Balamaran Masyarakat Banjar sebagai Simbol Keseriusan menuju Pernikahan

  • 10 Mei 2026 15:03 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin — Tradisi balamaran bukan sekadar proses melamar dalam budaya Banjar, tetapi juga menjadi penentu awal keharmonisan hubungan dua keluarga. Mulai dari besesuluh, pemilihan juru bicara hingga pembahasan jujuran, seluruh tahapan sarat dengan etika, kehati-hatian dan nilai kearifan lokal yang masih dijaga masyarakat Banjar hingga kini.

Dosen Fakultas Syariah UIN Antasari, Dra. Hj. Rusdiyah, M.H.I., mengatakan, balamaran merupakan tahapan penting sebelum akad nikah dalam masyarakat Banjar. Sebelum balamaran dilakukan, terdapat proses besesuluh atau mencari informasi mengenai calon mempelai perempuan, termasuk kesiapan keluarga menerima lamaran.

“Orang Banjar itu sangat menjaga tata krama dalam proses melamar. Karena itu biasanya dipilih orang yang pandai berbicara dan berwibawa untuk menyampaikan maksud keluarga laki-laki agar tidak terjadi kesalahpahaman,” ujarnya, dalam siaran Ragam Budaya “Ruhui Barakatan” kerja sama Pro 4 RRI Banjarmasin, Sabtu 9 Mei 2026.

Rusdiyah mengatakan, dalam tradisi Banjar juga dikenal istilah petalian atau tanda pengikat setelah lamaran diterima. Bentuknya bisa berupa cincin, mukena maupun perlengkapan lainnya sesuai kesepakatan kedua belah pihak.

"Selain itu, pembicaraan mengenai jujuran dan waktu pernikahan biasanya dilakukan dalam tahap balamaran," katanya.

Menurut Rusdiyah, tradisi tersebut tidak bertentangan dengan syariat Islam selama tetap menjaga adab dan tidak melanggar ketentuan agama. Dalam Islam, proses lamaran atau khitbah diperbolehkan sebagai bentuk keseriusan menuju pernikahan.

“Adat bisa menjadi hukum selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Jadi tradisi balamaran ini adalah bagian dari kearifan lokal yang baik untuk dipelihara,” ucapnya.

Sementara itu, Kania Arbella mahasiswa UIN menilai tradisi balamaran masyarakat Banjar memiliki kesamaan dengan budaya lamaran di Jawa, meski memiliki tahapan dan istilah yang berbeda. Proses tersebut penting untuk mengenal kecocokan calon pasangan dan keluarga masing-masing.

Kania menilai tradisi balamaran dalam masyarakat Banjar mengandung nilai penghormatan, kesopanan, dan keseriusan sebelum memasuki jenjang pernikahan. Menurutnya, setiap tahapan seperti besesuluh hingga balamaran menjadi cara masyarakat Banjar menjaga hubungan baik antar keluarga agar terhindar dari kesalahpahaman.

“Tradisi ini menurut ulun bagus karena mengajarkan tata krama dan komunikasi yang baik sebelum pernikahan,” ujarnya.

Sedangkan Rahmatul Magrifah mengatakan tradisi balamaran menunjukkan pentingnya menjaga komunikasi dan adab dalam membangun rumah tangga. Menurutnya, setiap daerah memiliki tata cara tersendiri selama tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Rahmatul Magrifah mengatakan adat balamaran juga menunjukkan bahwa budaya Banjar tetap berjalan selaras dengan nilai-nilai Islam. Ia menilai tradisi tersebut penting dikenalkan kepada generasi muda agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

“Selama adat itu tidak bertentangan dengan syariat, maka adat tersebut baik untuk dipertahankan sebagai warisan budaya urang Banjar,” katanya

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....