Tradisi Haji Urang Banjar Sarat Filosofi Religius
- 11 Mei 2026 11:08 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Bagi masyarakat Banjar, menunaikan ibadah haji bukan sekadar menjalankan rukun Islam kelima, melainkan pencapaian spiritual yang menyempurnakan kedudukan seseorang di tengah masyarakat. Hal itu terungkap dalam acara Ragam Budaya Suluh Banua di RRI Pro4 Banjarmasin, Minggu, 10 Mei 2026.
Hadir sebagai narasumber H. Muhammad Bulkini, Faisal Embron, dan Naily Khairina yang membahas kuatnya tradisi serta filosofi dalam keberangkatan maupun kepulangan jemaah haji asal Kalimantan Selatan. Berbagai ritual khas turut mewarnai tradisi Urang Banjar Naik Haji, mulai dari prosesi keberangkatan hingga penyambutan jemaah yang kembali ke tanah air.
Salah satu tradisi yang disoroti ialah rumah jemaah tidak boleh dibiarkan kosong selama ditinggal berhaji. Selain itu, terdapat ritual duduk di atas tumpukan kain sarung atau tapih berlapis sebelum keberangkatan.
Menurut Naily Khairina, posisi jemaah yang duduk di atas tapih harus segera digantikan anggota keluarga lain hingga para pengantar kembali ke rumah. Tradisi tersebut dipercaya sebagai simbol doa dan harapan keselamatan bagi jemaah selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Faisal Embron menambahkan, tumpukan kain yang biasanya terdiri dari tiga hingga empat lapis melambangkan tingkatan tasawuf, yakni syariat, hakikat, dan makrifat. Di daerah Astambul, terdapat pula tradisi “membagi” kalimat syahadat antara jemaah dan keluarga yang ditinggalkan sebagai simbol harapan untuk kembali dipersatukan dalam keadaan selamat.
Dalam kesempatan itu, H. Muhammad Bulkini yang merupakan penulis dan wartawan khusus religi menceritakan perbedaan mencolok antara pelaksanaan haji masa lalu dengan sekarang. Ia menyebut, pada 1964 biaya haji mencapai Rp400 ribu atau setara sekitar 200 gram emas pada masa tersebut.
“Dulu berangkat haji seperti berangkat mati karena perjalanan menggunakan kapal uap selama lebih dari enam bulan,” ujarnya. “Kondisi itu membuat ibadah haji menjadi perjalanan panjang yang penuh pengorbanan dan ketidakpastian.”
Karena kelangkaan dan besarnya pengorbanan tersebut, seorang haji sangat dimuliakan dalam kehidupan masyarakat Banjar. Bahkan, jemaah yang baru pulang sering menerima banyak tamu bersilaturahmi hingga sulit kembali beraktivitas normal sebelum Ramadan tiba.
Tradisi penyambutan jemaah haji Banjar juga sarat makna dan kemeriahan budaya. Prosesi itu diwarnai iringan Sinoman Hadrah hingga pemasangan “Lawang Sekepeng” atau Kajang Laka yang dihiasi kain putih dan kambang barenteng.
Salah satu prosesi paling bermakna ialah saat jemaah menginjak susunan uang logam sebelum memasuki rumah setelah kakinya dibasuh air kembang. Ritual tersebut mengandung filosofi bahwa harta bukan tujuan hidup, melainkan sarana untuk beribadah dan bekal menuju akhirat.
“Filosofinya, kami bekerja mencari uang bukan karena cinta dunia, melainkan sebagai sarana untuk ketaatan kepada Allah dan bekal menuju akhirat,” ujar Bulkini. “Nilai tersebut menjadi pengingat agar kehidupan dunia tetap diarahkan pada tujuan spiritual.”
Selama jemaah berada di Tanah Suci, keluarga di Banua juga rutin menggelar selamatan setiap malam Jumat. Pada hari Arafah, warga bahkan membuat cendol untuk dibagikan sambil memanjatkan doa agar jamaah terhindar dari panas terik di Arab Saudi.
Tradisi-tradisi tersebut menunjukkan bahwa bagi Urang Banjar, ibadah haji merupakan peristiwa budaya kolektif yang mempererat silaturahmi dan nilai religiusitas. Warisan itu tetap dipertahankan sebagai bagian penting dari identitas masyarakat Banjar hingga kini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....