Makna Teh Lapas dan Wadai Karing dalam Budaya Banjar

  • 10 Apr 2026 10:27 WIB
  •  Banjarmasin
Poin Utama
  • Teh lapas berarti teh tanpa gula, wadai karing adalah kue kering khas suguhan Banjar
  • “Banyu bagula” melambangkan penghormatan melalui sajian manis kepada tamu
  • Esensi memuliakan tamu bukan pada suguhan, tetapi pada sikap dan penghormatan

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Dalam bahasa Banjar, istilah teh lapas merujuk pada teh tawar atau tanpa gula, sedangkan wadai karing berarti kue kering atau biskuit yang disajikan kepada tamu. Bagi sebagian orang, sajian ini kerap dianggap sederhana, bahkan dimaknai sebagai keterbatasan tuan rumah.

Hal tersebut disampaikan oleh Ustaz M. Taslimurrahman, Lc., M.Pd dalam acara Hikmah Subuh, Jumat, 10 April 2026 di RRI Pro4 Banjarmasin. Ia menjelaskan bahwa keberadaan gula dalam minuman merupakan bentuk kemewahan dan penghormatan bagi tamu, yang dikenal dengan istilah banyu bagula.

Namun demikian, sajian tanpa gula juga bisa mencerminkan kepedulian tuan rumah terhadap kondisi tamu, misalnya terkait kesehatan. Dalam beberapa pemaknaan, istilah teh lapas bahkan diplesetkan menjadi tapalas yang berarti “tidak ada”, sehingga menggambarkan ketiadaan sajian.

“Selain tehnya tawar, wadai atau kuenya juga ‘kakaringan’ yang bisa berarti memang tidak tersedia,” ujarnya. “Sehingga makna keseluruhannya adalah tidak ada sajian untuk tamu.”

Ia menambahkan, ungkapan teh lapas wan wadai karing erat kaitannya dengan nilai memuliakan tamu dalam ajaran Islam. Rasulullah Saw menganjurkan umatnya untuk memuliakan tamu, namun pelaksanaannya tetap disesuaikan dengan kemampuan serta kondisi tuan rumah.

“Memuliakan tamu bukan hal yang sederhana,” kata Ustaz Taslimurrahman. “Perlu kesiapan tuan rumah sekaligus pemahaman terhadap kondisi tamu, antara hak dan kewajiban keduanya.”

Ia menyebutkan, dalam beberapa kondisi, tamu yang datang hanya ingin bersilaturahmi sehingga tidak mempermasalahkan sajian yang diberikan oleh tuan rumah. Bagi tamu, hal tersebut dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan tidak menjadi persoalan.

Selain sajian teh lapas dan wadai karing, penyajian air putih juga dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang. Jika dilihat dari rasanya, air putih memang bukan termasuk banyu bagula.

Ustaz Taslimurrahman juga menjelaskan bahwa jika dilihat dari sisi kesehatan, air putih justru merupakan minuman yang paling dibutuhkan oleh tubuh. Meskipun minuman kemasan memiliki rasa yang beragam dan menarik, air putih tetap menjadi pilihan yang lebih penting bagi kesehatan.

Ia menegaskan bahwa memuliakan tamu tidak hanya sebatas pada suguhan yang disajikan. Hal yang lebih utama adalah bagaimana tuan rumah memahami situasi dan kondisi tamu tanpa mengurangi rasa hormat kepada mereka.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....