk mencuci kaki jemaah sebagai simbol penyucian diri.

Tahapan selanjutnya, Bulkani menjelaskan bahwa jemaah haji yang tiba akan melewati waton atau gapura dengan kain putih yang dibentangkan di bagian atas dan bawah. Setelah itu, jemaah menginjak uang logam sebagai simbol bahwa mencari rezeki tidak hanya untuk urusan dunia, tetapi juga sebagai bekal di akhirat, salah satunya melalui ibadah haji.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....